Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Isi Hati Amar


__ADS_3

"Sayang, ini Mommy Nak!" ucap Mommy Tyas dengan pelan sembari menyentuh tangan kanan Merry.


"Maaf ya, Mommy nggak sebisa secepatnya menemani kamu!" sambungnya.


Mommy Tyas mengernyitkan dahi. Dia teringat penyebab anaknya menjadi seperti ini.


Mommy Tyas belum begitu paham betul bagaimana hal ini bisa terjadi. Mommy Tyas hanya tahu ini berhubungan dengan mantan istri Daris.


Saat menerima informasi ini, pikiran Mommy Tyas hanya tertuju bagaimana keadaan Merry dan berharap Merry baik-baik saja.


Mommy Tyas tidak begitu mencerna sebabnya. Amar lah orang yang mencerna sebab Merry seperti ini dengan baik.


Setelah ini Mommy Tyas harus bertanya dengan detail bagaimana permasalahan ini bisa terjadi.


Mommy Tyas harus bertanya kepada Daris. Mommy Tyas ingin mendengar semua awal cerita ini dari mulut Daris.


Mommy Tyas hanya tidak ingin hal seperti ini terulang kembali. Dan hal seperti ini harus diselesaikan dengan baik. Supaya selanjutnya tidak ada korban selanjutnya.


Mommy Tyas langsung tertunduk lesu mengingat kata korban. Sekarang cucunya sudah ada di surga.


Tapi ini sudah takdir. Mau tidak mau ya harus ikhlas. Walaupun untuk sampai kepada kata ikhlas juga butuh usaha.


"Mommy tahu kamu sedih. Kami di sini juga sedih. Semuanya sedih. Semuanya merasa kehilangan. Tapi Merry harus ikhlas ya!" ucap Mommy Tyas perlahan.


"Kamu nggak capek merem terus? Nggak pengen cerita ke Mommy?" tanya Mommy Tyas.


"Kalau mau menceritakan semua kesedihan dan keluh kesah kamu. Ingat, ada Mommy. Mommy di sini siap mendengarkan semuanya!" lanjutnya.


Mommy Tyas jadi teringat dulu sebelum Merry menikah, dia sering sekali menghabiskan waktu bersama Merry untuk bercerita apapun.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Mommy akan berjaga di sini. Nanti kalau butuh apa-apa kamu tinggal ngomong sama Mommy ya!"


Mommy Tyas tersenyum. Lalu berjalan berpindah ke sofa. Biarkan Merry melakukan apa yang dia inginkan. Kesedihan di hatinya begitu mendalam. Ia masih tidak ingin diganggu. Mommy Tyas akan memberikan waktu kepada Merry.


Amar masuk ke dalam ruang pasien dengan kemeja yang berantakan dan wajah yang lesu.

__ADS_1


Mommy Tyas mengernyitkan dahi.


"Kenapa berantakan banget?" tanya Mommy Tyas.


Mengingatkan Mommy Tyas saat Amar duduk di bangku SMP setelah pulang sekolah seragamnya selalu lecet dan bau karena dia bermain sepak bola di sekolah.


Amar tak menjawab apapun dan langsung duduk di sampingnya Mommy nya.


"Hei, kenapa? Kenapa berantakan? Kenapa wajahnya ditekuk gitu?" Tanya Mommy Tyas sambil menghadap Amar.


"Adikmu mana, Daris mana? Kok kalian nggak bareng ke sini nya?"


"Nggak usah tanya Daris lah Mom. Dia itu suami yang nggak becus!" Amar memang blak-blak an di depan Mommy nya.


"Lihat Merry, dia jadi lemah kayak gitu. Kenapa sih dulu Mommy merestui Daris nikah sama Merry?" Wajah Amar sangat kesal.


Mommy Tyas menggeleng-geleng. Dia menyentuh pundak Amar.


"Daris itu manusia biasa. Tidak pernah luput dari kesalahan. Mommy yakin sebenarnya dia juga sudah berusaha menjaga Merry!" jawab Mommy Tyas.


"Iya Mommy ngerti. Tapi kita nggak tahu gimana rasanya ada di posisi Daris. Kesulitan apa yang dia alami saat menghadapi itu!" jawab Mommy Tyas.


"Kok Mommy terus ngebela Daris sih? Mommy rela ngebela Daris, terus tega gitu lihat anak Mommy, Merry jadi sakit gitu?" ujar Amar tidak terima.


