Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kali Kedua Daris...


__ADS_3

"Mer, makasih banyak ya kamu mau menemani saya untuk menjaga Luham sampai saat ini!" ujar Daris yang sedang duduk berhadapan dengan Merry. Saat ini, Daris dan Merry sedang makan siang di restoran depan rumah sakit.


Sedangkan yang menjaga Luham di ruang rawat inap adalah Raya. Hari ini terhitung hari keenam sejak Luham keluar dari ruang ICU dan berganti ke ruang rawat inap.


"Sama-sama Pak!" Bahkan, Merry dengan rela selalu siaga menjaga Luham.


Lalu, bagaimana tugas Merry sebagai bodyguard? Sebenarnya Mommy Tyas juga punya bodyguard lain yaitu seorang bodyguard laki-laki, bodyguard sungguhan. Mommy Tyas sengaja membebaskan Merry dari tugasnya selama Merry ikut menjaga Luham. Toh, Mommy Tyas tidak pernah meminta Merry menjadi bodyguard, itu kan keinginan Merry sendiri.


"Semoga besok Luham boleh pulang ya!" harap Daris.


"Aamiin Pak!"


"Mer, saya mau ngomong sesuatu sama kamu!" ujar Daris.


Merry waspada, mau ngomong apa nih. Merry hanya menganggukkan kepala sebagai tanda memperbolehkan Daris untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.


"Saya minta maaf sebelumnya Mer!" jeda Daris.


" Hari ini, untuk yang kedua kalinya saya ingin melamar kamu lagi untuk menjadi istri saya! Apakah kamu bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?" lanjut Daris dengan serius.


Daris memantapkan hatinya pada Merry. Sudah tidak diragukan lagi perihal kasih sayang Merry pada anak-anaknya, Daris sudah bisa melihat sendiri.


Jujur kali ini Merry sudah tak se gugup dulu karena ini kali kedua ia yang dilamar oleh Daris.


Sebenarnya Merry ikhlas ikut menjaga Luham tanpa mengharap imbalan dilamar seperti ini. Toh, Liam juga masih tidak mau punya ibu sambung.


"Pak, saya minta maaf kalau saya nggak bisa menerima ini! Saya hanya akan menikah dengan seorang jika dalam pernikahan itu tidak ada yang tersakiti, saya akan menikah dengan seseorang jika dalam pernikahan itu semua orang bisa menyambutnya dengan bahagia! Saya nggak mau bahagia di atas penderitaan orang lain Pak!" jawab Merry.


"Saya ingin orang-orang di sekitar saya bahagia! Saya bahagia tapi orang di sekitar saya tidak bahagia, itu percuma Pak!" lanjut Merry.


Permasalahan ini ada karena penolakan Liam. Merry lebih memilih menikah dengan orang lain, asal dalam pernikahan itu semua baik-baik saja.


Daris mengehela nafasnya berat. Kali ini Daris harus berusaha.


"Mer, saya tahu permasalahan kita ada pada Liam yang tidak mengijinkan! Tapi saya mohon sama kamu, kita berjuang bareng-bareng untuk mendapatkan hati Liam?" pinta Daris.

__ADS_1


"Saya akan berbicara pada Liam, saya akan menjelaskan semuanya, dan saya tidak akan tinggal diam!" lanjut Daris. Kali ini dia memang harus bertindak.


"Tapi saya mohon sama kamu, tolong kamu bersedia bertahan dan berjuang bersama saya!" pinta Daris sangat memohon kepada Merry.


Jujur hal seperti ini tak pernah terpikirkan oleh Merry sebelumnya, membicarakan hal serius yang mengarah pada pernikahan bersama seorang pria tanpa adanya rasa cinta. Semua terjadi karena anak.


Merry ragu, apakah dia harus menyetujui permintaan Daris atau tidak. Apakah kedepannya dia bisa menjadi ibu yang baik dan mereka juga bisa saling mencintai.


Merry hanya memandang Daris dengan ragu.


"Saya tahu ini memang konyol, kita menikah hanya karena anak-anak saya! Tapi, tidak hanya sebatas itu Mer! Ijinkan saya belajar untuk mencintai kamu! Ijinkan saya untuk bisa menjadi imam yang baik bagi kamu dan keluarga kecil kita nantinya!" tutur Daris dengan sungguh-sungguh.


