Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Merry POV


__ADS_3

Merry POV


Gue lihat semua foto-foto gue sama Emir di handphone. Hufh, banyak banget fotonya sampai-sampai hampir memenuhi memori internal handphone gue, hehehe ga deng cuma bercanda, handphone gue besar kok memori internalnya.


Polos banget ya tuh bocah, lucu juga, tadi mau diajakin pulang sama papanya nggak mau. Udah betah sih sama gue! Nggak tau kena pelet gue yang mana tiba-tiba nemplok gitu aja wkwk.


Tapi menurut gue yang lebih lucu lagi bapaknya! Eh, jangan salah paham!! Maksudnya yang lucu tuh tadi pas makan malam terus si bocah manggil gue bunda wkwk, si bapak terkejut dong.


"Bunda?" Gue masih ingat betul sama pertanyaan Pak Daris dengan wajah ling lung yang bikin gue pengen nonjok mukanya. Semoga aja tuh bapak nggak ke baperan gara-gara anaknya manggil gue bunda.


Gue melangkah menuju balkon kamar.


Anginnya semilir dingin, maklum lah angin malam, tapi gue suka kok. Walaupun katanya angin malam nggak sehat buat tubuh, tapi syukur gue nggak pernah tumbang karena angin malam. Ya kali gue tumbang karena angin malam, gue kan bodyguard, orang yang diandalkan untuk keamanan Mommy Tyas. Bukannya gue sombong, tapi gue cuma mau menguatkan diri sendiri.


Gue masih belum bisa move on dari Emir. Jujur di otak dan hati gue masih terngiang-ngiang tentang anak-anak Pak Daris. Mulai dari Emir yang tiba-tiba manggil gue mama, syok dong gue. Terus tiba-tiba nemplok. Jujur awalnya gue apaan sih nih anak, kejam banget kan gue? Tapi lambat laun gue mulai menghangat karena kepolosan Emir. Lambat laun gue juga merasakan getar-getar yang berbeda pada Emir, haha gue menyimpulkan itu artinya cinta gue ke Emir bukan cinta pada pandangan pertama. Heh, ada-ada aja gue nih!


Mengingat Emir tak afdol rasanya kalau tidak mengingat si kembar juga. Kalau boleh jujur dari hati yang terdalam, sebenarnya dari pertama bertemu kembar gue langsung tertarik. Kalau pertama ketemu Emir kesannya apaan sih nih anak, tapi kalau ketemu kembar rasanya wah gokil juga tuh bocah-bocah. Eits, tapi bukan berarti gue nggak sayang sama Emir atau mungkin kasih sayang gue lebih besar pada si kembar. Enggak kok, kasih sayang gue sama rata untuk mereka.


Berbicara kembar, antara Luham dan Liam gue paling penasaran sama Liam. Gue rasa udah bukan rahasia lagi kalau gue lebih penasaran sama Liam karena anak itu judes dan cuek sama gue. Luham sih baik sama gue, jadi gue tinggal mengenal dia lebih baik. Tapi, kalau yang Liam nih susah banget dideketin. Tapi gue akan berusaha terus. Pantang menyerah bagi gue.


Ada yang menarik juga nih, yaitu si Raya. Duh anak gadis adiknya Pak Daris. Heh, tapi meskipun gue juga masih gadis!!


Se waw apa sih gue sampai-sampai Raya dan teman-temannya mengidolakan gue? Jujur kalau gue sih nggak punya seseorang yang gue idolakan, beneran nih! Gue pernah berusaha untuk punya idola mungkin publik figur yang bisa gue idolain, tapi nyatanya nggak bisa. Palingan gue cuma termotivasi sama prestasinya aja.


Gue lebih suka menggali apa yang ada pada diri gue sendiri. Santai aja sih gue, setiap orang punya pilihan dan pandangan hidup masing-masing. Gue sih punya prinsip "Elo ya elo, gue ya gue! Asal nggak merugikan kehidupan orang lain!"


Gue tatap bintang-bintang yang ada di langit.

__ADS_1


Gue arahkan juga tangan gue ke arah bintang-bintang itu. Hmm, ini adalah hal favorit yang gue lakukan, sembari memuji keagungan Allah Yang Maha Kuasa.


Hati gue jadi bimbang. Gue inget ajakan Pak Daris tadi. Gue sendiri nggak yakin dengan keputusan gue yang memperbolehkan dia mengenal lebih dekat tentang gue. Tapi ya udahlah, nggak usah dipikir berat. Tetep jadi diri sendiri dan terus berbuat kebaikan aja. Kalau jodoh nggak akan ke mana. Kalau dia merasa gue nggak baik buat dia dan anak-anaknya juga pasti nggak bakalan dilanjutin dan begitu pun sebaliknya. Tenang aja, bukan pacaran yang kalau putus jadi mantan kok.


