Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
END


__ADS_3

"Pa, bagus kan? Mama ngasih kita baju ini!" ujar Liam kepada Daris sambil menunjukkan baju yang dikirim mamanya dari luar negeri.


Iya, jadi Ambar kembali ke negara asal suaminya. Dia berkomitmen untuk saling menyayangi dan menjaga bersama suaminya. Tidak ingin ada kata perceraian lagi. Ingin hidup dengan bahagia.


Pelajaran hidup yang telah ia dapatkan begitu berharga. Beruntungnya Ambar bisa bertemu dengan Merry. Bisa mendapat pelajaran yang banyak darinya.


Terlebih anak-anak sudah bisa memaafkannya. Ini juga atas bantuan Merry. Ambar berjanji tidak ingin membuat masalah lagi. Ingin selalu baik-baik saja dengan anak-anaknya sampai akhir hayatnya nanti.


Kiriman baju dari Ambar membuat anak-anak bahagia. Terdengar sederhana memang. Namun, bukankah sebenarnya bahagia itu sederhana?


Daris tersenyum melihatnya. Daris mengangguk. "Jangan lupa setelah ini bergegas tidur. Sudah malam!" ucapnya.


Tidak ada yang lebih menyenangkan saat melihat anak-anak dan istrinya bahagia.


Daris hanya ingin fokus untuk keluarganya. Menjaga mereka dengan sebaik mungkin.


Setelahnya dia bergegas menuju ke kamar. Saat membuka pintu ia tak mendapati istrinya ada di situ. Namun, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Bibir Daris tersenyum. Ternyata istrinya sedang berada di kamar mandi.


Daris terus melangkah menuju nakas untuk meletakkan handphone nya.


Namun, mata Daris langsung melotot saat melihat tiga benda yang ditata dengan sejajar di atas nakas.


Dengan ragu Daris mengambil salah satunya. Ia juga langsung duduk di pinggiran ranjang.


Dadanya bergemuruh. Air matanya menggenang.


Ia mengamati benda itu dengan teliti.


Saat Merry keluar dari kamar mandi. Mata Daris langsung menyorot kepada istrinya.


"Sayang!" panggil Daris dengan pelan.


Merry melihatnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia berjalan dengan tenang mendekat kepada suaminya, lalu duduk di sampingnya.


"Besok temani aku ke rumah sakit untuk memastikannya ya, Mas!" ucap Merry.


"Jadi---," Daris tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Merry mengangguk. "Sepertinya keluarga kita akan ada member baru!" ucap Merry yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Daris tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu. Dia langsung memeluk Merry. Keduanya juga menitikkan air mata kebahagiaan.


Setelah puas memeluk dan mencium istrinya.


"Sayang, tapi maaf aku lalai juga. Tidak menyadari kalau kamu hamil!" Rasa bersalah kembali muncul di benak Daris mengingat kehamilan Merry yang pertama waktu itu.


Merry menangkup wajah suaminya. "Nggak papa Sayang. Lagi pula siklus menstruasi ku akhir-akhir ini memang berantakan. Untung saja aku menyadari ini."


"Sekarang yang paling penting, kita jaga anak ini dengan sebaik mungkin!'' lanjutnya.


Daris mengangguk dengan penuh semangat. Ia juga kembali memeluk istrinya.


Tiga testpack menunjukkan garis dua. Hanya saja testpack yang pertama garisnya sedikit buram, yang kedua semakin terlihat jelas, dan yang terakhir yang saat ini berada di tangan Daris adalah yang paling jelas garisnya.


*****


Satu tahun kemudian.


"Selamat pagi Bunda!" ucap Daris dari belakang saat Merry sedang memasak di dapur.


Merry menoleh kepada suaminya. Bibirnya langsung tersenyum lebar. Rupanya suaminya sedang bersama si kecil Hasya yang saat ini berusia tiga bulan.


Ingin sekali Merry menyentuh Hasya, tapi tangannya kotor.


Hasya si gadis kecil yang ceria tersenyum melihat bundanya.


Gadis kecil ditakdirkan memiliki tiga kakak laki-laki yang teramat posesif kepadanya. Ditambah papanya yang juga posesif. Entah di masa depan seperti apa sulitnya laki-laki yang akan mendekati dirinya.

__ADS_1


"Bunda masak dulu ya Dek!" ucap Merry kepada Hasya. Anak bayi itu seolah-olah mengerti ucapan bundanya dan ia tersenyum dengan sangat manis.


Wajahnya sangat mirip Daris. Merry begitu heran keempat anak Daris bisa mirip dengannya. Tapi ya sudahlah, itu bagus, Daris kan memang bapaknya.


"Bunda, Dede Hasya mana?" Terdengar suara teriakan Liam. Nampak dia sedang berjalan menuju dapur.


Daris dan Merry bersamaan melihat ketiga putranya yang sudah tiba di dapur. Ternyata bertiga, bukan hanya Liam saja.


Luham cemberut. " Ternyata Dede Hasya diculik sama Papa!"


"Kita kan mau main sama Dede Hasya!" sambung Emir.


Daris dan Merry terkekeh. Kan sudah dibilang Hasya mempunyai tiga kakak laki-laki yang begitu menyayangi dan posesif padanya.


Sekarang di keluarga, Merry bukanlah satu-satunya yang menjadi korban ke posesif an mereka. Sekarang anak Hasya juga. Si kecil Hasya yang ceria dan beruntung karena punya keluarga yang begitu hangat dan menyayanginya.


TAMAT.


 


Author mau ngucapin terima kasih banyak untuk kalian yang setia membaca karya Author dari awal sampai akhirnya tamat.


Author sangat tidak menyangka jika kalian mau membaca cerita ini.


Author juga tidak percaya bisa menyelesaikan cerita ini walaupun banyak sekali kendala dalam menulis cerita ini.


Sekali lagi Author mau ngucapin terima kasih banyak untuk kalian semua❤️


Author minta maaf karena cerita ini masih banyak kekurangan. Author juga berharap semoga ada setitik manfaat yang bisa kalian dapatkan.


Semoga dalam berkarya kedepannya, Author bisa lebih baik dari saat ini.


Jangan lupa nantikan karya-karya Author selanjutnya yaa🤗


Tanpa kalian, Author bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


Peluk jauh untuk kalian semua🤗🤗


Love you all❤️❤️


__ADS_2