"Saya tidak akan memaksa kamu untuk menjawab sekarang, saya beri kamu waktu untuk berpikir!" Daris rasa itu semakin konyol jika harus memaksa Merry untuk menjawabnya sekarang.


"Sembari menunggu jawaban dari kamu, saya akan berusaha berbicara pada Liam!" ucap Daris.


Merry tersenyum. "Saya akan menerima pernikahan ini kalau Liam setuju punya ibu sambung Pak! Hanya sekedar mau saja saya pasti menerima! Dan sisanya untuk berjuang mendapatkan hati Liam, saya mau berjuang untuk itu!" ucap Merry yang membuat Daris semakin bersemangat untuk membicarakan hal ini pada Liam.


Daris mengangguk seraya tersenyum bahagia. Daris yakin pernikahan ini akan terjadi.


Mereka saling melempar senyum sebagai tanda bahagia.


"Terimakasih Mer!"


" Sama-sama Pak!"


Setelah acara makan siang usai, mereka kembali ke rumah sakit. Saat melewati lorong rumah sakit Daris terus menerus menggandeng tangan Merry yang membuat Merry jadi sungkan.


"Pak jangan gandengan gini ih, malu dilihatin orang!" bisik Merry pada Daris.


"Ngapain malu sih, ini kan romantis!" jawab Daris yang terus saja menggandeng tangan Merry sembari senyum-senyum.


"Romantis apanya, malu ih kaya anak abg!" tolak Merry.


"Kita itu calon suami istri, udah santai aja!" jawab Daris.

__ADS_1


"Kita itu calon suami istri kalau Liam udah mengijinkan!" sahut Merry seolah-olah memberi peringatan 'Lo Pak Daris harus berjuang dulu untuk menaklukkan hati satpam kecil Lo, kalau Lo nggak bisa menaklukkan, Lo Gue end!!'


"Tenang aja, kita pasti menikah!" jawab Daris dengan percaya diri.


Merry tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Dasar ngebet kawin, gitu aja pake alesan cari ibu buat anak-anaknya! batin Merry.


Daris semakin mengeratkan genggamannya sembari tersenyum bahagia. Hatinya sangat senang, seolah-olah jika diucapkan"Nak, Bapakmu dapet bidadari, ayo kita karungin terus dibawa pulang!" hihihi.


Saat sampai di depan pintu ruang rawat inap Luham, Merry bergegas melepaskan tangannya dari genggaman Daris.


"Kenapa dilepas?" tanya Daris.


"Malu! Lagian ngapain juga ke dalam gandengan!" jawab Merry.


"Ya gapapa dong! Kan so sweet!" goda Daris pada Merry.


Sumpah demi apa, rasanya Merry ingin menampar bibirnya sendiri yang tiba-tiba tersenyum saat mendengar perkataan Daris barusan.


Ayo dong Mer, Lo lemah banget sih! Jangan lebay deh! Kenapa sih Lo gini? Jangan bilang ini efek Lo selama ini jadi jomblo akut! Mery terus menggerutu dalam hatinya.


Raya yang sedang menyuapi Luham langsung menoleh saat ada orang yang masuk ke dalam ruangan.


"Perut kenyang hati pun senang!" celetuk Raya saat melihat mereka yang masih senyum-senyum.


Merry mencoba mengabaikan itu. Merry mendekat pada Raya dan Luham.


"Sini gantian Kakak aja yang nyuapi, kamu makan sana!" Tadi Merry membelikan Raya makanan.


"Mentang-mentang jomblo, suruh makan sendiri!" jawab Raya sok memelas sembari menyerahkan piring Luham kepada Merry.


Merry mencubit pelan tangan Raya.


"AW AW!" keluh Raya saat dicubit Merry.

__ADS_1


"Lagian tadi kamu yang nyuruh Kakak sama Pak Daris pergi bareng, kenapa sekarang kamu komplain?" tanya Merry.


"Bercanda Kakak sayang, ih gitu aja serius!" ujar Raya sembari memeluk Merry dari belakang.


__ADS_2