Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Liam Sakit


__ADS_3

Sekarang anak-anak sudah mau tidur tanpa Merry. Sehingga Merry bisa bebas tidur berdua dengan Daris. Ya, walaupun terkadang Liam juga ingin tidur bersama Bunda dan Papanya.


Saat malam hari, saat anak-anak sudah masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Merry dan Daris, tiba-tiba kamar Merry dan Daris digedor dengan kuat dari luar.


"Bunda, Papa!" teriak Luham dari luar.


Merry dan Daris yang kebetulan belum tidur dan masih berbincang-bincang langsung membuka pintu saat mendengar suara gedoran pintu yang ternyata itu Luham.


"Ada apa Kak?" tanya Merry. Tidak biasanya Luham begini.


"Liam badannya panas!" jawab Luham dengan panik.


Tak menunggu waktu lama, Merry langsung berlari menuju kamar anak-anak. Saat sampai di sana, Merry langsung mendekat kepada Liam dan mengecek suhu Liam.


"Mas ambil obat!" perintah Merry kepada Daris. Untungnya, di rumah selalu sedia obat penurun panas atau yang lainnya.


Setelah Daris membawa obat yang berbentuk sirup, Merry segera meminumkan obat itu kepada Liam. "Minum obat dulu ya Sayang!" ucap Merry.


Setelah selesai meminumkan obat kepada Liam, Merry tidur sambil memeluk Liam. Sedangkan Daris duduk di sampingnya sambil mengusap lembut kepala Liam.


"Kak Luham bobok sama Adek Emir ya ranjang sebelah!" pinta Merry kepada Luham. Dengan patuh Luham bersiap tidur seranjang dengan Emir.


"Mama Mama!" Liam bergumam sambil matanya tetap terpejam.


Merry dan Daris saling berpandangan sebelum akhirnya Daris berkata, "Dia sampai sakit kepikiran Mamanya yang batal ke sini!"


"Bukan batal, tapi hanya menunda untuk beberapa saat!" protes Merry.


"Bunda disini Sayang. Mana yang sakit Sayang?" tanya Merry sambil mengelus pipi Liam.


"Mama," gumam Liam lagi.


"Iya, Mama secepatnya datang. Sekarang Liam bobok dulu ya. Ada Bunda dan Papa disini!" ucap Merry.


Tanpa bergumam lagi, dengan erat Liam memeluk Merry mencoba mencari kehangatan dari Bundanya. Merry juga terus mengusap-usap lembut kepala Liam.


"Mas tidur aja nggak papa, biar aku yang jagain Liam. Besok Mas juga harus berangkat ke luar kota!" ucap Merry.


Daris menghela nafas, anaknya sedang sakit tapi mau tidak mau besok dia harus ke luar kota karena urusan pekerjaan. Berat rasanya meninggalkan Liam dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


"Mas tenang aja, anak-anak akan baik-baik saja sama aku. Mas percaya kan sama aku?" tanya Merry yang seperti mengerti isi hati Daris.


Daris tersenyum sambil mengangguk, "Aku percaya. Hanya saja pasti cemas meninggalkan anak dengan keadaan sakit begitu!"


"Andai saja keberadaanku disana bisa digantikan Al, pasti aku nggak berangkat Sayang. Tapi ini urgent dan aku harus ikut!" Daris kesal dengan keadaan seperti ini.


"Udah Mas, nggak papa. Aku akan menjaga anak-anak. Kamu selesaikan apa yang harusnya kamu selesaikan!"


"Sekarang Mas tidur di kamar sana. Kalau mau tidur di sini nggak cukup. Ranjang Liam udah penuh sama Luham. Terus di sini udah penuh aku sama Liam. Nanti kalau kamu mau tidur di lantai, takutnya besok pagi pas bangun kamu pegel-pegel dan masuk angin. Padahal kamu harus berangkat ke luar kota. Udah sana tidur di kamar aja. Jangan khawatir nanti kalau ada apa-apa aku langsung teriak deh!"


"Enggak, aku tidur di sini aja!" Daris mengambil selimut tebal dari almari anak-anak.


"Dingin Mas. Oh, atau Mas geser aja anak-anak biar muat ranjangnya Emir. Mereka kan kecil-kecil, kalau agak mepetan kayaknya muat deh!" ucap Merry.


"Sepertinya iya. Aku coba dulu ya!" Daris perlahan menggeser tubuh Emir agar lebih mepet dinding dan menggeser tubuh Luham agar lebih mepet Emir.


"Papa mau tidur sini?" tanya Luham yang belum benar-benar tertidur.


"Hust, iya Kak. Agak geseran ya biar muat sama Papa juga!" jawab Daris pelan agar Emir tidak terbangun.


"Iya Pa," ucap Luham pelan juga. Jujur Luham senang mereka bisa tidur dalam satu ruangan bersama seperti ini.


Liam tetap saja memeluk Merry dengan erat. Merry kasihan dan cemas melihat Luham seperti ini. Tapi di sisi lain ia juga bahagia bisa di peluk erat seperti ini oleh Liam. Walaupun itu di alam bawah sadar Liam.


Dulu saat Emir dan Luham sakit, Merry dan Daris belum menikah. Tidak disangka saat Liam sakit, Merry sudah resmi menjadi Bundanya dan Merry juga bisa leluasa dalam merawat Liam.


