Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Welcome Cucu Oma


__ADS_3

"Dada Kakak!" Merry melambai-lambai tangannya dari dalam mobil Daris, jendelanya mobilnya diturunkan full. Emir yang sedang dipangkuan juga melambai-lambaikan tangannya pada kakak kembar dan tantenya yang sedang berdiri di teras.


"Jangan lupa main ke sini lagi Auntie!" teriak Luham juga sambil melambaikan tangannya. Sedih ya, belum aja sampai rumah udah kangen aja sama si kembar.


"Kak Daris pelan-pelan nyetirnya, bawa calon istri tuh!" teriak Raya juga niat menggoda Daris dan Merry.


"Dasar tuh anak!" ujar Daris dari dalam mobil yang tentunya hanya bisa didengar oleh Merry dan Emir.


*****


Jalanan sore gini membuat Merry merindukan momen-momen saat SMA. Dulu pulang sekolah pasti udah sore banget, naik motor pula. Merry nggak pernah mau dijemput pakai mobil. Dia lebih suka menikmati jalanan dengan motor kesayangannya.


Merry suka nggak nyangka, padahal rasanya baru kemarin berangkat pulang sekolah memakai seragam putih abu-abu, eh sekarang udah lulus kuliah aja. Udah tua ya, tapi suka nggak nyadar.


Oh ya, berbicara tentang Merrynity tadi, wkwk. Dulu sih Merry sering diberi tahu oleh teman-temannya katanya ada yang ngefans sama dia, tapi nggak ngasih tahu juga kalau namanya Merrynity wkwk. Tapi yang Merrynity ini nggak pernah menemui Merry secara langsung. Biasanya yang menemui Merry sampai ngajak foto itu adek kelas yang ganteng-ganteng gitu.


Kalau berbicara tentang fans, aw, dulu Amar suka iri lihat Merry banyak fans. Heleeh emang Si Amar suka nggak nyadar kalau dia juga punya banyak fans nya. Malahan fans nya Amar gawat-gawat loh. Para wanita dewasa yang bajunya seksi aduhai kurang bahan, yang sukanya berjalan lenggak-lenggok di depan Amar. Nggak usah heran, Amar tajir. Huh, kadang Merry jadi jijik sendiri melihatnya.


"Mer, dulu saya pernah ada niat beli rumah di perumahan yang sama kayak kamu!" ucap Daris.


"Terus kenapa nggak jadi?" jawab Merry.


"Nggak jadi lah, harganya bikin gigit jari! Serem harganya!" ujar Daris yang membuat Merry tertawa. Ye iyelaah, mihil bingits. Merry aja juga nggak mampu beli rumah di situ. Numpang shay, Merry numpang di rumah keluarga Syah.


"Harga satu rumah di situ bisa buat beli tiga rumah kayak rumah saya!" Daris jadi teringat masa-masa beli rumah dulu.


"Yang penting nyaman lah Pak rumahnya!"


"Bener banget Mer!"


"Kalau nggak nyaman, bisa direnov senyaman mungkin, kan katanya Rumahku Surgaku!" tutur Merry yang ucapannya sangat disetujui oleh Daris.


"Asal ada uang sih kalau mau renov!" lanjut Merry sambil terkekeh. Daris pun jadi tertawa.


"Dulu rumah itu juga ada yang aku renov beberapa, nyesuain keinginan Raya dan anak-anak!"


"Keinginannya Emir juga ya?" sahut Merry sambil memeluk Emir di pangkuannya.

__ADS_1


"Emir mana ngerti, masih kecil, ngertinya cuma Papa mau syusyu!" ujar Daris menirukan gaya Emir semasa meminta minum susu.


"Hahaha, enak ya hidupnya belum ada beban!"


"Mau mampir beli apa dulu gitu?" tawar Daris.


"Nggak usah lah Pak, keburu Maghrib! Lagian tadi Pak Daris udah bawain makanan banyak juga buat Mommy!" tolak Merry. Udah PW nih duduk di mobil, males keluar.


"Lagian Emir nggak pengen beli apa-apa kan?" lanjut Merry yang ganti bertanya pada Emir.


"Emil mau lenang Mama!" Ya Tuhan, nih bocah tetep kekeuh minta renang. Bahaya nih, ntar takutnya sampai rumah tiba-tiba nangis minta renang.