Amar heran kenapa Mommy nya terus membela Daris. Apa Mommy nya tidak melihat Merry yang kasihan seperti itu?


"Amar nggak terima Merry luka kayak gitu! Selama ini Amar selalu berusaha agar Merry bahagia! Amar nggak mau ada orang yang melukai Merry, Mom! Amar nggak terima suami Merry nggak becus menjaga dia!" Tiba-tiba mata Amar memerah. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menangis.


"Amar cuma mau Merry bahagia. Bahkan Mommy ngerti sendiri, Amar rela sakit hati melihat Merry menikah dengan pria lain. Amar nggak papa. Amar rela walaupun sakit hati asalkan Merry bahagia. Tapi Amar cuma mau siapapun yang menjadi suami Merry, tolong jaga dia dan bahagiakan dia!" Air mata Amar jatuh.


Mommy Tyas mengelus pundak putranya. Kasihan sebetulnya putranya ini. Dia sangat sakit hati karena Merry menikah dengan pria lain.


Mommy Tyas juga merasa bersalah kepada putranya karena dia lebih memilih menjaga perasaan Merry.


Mommy Tyas tidak ada niatan menjodohkan Amar dengan Merry karena Mommy Tyas sudah menerima kenyataan jika Merry menganggap Amar seperti kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Mommy Tyas tidak ingin Merry sakit hati, marah, lalu meninggalkannya. Mommy Tyas tidak mau. Dia sangat menyayangi Merry.


Namun, kasihan juga Amar. Ini sulit bagi Mommy Tyas. Membiarkan Merry bahagia dengan pria lain berarti membiarkan Amar terluka dengan begitu dalam juga.


Jika membiarkan Amar bahagia dengan menikah dengan Merry, Mommy Tyas takut Merry marah, tidak terima, lalu pergi.


Ya, walaupun pada akhirnya Amar lah yang tersakiti.


Mommy Tyas berharap mereka berdua akan bahagia dengan pasangannya masing-masing.


Mommy Tyas memeluk Amar. Memeluknya dengan erat. Setelah Merry menikah, Amar menjadi gila kerja. Chan juga sedikit terabaikan. Mungkin dia seperti ini untuk mengalihkan rasa sakitnya.


Dia menjadi sangat sibuk agar tak ada waktu untuk memikirkan Merry.


"Mommy tidak membela siapa-siapa Nak. Mommy hanya ingin semuanya baik-baik saja. Mommy tidak ingin hubungan di antara Merry dan Daris menjadi renggang dan panas karena Mommy terlalu menyalahkan Daris. Mommy juga tidak ingin hubungan di antara kita dan Daris menjadi tidak baik. Daris ini suami Merry Nak. Mereka juga punya tiga anak. Mommy ingin semua diselesaikan dengan baik. Maafkan Mommy ya!"


Mommy Tyas juga menangis. Walaupun Amar tidak terlahir dari rahimnya, tapi Mommy Tyas juga menyayangi Amar.


"Kalian habis bertengkar ya?" tanya Mommy Tyas.


Amar mengangguk sambil menghapus air matanya.


"Amar hanya ingin memberi pelajaran kepada Daris!"


Amar juga mengerti permasalahan tentang Mutiara dulu. Amar selalu tahu tentang hal yang menyangkut kebahagiaan dan kesedihan Merry.


Sebenarnya Amar ingin memberi pelajaran kepada Daris sejak dulu, hanya saja mereka tidak pernah bertemu.


Amar tahu tidak seharusnya dia berlebihan. Tapi dia tidak rela Merry disakiti oleh siapapun. Dan bagi Amar, apapun akan dilakukan demi Merry.


Amar begitu menyayangi dan tulus kepada Merry. Bahkan Amar juga tidak mengerti apakah Daris juga setulus ini kepada Merry. Semoga iya, jika tidak, Amar tidak terima Daris tidak menyayangi Merry dengan tulus.


Amar melihat Merry yang sedang terbaring lemas di atas ranjang. Ingin rasanya dia memeluk Merry.


Ingin semuanya seperti dulu lagi. Hanya ada Amar dan Merry. Tidak ada Daris atau yang lainnya. Walaupun sayangnya, hal itu tidak bisa terjadi lagi.

__ADS_1


__ADS_2