
Di dalam mobil, Erga terus mengikuti Merry sampai akhirnya mereka masuk di kawasan perumahan yang asri.
Lalu, setelahnya Merry masuk ke dalam gerbang rumah yang minimalis tapi elegan.
Erga mengehentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia membuka kacamatanya. Dia memicingkan mata melihat rumah itu.
"Oh, jadi ini rumah Lo, Mer!" gumam Erga.
Tentu saja Erga tahu karena ini juga bukan kali pertama ia lewat. Tapi tidak tahu jika ternyata pemilik rumah ini adalah wanita cantik seperti Merry.
Erga memutar otak bagaimana caranya menjawab rasa penasarannya terhadap ucapan Merry.
"Apa gue tunggu disini aja?" ucap Erga sambil berpikir keras.
Dahinya mengerut karena berpikir apakah langkah yang ia ambil benar.
Erga menggeleng. Sepertinya tidak. Cara ini kurang efektif jika harus dilakukan. Bagaimana jika ternyata tidak ada tanda-tanda untuk menjawab rasa penasarannya itu?
Akhirnya Erga memilih untuk pergi. Besok ia akan kembali lagi kemari.
Belum sempat mobilnya melaju, ada mobil hitam yang juga masuk ke dalam rumah itu.
Akhirnya, Erga mengurungkan niatnya untuk pergi. Kacamata yang semula sudah ia gunakan lagi, kembali ia lepas.
Hati Erga menggebu-gebu penasaran siapa seseorang di dalam mobil tersebut.
Teman, saudara, atau jangan-jangan benar suaminya.
Sungguh, sedikit ada rasa tidak rela dalam dirinya jika benar itu suami Merry.
Setelah mobil itu masuk memang tidak ada pergerakan lagi. Namun, hal itu sangat membuat Erga tidak bisa berpikir tenang.
Akhirnya Erga memilih untuk pergi. Terlalu lama di situ juga tidak baik. Pasti orang-orang akan curiga kenapa mobil itu diam di situ terlalu lama. Apalagi sang pemilik mobil juga tetap berada di dalam.
**
Di dalam rumah Merry bergegas membantu Emir berganti pakaian dari seragam sekolah ke seragam rumahan.
"Bund, tadi sarden pesenan Papa ada kan?" tanya Daris sambil masuk ke kemar Emir.
"Ada kok Pa, masuk dimasakin kapan?" tanya Merry.
"Nanti malem aja. Sekarang sama lauk yang tadi pagi. Masih ada kan?" jawab Daris.
__ADS_1
"Ada Pa. Bentar ya belum aku angetin. Barusan nyampe juga. Bentar ya, Pa!" ucap Merry.
Sudah menjadi kebiasaan sejak Merry sakit waktu itu, setiap siang Daris selalu menjemput Emir sekolah.
Siang mengantar Emir pulang, sekalian Daris makan siang di rumah. Lalu, kembali lagi ke kantor.
Sedangkan Luham dan Liam mereka naik sepeda bersama teman-temannya saat berangkat dan pulang sekolah.
"Nggak usah, biar aku aja yang ngangetin. Kan kamu Bunda masih bantu Emir. Sekalian ke dapur juga, Papa!" ucap Daris yang tidak ingin melihat istrinya terlalu repot.
"Emir makan sama Papa setelah ini ya?" tanya Daris.
Emir mengangguk-angguk.
"Iya dong, kan waktunya makan siang. Jadi harus makan!" sahut Merry.
Saat mereka berada di meja makan.
"Besok jadi berangkat siang?" tanya Merry.
Besok Daris dan Al akan ke luar kota untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memang harus mereka selesaikan.
Rencananya, selama seminggu mereka berada di luar kota.
"Yah, nggak jadi jalan-jalan dong!" Emir cemberut.
Saat bundanya sakit dulu, Daris berjanji akan mengajak anak-anak jalan-jalan setelah bundanya sembuh.
Karena saat bundanya sakit, anak-anak kurang mendapatkan perhatian. Merry sakit, sedangkan Daris juga sibuk mengurus Merry dan beberapa pekerjaan juga.