Merry mengecup pipi Liam dengan perlahan. Anaknya yang paling cuek dan tidak peduli dengannya kini sedang lemah. Mungkin merawat Liam akan membutuhkan kesabaran yang ekstra karena sikap Liam selama ini padanya. Namun, tenang saja Merry akan berusaha sabar dan akan selalu sabar.


****


Saat adzan subuh berkumandang, Merry terbangun dari tidurnya. Tidak disangka Merry tertidur selama satu jam. Saat Merry mengerjapkan mata, ternyata ada dua mata yang mengawasi Merry. Dia adalah Liam yang masih tetap setia memeluk Merry.


"Kakak udah bangun?" tanya Merry sembari tersenyum. Merry juga langsung mengecek suhu tubuh Liam. Syukurlah sudah membaik dibandingkan semalam.


Liam mengangguk, lalu kembali memeluk dan menyelundupkan kepalanya di pelukan Bundanya. Merry tersenyum melihat anaknya yang sangat manja saat sedang sakit. Namun, lengan kiri Merrry terasa kebas karena semalaman digunakan sebagai bantalan oleh Liam.


Merry mengecup lama kening Liam. "Bunda mau bangunin Papa, Luham, dan Emir dulu ya. Setelah ini Kakak boleh peluk Bunda lagi." ucap Merry pelan.


Dia juga harus menyiapkan sarapan, mengurus keperluan Luham dan Emir untuk sekolah, mengantarkan mereka, dan menyiapkan Daris yang akan berangkat ke luar kota. Jika dibayangkan semuanya terasa berat, bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini semua dalam waktu yang mepet. Tapi tenang saja, Merry yakin dia pasti bisa.

__ADS_1


Dengam berat hati Liam melepas pelukannya dari Merry. "Sebentar saja!" ucap Merry meyakinkan Liam.


Merry turun dari ranjang, lalu mulai membangunkan Daris, Luham, dan Emir. Setelah Daris bangun, rupanya Sang Bapak peka akan keribetan yang akan dialami istrinya setelah ini.


"Biar aku aja yang buat sarapan. Nanti aku berangkat kan jam setengah delapan, jadi masih bisa mengantar Luham dan Emir sekolah. Terus yang menunggu Emir di sekolah nanti biar aku minta bantuan Raya. Biar nanti dia sekalian bantu kamu disini. Toh Raya masih free karena kuliahnya belum mulai!" ucap Daris.


"Tapi kan Raya jauh Mas!" protes Merry.


"Nggak papa, pasti Raya juga seneng disuruh bantuin gini. Lagian nggak jauh-jauh juga kan!" sahut Daris.


Merry tersenyum, "Makasih Mas. Kamu baik banget sih!"


Ternyata Luham juga bersemangat untuk membantu Bunda dan Papanya. Dia dengan senang hati membantu keperluan Emir sekolah. Luham juga membantu Emir untuk mandi.


Subuh yang telah berganti menjadi pagi ini sangat menyenangkan walaupun Liam sedang sakit. Semua yang ada di rumah sangat kompak dan produktif. Liam juga keadaannya membaik walaupun sekarang berubah sangat manja.


Saat sedang sarapan bersama, Merry dengan telaten menyuapi Liam. Sedangkan Emir yang biasanya manja minta suapin Bundanya dengan senang hati mengalah kepada kakaknya.


"Anak-anak Bunda harus makan yang banyak ya biar sehat dan kuat!" ucap Merry kepada semua anaknya.


"Emil udah makan banyak Bunda. Banyak sekali!" ucap anak kecil dengan gemas.


"Good. Anak Bunda emang pinter banget!"


Setelah sarapan selesai, Merry mengantarkan Daris yang bersiap untuk berangkat ke luar kota sekaligus mampir mengantarkan anak-anak ke sekolah. Al juga telah bersiap di bawah apartemen untuk menunggu Daris.


"Mas hati-hati ya. Jaga kesehatan dan jaga diri. Jangan terlalu memforsir tenaga juga. Kalau capek ya istirahat, jangan dipaksakan!" ucap Merry sambil membenarkan dasi suaminya.


"Aku juga pasti jaga mata dan hati untuk kamu juga!" jawab Daris.


"Aku percaya kok. Aku percaya sama kamu!" ucap Merry sambil tersenyum menatap suaminya.


"Sayang, aku minta maaf ya udah buat kamu repot gini. Maaf selama ini aku egois menyuruh kamu mengurus rumah, mengurus aku, dan tiga anak secara pribadi. Aku akan segera mencari orang yang bisa membantu kamu untuk membantu bersih-bersih rumah!" Daris merasa bersalah kepada Merry.


"Nggak usah nyari Mas. Gimana kalau kita pulang ke rumah Mas yang lama aja? Disana ada Raya dan Bibi juga yang membantu. Disana enak juga, anak-anak bisa bermain dengan leluasa!" usul Merry.


"Kamu benar Sayang, nanti biar aku pikirkan ya. Nanti kita bicarakan lagi saat aku pulang dari luar kota!" ucap Daris.


"Iya, aku tunggu kamu pulang. Hanya dua hari kan? Itu tidak lama!" jawab Merry sembari terus tersenyum kepada suaminya.

__ADS_1


"Jaga diri baik-baik ya!" ucap Daris.


"Pasti, Mas juga ya!" jawab Merry.


__ADS_2