
Sore hari di kantor Daris.
"Gilak sih tuh perempuan!" Al masih dalam mode terkejut yang berkelanjutan.
Terkejutnya bersambung karena Al harus fokus meeting bersama klien dari Jepang tadi. Jadilah sekarang dia sibuk memulai menggosip tentang Merry.
Daris yang duduk di kursi kebesarannya memutar-mutar bolpoin yang dipegang. Daris juga terlihat memikirkan sesuatu. Mikir apa sih? Kepikiran Merry yang ternyata keren banget pas jadi bodyguard ya? Nyesel ya nggak jadi nikah sama Merry?
"Bisa juga digebet tuh perempuan!" Dengan pedenya Al berbicara demikian di depan Daris. Sedangkan Daris langsung melotot pada Al.
"Kenapa? Nggak jadi nikah sama Bapak kan? Bebas dong berarti!" Sungguh beraninya Al berucap demikian.
Daris mendengus sebal. Tapi, benar juga apa kata Al, Merry bebas menikah dengan pria lain. Ah, Daris jadi pusing.
"Nggak kebayang gimana kalau tiap hari serumah sama Merry, wow pasti PANAS!" Ucap Al yang semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya Daris membungkam mulut Al dengan uang, eh enggak bercanda kok! Keenakan dong Al kalau dibungkam pakai uang.
"Beneran rela nggak jadi sama Merry?" tanya Al dengan tengil.
"Kalau enggak, serius nih Pak gue gebet! Lumayan banget gue bisa iparan sama Pak Amar waw!" lanjut Amar sambil membayangkan betapa bangganya bisa jadi menantu keluarga Syah.
"Mau Lo kemanain wanita-wanita Lo! Emang Lo pikir Merry mau jadi salah satu wanita Lo Al?" Daris mengejek Amar seolah-olah mengingatkan tabiat Al yang seorang playboy cap kandang.
"Itu bisa diatur!" jawab Al dengan gampang. Daris tersenyum meremehkan. Dasar tuh orang kalau belum merasakan yang namanya kehilangan nggak akan pernah taubat.
*****
Tiga hari telah berlalu, sejak pertemuan di bandara pun tak menghasilkan perubahan apa-apa dalam hubungan mereka. Mereka seolah-olah seperti orang asing yang jangankan saling merindu, untuk saling mengingat saja tidak.
Tapi bohong jika Daris tak mengingat Merry sama sekali. Sesekali pasti ia mengingat, tapi sebisa mungkin ia menyibukkan diri agar melupakan Merry. Bagi Daris melupakan Merry tak sesulit melupakan mantan istrinya karena menurut Daris ia belum mencintai Merry.
Sedangkan Merry, bisa dibilang wanita itu satu langkah lebih maju dibanding Daris dalam perihal melupakan. Kehilangan keluarga Daris bukan hal yang besar bagi Merry. Bukankah Merry sering kehilangan orang tersayang dan terpenting dalam hidupnya? Merry sadar apa yang datang pasti akan pergi. Entah itu pergi karena ajal yang menjemput atau pergi karena memang keadaannya yang mengharuskan orang tersebut pergi. Merry tak meratapi nasibnya berlebihan. Justru Merry berterimakasih dengan kehadiran mereka yang hanya sebentar memberikan pelajaran yang banyak bagi Merry.
Merry menyibukkan diri hari ini untuk menyortir pakaian yang sudah tak muat atau Merry merasa sudah jarang bahkan tak pernah memakainya lagi. Nantinya, pakaian-pakaian yang sudah tak ia pakai akan disalurkan kepada orang yang membutuhkan, dengan kunci pakaian itu layak pakai. Bagi Merry, terlalu banyak pakaian membuatnya pusing. Lebih baik ia menyimpan pakaian yang memang benar-benar ia gunakan, jadi almarinya bisa longgar.
"Gilak sih, banyak banget pakaian gue!" Merry tercengang melihat pakaian yang tak terpakai dalam jumlah yang banyak. Ya gini nih kalau sukanya membeli terus tanpa memikirkan bagaimana langkah selanjutnya mengatasi jumlah pakaian yang semakin banyak. Yang ada almarinya tiba-tiba penuh dengan pakaian dan mirisnya pakaian itu banyak yang tak terpakai. Kan jadi mubadzir!
Bukan hanya pakaian, Merry juga menyortir semua benda-benda yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Yang membuat Merry pusing adalah tas yang gayanya wanita banget. Jujur tas-tas itu tak terpakai dan jumlahnya banyak. Tas-tas itu pemberian Mommy Tyas. Merry jadi bingung harus bagaimana mengatasi tas-tas branded dengan gaya cewek banget itu. Jujur Merry tidak menyukai tas dengan gaya wanita banget. Merry suka tas yang gayanya netral dan simple, dipakai cowok bisa cewek pun bisa. Namun, Merry akan tetap menyimpan tas-tas tersebut karena bagaimanapun ini pemberian Mommy Tyas.
