
"Mau ke mana?" tanya Daris pada Merry saat mereka berada di dalam mobil.
"Ngikut aja, ntar saya ajak ke tempat favorit saya juga Bapak ngga akan suka!" jawab Merry sembari melihat pemandangan luar melalui jendela mobil.
"Ya kan barangkali kamu mau pergi ke mana gitu!" ucap Daris.
"Lagian serius ini kita cuma pergi jalan-jalan? Jahat banget Pak nggak ngajak anak-anak?" tanya Merry sambil menoleh ke arah Daris yang sedang menyetir, tapi sesekali juga melirik dan menoleh ke arah Merry.
"Sekali dua kali boleh lah jalan berdua!" jawab Daris dengan santai.
"Emang Bapak nggak sibuk? Nggak kerja?" tanya Merry.
"Kamu lupa ya kalau saya bos?" jawab Daris dengan sombong.
"Emang kenapa kalau bos?" tanya Merry lagi.
"Terserah saya dong, suka-suka saya!" jawab Daris dengan enteng.
Merry memutar bola matanya malas.
"Bos itu harus disiplin dan bos itu harus memberi contoh yang baik lada karyawannya!" jelas Merry dengan lugas.
Daris langsung menoleh ke arah Merry sejenak sembari tersenyum, lalu kembali fokus menatap jalanan di depan. Tangan kirinya mengusap pucuk kepala Merry dengan lembut sembari berkata, "Iya iya sayang, janji deh bakalan jadi bos yang disiplin, yang bisa memberi contoh yang baik buat karyawannya!" Setelah berkata demikian, Daris langsung terkekeh.
Merry langsung mengibaskan tangan Daris yang mengusap kepalanya. Merry dibuat mual dengan sikap Daris.
Enak aja main usap kepala, menang banyak dia! Gerutu Merry dalam hati.
Daris terus saja terkekeh, tapi tiba-tiba dia berubah serius sambil kembali menoleh ke Merry.
"Apa?" tanya Merry dengan bingung saat Daris menoleh padanya dengan pandangan serius.
Daris langsung tersenyum sambil berkata, "
"Kamu cantik!" Lalu kembali fokus ke jalanan depan.
Merry langsung tersipu dan mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan luar.
Dasar lakik, awas aja kalau habis nikah nanti nggak pernah muji gua cantik lagi, gua lempar Lu ke kandang Singa! ujar Merry dalam hati.
"Tersipu ya?" Daris semakin gencar menggoda Merry.
"B aja!" jawab Merry dengan santai. Lain di mulut lain di hati.
"Gimana kalau kita muter-muter aja sama mobil?" tawar Daris.
Merry tercengang, muter-muter doang? Berasa kaya nidurin anak bayi aja diajak muter-muter doang. Eh, tapi biasanya pakai motor sih kalau nidurin anak bayi. Tapi kalau sekarang yang jadi bayinya Merry, berarti kan bayi gede, jadi pakai mobil hihi.
"Seriusan nih Pak muter-muter doang?" tanya Merry sambil tertawa.
"Nggak ada kerjaan banget!" Sumpah, kali ini Merry menilai Daris antara lagi gabut atau nggak mau modal buat ngajakin cewek kencan? Hahaha.
"Nanti kita muter-muter ke jalan itu yang terkenal hijau banget, sejuk gitu!" jawab Daris.
"Nambah-nambahin macet aja Pak, cuma gabut gini ke luar!" jawab Merry yang masih saja tertawa mendengar ide Daris yang sebenarnya Merry juga senang sih.
"Macet bentar doang, ntar juga udah lengang jalanannya kalau udah masuk daerah situ, enak hijau, adem, dan banyak pohon-pohon!" terang Daris sambil tersenyum pada Merry.
Merry langsung melotot. "Lengang?" tanya Merry ngegas.
Daris langsung tertawa, " Nggak bakal gua apa-apain Lu Mer, tenang aja! Lagian juga tiga minggu lagi Lu bakalan gua apa-apa in!" jawab Daris yang semakin kencang tawanya.