Oh ya, semua orang bilang gue tuh cuek, dingin, dan lain-lain deh pokoknya. Padahal, aslinya sih emang iya wkwk. Tapi kalau di dalam rumah gini enggak kok, apalagi kalau sendirian, ya jelas enggak! Emang gue mau cuek sama siapa kalau sendirian? Sama demit-demit yang ada di sekitar gue? Wkwk gila dong.


Gue konyol juga sebenernya kalau sendirian. Gue rasa semua orang juga pasti gitu.


Kenapa gue cuek atau dingin? Karena gue tuh nggak suka basa-basi, gue suka yang simpel aja, kalau iya ya iya, kalau enggak ya enggak! Beres!


Terus kalau ada pertanyaan kapan gue berhenti cuek? Ya nggak tahu bro sist, itukan udah sifat gue! Asal gue tetep baik aja sama orang lain sih udah beres!


Oh iya, by the way Mommy Tyas tadi belum tahu kalau gue diajakin nikah sama Pak Daris, ya walaupun tadi masih gue tolak sih! Nanti lah, pasti ada saatnya sendiri Mommy tahu.


Gue juga kepikiran banget sama ajakan Pak Daris buat jalan sama dia anak-anaknya. Gimana ya, nggak mau sih sebenarnya. Tapi penasaran juga sama anak-anaknya apalagi si kembar. Mungkin dengan jalan bersama mereka membuat gue bisa memutuskan dengan cepat untuk menerima atau menolak ajakan nikah dari Pak Daris. Semua harus


Angin malam semakin dingin. Gue memutuskan untuk masuk dan tidur. Saat pintu balkon udah gue tutup dan gorden pun sudah tertutup dengan sempurna. Mata gue tanpa sengaja melirik ketupat pemberian Luham. Gue pun memutuskan untuk duduk di depan meja rias dan mengambil ketupat itu. Refleks bibir gue tersenyum, kenapa juga tuh anak punya ide untuk memasukkan ketupat buatannya ke tas Emir. Kenapa nggak langsung dikasih ke gue, misal "Ini Auntie, ketupat Luham buat Auntie!" Ya udah sih, mungkin tuh anak gengsi atau malu mau memberi secara langsung.


Kriiing kriiing


Handphone gue bunyi, ada yang nelfon nih!


Gue segera beranjak ke ranjang tempat gue meletakkan handphone. Mata gue terbelalak saat tahu nama yang tertera di situ nama "Pak Daris" ngapain tuh duda malem-malem gini telfon?


"Hallo Pak?" ucap gue.


"Hallo Mer, belum tidur ya?" Eh, tuh duda malah nanyain gue udah tidur apa belum.

__ADS_1


"Belum Pak! Mungkin kalau saya udah tidur nggak bakalan saya angkat telfonnya!" Bohong, tetep diangkat kok kalau ada telfon, tapi kalau tahu yang telfon Pak Daris masih mikir dua kali buat ngangkat. Kembali gue rubah gaya bicara gue dengan formal pada Pak Daris.


"Hehehe iya, maaf ya malem-malem gini telfon!"


"Nggak papa, ada apa ya Pak?" tanyaku to the point. Nggak mungkin dong niat telfon cuma basa-basi. Dah mirip abg yang pdkt aja. Ups lupa, dia kan emang lagi pdkt wkwk. Puber kedua kali ya hihi.


"Cuma mau ngomong terimakasih lagi karena udah mau direpotin buat njagain Emir!" Dah fiks, cuma basa-basi nih duda. Udah ke sekian kalinya ngomong terimakasih.


"Sama-sama Pak!"


"Ya udah, kamu tidur gih Mer udah malem!" perintah dia. Ya elaah, perhatian banget sih calon suamiku, hehe bercanda kok! Tenang, emaknya Emir ini nggak gampang baper kok! Mungkin cuma niat mau ngucapin selamat tidur aja buat calon istrinya ini wkwk.


"Iya Pak terimakasih, bapak juga ya!"


"Makasih Mer, selamat malam!"


"Selamat malam!"


Hufth, ngerasa kali ya tuh duda gue pikirin, tiba-tiba nelfon gini! Sumpah, niat basa-basi doang hihi, ngakak kali aku!! Ya udah lah, gue mau tidur.


---------------------------


Hallo semua, makasih yang udah bacađź–¤


Rasanya pengen update setiap hari dan teratur, tapi apalah daya deadline tugas kampus di depan mata. Tapi, Author akan selalu berusaha untuk update teratur, ya walaupun saat tidak update itu artinya sibuk banget!!


Luv luv deh untuk kalian semuađź–¤

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan jadikan favorit yak!


__ADS_2