Kepalanya semakin pusing saat melihat saat melihat almari gantung yang berisi gaun-gaun. Ya Tuhan, ini jumlah gaunnya banyak banget. Mau diapakan dan dikemanakan gaun-gaun ini? Sepertinya untuk masalah gaun Merry akan menanyakan terlebih dahulu pada Mommy Tyas.
Merry memasukkan pakaian yang tak terpakai ke dalam box storage plastik yang berukuran besar.
"Yok, waktunya kamu jadi barang-barang yang bermanfaat!" seru Merry setelah menutup box storage plastik nya.
Tok Tok Tok
"Non, Non Merry!" panggil Mbok Nah dari luar kamar Merry.
"Masuk aja Mbok, nggak dikunci kok!" jawab Merry dari dalam kamarnya.
Ceklek
Mbok Nah masuk ke kamar Merry.
Merry menoleh ke arah Mbok Nah yang datang dengan membawa sepucuk surat di tangannya.
Merry mengerutkan dahinya, siapa kira-kira yang mengirim surat padanya, tumben!
Merry menerima surat itu, lalu membaca tulisan yang ada di amplop suratnya.
"Dari Luham untuk Auntie Merry"
Deg, hati Merry mencelos. Ada apa Luham mengirimkan surat padanya?
Merry bengong sembari melihat surat itu.
"Ya udah Mbok pamit ke luar dulu ya Non, kalau ada perlu apa-apa bisa manggil Mbok!" Merry kembali dalam mode sadar saat mendengar Mbok Nah yang pamit ke luar. Merry mengangguk dan tersenyum.
InsyaAllah kalau Merry bisa menghandle sendiri keperluannya pribadinya pasti Merry menghendlenya sendiri. Merry kan masih muda, masa kalah sama yang udah berumur seperti Mbok Nah? Hihi malu dong! Punya asisten rumah tangga bukan berarti kita bisa bermanja-manja dan tak melakukan apapun.
Merry mengambil posisi duduk di sofa kamarnya. Merry membolak-balikkan surat itu. Hatinya ragu ingin membuka surat tersebut atau tidak.
Luham, apa kabar kamu? Bagaimana juga kabar Emir? Liam juga, apa anak itu sudah tak sakit hati lagi sekarang?
__ADS_1
Merry memutuskan untuk membuka surat tersebut.
Assalamualaikum Auntie Merry
Auntie apa kabar?
Kenapa Auntie tidak ke sini lagi? Apa Auntie nggak pengen jalan-jalan ke kebun binatang lagi sama Papa, Luham, Liam, dan Emir?
Merry menahan nafasnya saat membaca. Hatinya bagai ditusuk ribuan pedang, sakit dan perih. Sejenak ia mengehentikan membacanya. Merry membuang nafasnya perlahan, ia harus menguatkan hati pasti semakin ke belakang isi suratnya akan semakin menyesakkan dadanya.
Auntie, maafin Liam yang udah nggak ngebolehin Auntie ke rumah Luham lagi ya!
Merry tersenyum membaca surat itu, tapi hantinya sangat perih dan sesak. Cara menulis surat pun cenderung to the point, Merry sangat mengapresiasi keberanian Luham untuk menulis surat ini.
Liam nggak nakal kok sebenarnya Auntie! Maafin Liam ya Auntie! Auntie boleh kok ke rumah kita lagi! Auntie jangan sedih!!
Hati Merry semakin tercabik-cabik, matanya berkaca-kaca.
Justru Auntie yang menyakiti hati kalian! Kalian lah yang sedih! Maaf ya sayang! batin Merry.
Auntie, Emir suka nangis nyariin Auntie! Tiap malam nangis terus, Papa suka gendong Emir terus biar nggak nangis! Luham kasihan sama Emir dan Papa.
Emir nggak mau makan Auntie! Papa suka bohongin Emir kalau udah makan Bunda ke sini, biar Emir mau makan!
Oh iya, Luham juga sering lihat Papa diam teruus, Papa bengong! Tapi janji ya Auntie jangan diaduin ke Papa kalau Luham ngomong gini ke Auntie.
Di tengah-tengah air mata Merry yang menetes, Merry dibuat tertawa kecil dengan tulisan Luham yang jangan diaduin ke Papa. Ternyata anak itu takut ya.
-----------------------
Wah wah, gimana ya kira-kira lanjutan surat dari Luham??🤭
Maaf ya Author nggak bisa update teratur, Author update sesempatnya😬 Tapi Author akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian🖤
Makasih ya udah selalu dukung Author, nggak bisa berkata-kata lagi deh pokoknya🖤🖤
Luv Luv deh buat kalian🖤🖤
__ADS_1