Merry langsung menarik mundur dirinya bergeser semakin mepet dengan pintu, nggak mau deket-deket sama Daris. Ya emang betul tiga Minggu lagi mau nikah, tapi nggak usah bercanda gitu dong, Merry itu masih gadis loh! Masih polos! Wkwk masih polos.
"Eh Pak, bukannya jalanan itu juga mengarah ke danau ya?" Merry langsung mengalihkan topik agar tidak ada pembahasan iya-iya yang ke luar dari mulut Daris.
"Oh iya, ada Mer ada!" Sepertinya Daris lupa akan hal itu.
"Gimana kalau kita ke sana aja? Sore-sore gini pasti enak di danau itu!" ujar Merry.
"Boleh juga, ide yang bagus!" Daris juga menyetujui saran Merry.
__ADS_1
"Tapi, kita keliling-keliling jalan ini dulu ya, baru nanti tujuan akhir ke sana!" lanjut Daris.
Ternyata, masih kekeuh untuk ingin keliling jalanan itu, ya sudahlah Merry hanya mengangguk patuh dan ngikut apa mau Pak Driver di sebelahnya ini.
Merry dan Daris terus saja ngobrol, tapi kali ini mereka membicarakan tentang anak-anak.
Banyak sekali yang harus Merry tanyakan tentang anak-anak kepada Daris.
Daris memacu mobilnya dengan pelan saat sampai di jalanan itu. Suasananya memang asri, dingin, dan sejuk. Bahkan, bisa terasa sampai di dalam mobil dinginnya.
Merrry membuka kaca jendela mobil separo, Merry sangat menyukai udara di luar saat ini.
Daris juga tersenyum saat melihat tingkah Merry. Ternyata, semakin ke sini wanita ini semakin menunjukkan bagaimana dirinya sendiri.
Semakin ke sini Daris semakin melihat jika Merry yang saat ini dengan Merry yang pernah ia lihat sebagai bodyguard dulu 180 derajat berbeda.
Merry yang di sampingnya ini adalah Merry yang banyak bicara apalagi saat membicarakan tentang anak-anak, Merry yang ingin disayangi, dan Merry yang manis.
Namun, satu pertanyaan besar muncul dalam otak Daris, apakah Merry yang seperti ini tetaplah hanya pada dirinya dan keluarganya?
Ataukah Merry memang sudah berubah pada semua orang? Daris belum tahu akan hal itu, tapi tenang saja itu bukan masalah. Daris tahu jika Merry adalah wanita yang baik.
"Kamu suka?" tanya Daris.
"Suka banget!" jawab Merry dengan tetap melihat pemandangan luar.
"Sekarang kita ke danau ya?" tanya Daris.
Merry menoleh ke arah Daris sambil mengangguk, "Iya, ke danau sekarang!"
"Tapi nanti pulangnya lewat sini lagi kan?" tanya Merry. Sepertinya, Merry tidak rela pergi dari suasana yang hijau seperti ini.
"Kalau kamu mau, kita bisa lewat sini lagi!" jawab Daris.
Merry mengangguk sembari tersenyum bahagia, "Iya aku mau!"
Daris mengangguk sembari tersenyum.
"Iya aku tahu, rekannya Mommy banyak yang tinggal di situ! Aku juga pernah ke komplek perumahan itu!" jelas Merry sembari melihat ke arah komplek perumahan.
Daris manggut-manggut, tentu saja itu bukan hal yang mengherankan. Orang sekelas keluarga Syah akan mudah membeli perumahan di daerah ini yang terkenal dengan harga yang fantastis.
"Aku malah belum pernah ke sana!" ucap Daris sembari terkekeh.
"Gimana, mewah gitu ya?" tanya Daris.
Merry terlihat mengingat sesuatu, "Mewah sih pasti, tapi perumahannya lebih terkesan ke alam sih! Enak banget gitu, nyaman!" jawab
Merry yang memang pernah ke sana.
"Oh gitu!" Daris mengangguk paham.
"Sekarang kita udah nggak kaku kaya dulu lagi ya? Manggilnya aja udah aku dan kamu, bukan saya dan kamu!" ucap Daris yang memang menyadari perubahan di antara mereka.