Sedangkan setelah Merry sembuh, ternyata Daris sangat sibuk. Sampai sekarang mereka belum sempat untuk pergi jalan-jalan bersama.
"Gapapa, nanti jalan-jalan dulu sama Bunda, ya? Nanti kalau Papa pulang, kita jalan-jalan lagi. Full team jalan-jalannya, oke?"
Merry mencoba merayu Emir yang sedang marah kepada papanya.
"Papa minta maaf ya. Iya, sementara jalan dulu sama Bunda ya. Kan lusa weekend. Nanti deh, kalau Papa pulang, kita jalan-jalan lagi!" Daris ikut menimpali.
Sejujurnya Daris juga merasa bersalah. Hatinya sungguh dilema. Dia sudah berjanji kepada anak-anaknya.
Tapi sungguh pekerjaannya memang tidak bisa ditinggalkan. Pekerjaan ini harus Daris sendiri yang menyelesaikannya.
Melihat anak-anaknya kecewa seperti ini membuat Daris sedih. Lagipula Daris juga pasti rindu seminggu tidak akan bertemu dengan anak dan istrinya.
__ADS_1
"Maafin Papa ya??" tanya Daris lagi sambil melihat Emir yang masih cemberut.
"Iya, maafin ya. Papanya kan lagi sibuk kerja. Kerjanya cari uang. Nanti kalau udah dapet uang, kita pergi jalan-jalan deh!" sahut Merry.
Namanya juga anak-anak. Terkadang pengertian. Bahkan sampai berkata "Papa kelja aja. Emil nggak papa. Nggak akan ngambek. Nggak akan malah. Papa cali uang aja. Nanti uangnya buat beli jajan!"
Namun, terkadang juga tidak pengertian. Dia akan marah dan enggan berbicara dengan papanya karena papanya sibuk bekerja.
Bahkan, terkadang Emir cemburu dengan Al. Katanya, "Enak Om Al bisa belsama Papa telus. Kalau Emil tidak!"
Al yang menjadi sasaran empuknya hanya terdiam sambil menahan tawa.
Dalam hatinya berkata, mohon bersabar ini ujian!
Lagi pula siapa juga yang mau berlama-lama dengan Daris. Jika bersama Daris itu tandanya dia harus bekerja.
Al juga sebenarnya inginnya bisa rebahan santuy di rumah, tapi tiba-tiba dapet cuan. Kan enak!!!
Tapi ya itu tidak mungkin. Dia harus bekerja kalau mau mendapatkan uang. Uang yang halal dan berkah. Agar selamat di dunia maupun di akhirat. Aamiin.
Lagipula kalau tidak bekerja, lalu tidak mendapatkan uang, lalu bagaimana dia akan menafkahi Raya nantinya?? Hmm, Raya lagi, Raya lagi.
Jangankan Emir, Liam dan Luham pun juga terkadang tidak pengertian.
Mereka akan marah jika papanya sangat sibuk sampai tidak waktu bagi mereka.
Bahkan, marahnya Luham dan Liam itu lebih kejam daripada Emir.
"Papa sibuk, kerja terus. Mending Bunda nyariin kita papa yang baru aja. Yang nggak terus-terusan sibuk kayak Papa!"
Kejam bukan? Darimana juga mereka mendapat ide seperti itu.
Papa baru, enak saja. Ini Papa terbaik ya. Nanti belum tentu ada Papa yang sebaik Daris lagi. Begitulah kira-kira isi otak Daris.
Ini juga Liam dan Luham belum tahu jika Daris benar-benar akan berangkat ke luar kota.
Jika tahu, tidak tahu bagaimana respon mereka. Apakah mereka pengertian. Atau akan menyuruh Merry mencari papa baru untuk mereka.
Ya, Daris menilai itu adalah bentuk protes mereka. Bukan maksud mereka tidak menyukai papanya bekerja keras.
Mereka juga tahu papanya kerja untuk mereka. Untuk masa depan mereka. Untuk makan, untuk ini dan itu. Mereka tahu papanya bekerja untuk hal itu.
Saat sedang sibuk pun, tapi jika itu tidak over, mereka tidak akan protes.
__ADS_1
Mereka akan protes jika merasa papanya berlebihan dalam hal kesibukan.