"Besok pagi deh, Auntie juga mau renang besok!" Yuk, berusaha terus biar nanti sampai sana nggak rewel langsung minta renang.


"Besok deh kolamnya Papa renov dibesarin ya! Biar Emir kalau renang bisa jauh!" ucap Daris pada putranya itu.


"Iya Papa, kolamnya yang besall!" Emir membuka kedua tangannya lebar.


*****


Tadi Merry ngabarin, kalau udah otw pulang. Mommy Tyas jadi nggak sabar pengen ketemu cucunya. Padahal tadi berharap banget juga si kembar iku, tapi kata Merry nggak mau ikut, ya udah nggak papa deh.


Saat melihat mobil Daris masuk ke pekarangan rumahnya, Mommy Tyas langsung keluar ke teras. Setelah mobil berhenti, terlihat Merry yang turun sambil menuntun anak kecil yang tampan sekali.


"Welcome Cucu Oma!" seru Mommy Tyas menyambut kehadiran mereka.


"Ayo, salim dulu sama Oma!" perintah Merry kepada Emir.


"Barakallah, ih anak pintar!" Doa Mommy Tyas dikala Emir menyalami tangannya.


"Saya langsung pulang aja ya!" Ternyata Daris langsung berpamitan mau pulang.


"Nggak mau mampir dulu nih?" tanya Mommy Tyas. "Nggak usah Tante, udah ditunggu anak-anak pasti!"


"Owalaah, ya udah deh nggak papa!"


"Papa pulang dulu ya jagoan, nggak boleh nakal ya, yang nurut sama Auntie Merry!" Daris berjongkok berbicara di depan putranya.

__ADS_1


"Siap Papa!" Bukannya Emir sendiri yang menjawab, tapi Merry. Akhirnya, Daris pun mendongak menatap Merry. "Aku pulang dulu Mer!" pamit Daris pada Merry.


"Iya Pak, hati-hati!" jawab Merry.


Setelah Daris pergi, Merry, Mommy Tyas, dan Emir masuk ke dalam rumah. Ternyata anak tampan ini masih malu-malu, dari tadi hanya diam saja. Cuma senyam-senyum saat ditanya ini itu oleh Mommy Tyas.


"Emir main sama Oma dulu ya, Auntie mau mandi, bau acem nih Auntie!" ucap Merry sambil mencium ketek kanan dan ketek kirinya sendiri, membuat Emir jadi tertawa. Harum kok harum, nggak bau acem beneran.


"Ini tasnya Emir Auntie bawa ke kamar Auntie ya!" lanjut Merry. Emir pun tetap berada di ruang keluarga bersama Mommy Tyas. Tenang saja, kalau masalah anak-anak Mommy Tyas jagonya, dah jadi pawangnya lah. Merry pun melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju kamarnya untuk mandi.


Dari dalam kamar, sejenak Merry membuka chat di handphone nya.


08××××××××××:


Kak, ini aku Raya, save yak!


Oh, ternyata anak cantik yang chat.


Me:


Ok, siap👍🏻


Baru saja hp nya diletakkan di meja, eh langsung terdengar notif chat. Akhirnya, Merry kembali mengambil hp nya.


Raya:


Makasih Kakak cantik!🥰


Merry tersenyum membacanya.


"Dasar anak remaja, gerak cepat banget balesnya! Pasti tuh hp selalu dibawa kemana-mana!" ucap Merry bermonolog.


Merry yang melihat tas punggung Emir yang bergambar Tayo jadi penasaran apa isinya. Kemudian, ia membuka, ternyata isinya ada sabun mandi, syampo, minyak kayu putih, lotion, parfum, seperangkat pakaian, eh ralat ada tiga baju, susu, dan gelas untuk minuma susu.


Merry tertawa melihatnya satu per satu barang itu, pindahan ih Emir. Tapi ada yang membuat Merry jadi bingung, kenapa ada satu ketupat yang tadi? Merry mengambil ketupat itu, ternyata ada namanya Luham.


Merry langsung tersenyum lebar, rupanya anak ini so sweet juga. Diam-diam meletakkan ketupat buatannya ke dalam tas Emir. Nggak mungkin kan kalau ini buat Emir, pasti ketupat ini untuk Merry. Akhirnya, Merry meletakkan ketupat itu di meja riasnya.

__ADS_1


__ADS_2