"Oh ya?" tanya Merry. Jujur Merry tidak pernah menyadari akan hal ini.
"Iya Mer!"
"Aku aja nggak nyadar loh Pak!" ujar Merry. Ya syukurlah, memang seharusnya begini, supaya lebih enak.
"Jangan panggil Pak dong Mer!" pinta Daris.
Merry mengerutkan dahi. Sebenarnya ada betulnya juga sih jangan panggil Pak, tapi harus panggil siapa?
"Terus?" tanya Merry.
"Ya apa kek gitu!" jawab Daris.
"Lagian panggil Pak, kaya aku bapak kamu aja! Atau kalau nggak kaya kamu karyawan aku!" lanjut Daris.
Iya juga sih, tapi Merry bingung mau manggil siapa? Masa Mas Daris? Ih geli banget.
__ADS_1
"Papa?" tawar Merry.
Daris langsung melotot, "Itu malah jadinya kita persis bapak dan anak dong! Aku kan suami kamu, bukan Papa kamu!" tolak Daris.
"Calon suami!" Merry kembali mengingatkan jika dirinya masih calon, belum suami istri.
"Iya-iya calon!" jawab Merry.
"Yang lain lah, jangan Papa!" lanjut Daris.
"Kan biar samaan sama anak-anak Pak? Jadi enak sekalian manggilnya Papa!" jelas Merry.
"Iya, kamu boleh manggil aku Papa kalau di depan anak-anak, tapi kalau nggak ada anak-anak ya yang so sweet dong manggilnya!" ujar Daris.
Merry dibuat bingung, dia mau menyarankan "Mas" tapi malu. Siapa dong?
"Kasih saran dong Pak!" pinta Merry.
"Sayang!" saran dari Daris.
Eh, sayang? Jangan-jangan! batin Merry.
"M-mas, gimana Mas aja?" tanya Merry dengan ragu dan malu.
Daris langsung tersenyum ke arah Merry.
"Coba panggil aku dengan panggilan Mas!" perintah Daris.
Merry langsung gelagapan. "Eh, jangan sekarang, nanti aja!" tolak Merry. Malu banget mau manggil Mas. Enakan juga Pak, udah kebiasaan manggil Pak.
"Belajar Mer! Kan harus dibiasakan mulai dari sekarang!" ucap Daris yang juga berniat menggoda Merry.
Sumpah, rasanya Merry malu pengen nyemplung ke rawa-rawa. Lidahnya juga kelu untuk manggil "Mas"
"Ayo sayang, coba panggil Mas Daris!" Eh, si Daris semakin menggoda Merry.
"Udah lah ntar aja!" Merry benar-benar tidak mau, dia malu.
"Ya udah, ntar aja deh gapapa!" Daris tertawa melihat Merry yang malu-malu.
"Jadi sekarang manggilnya Mas ya!" ujar Daris.
"Iya Pak!" jawab Merry. Daris langsung mengerutkan dahinya tidak terima.
"Mas, bukan Pak!" koreksi Daris.
"Kan mulai nanti, sekarang Pak dulu!" jawab Merry sembari tertawa.
*****
Kini, mereka telah sampai ke danau tempat tujuan mereka. Daris sudah bersiap untuk keluar mobil.
"Sebentar Pak, aku mau ngerapiin rambut dulu!" Merry masih tetap di dalam mobil untuk merapikan rambutnya.
"Iya, aku keluar dulu ya!" ucap Daris.
Saat Daris sampai di luar mobil, dia melihat-lihat pemandangan di luar, lalu tiba-tiba.
"Daris!" Ada seseorang yang mendekat dan memanggil namanya.
Saat Daris menengok ke sumber suara tersebut, ekspresinya langsung berubah tidak enak. Daris hanya terdiam dan teringat akan suatu hal.
----------------------------------------
Ada yang tahu kira-kira siapa yang manggil Daris?
Jangan jangan................................😱
Jangan lupa like, komen, vote, dan jadikan favorit untuk yang belum menjadikan cerita ini favorit yaa!!🤗
Love you all❤️❤️
__ADS_1