Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Sebuah Usaha


__ADS_3

Sampai keesokan harinya pun Merry tetap yakin pada pendiriannya akan pulang bersama Mommy nya.


Daris juga tidak mengerti apa yang sedang Merry pikirkan saat ini.


Tentu saja Daris takut. Tapi setidaknya selagi tidak ada permintaan cerai dari Merry, Daris tidak begitu cemas.


"Mom, ini bagaimana?" Daris bertanya kepada Mommy Tyas.


"Mommy juga tidak mengerti. Selama ini dia tidak pernah begini. Mommy juga ingin hubungan kalian baik-baik saja!" jawab Mommy Tyas.


"Bagiamana kalau Merry minta cerai?" Tanya Daris dengan khawatir.


"Iya, Daris memang salah. Daris nggak bisa jadi suami yang baik. Tapi Daris nggak pernah mau ada perceraian. Daris sangat mencintai Merry. Lalu, bagaimana juga dengan anak-anak?" lanjutnya.


"Daris, coba kamu bawa anak-anak kemari. Selama beberapa hari ini Merry kan sedih dan kesepian. Merry itu sayang sama anak-anak. Siapa tahu dengan kehadiran anak-anak, Merry bisa mengambil langkah yang benar!" Mommy Tyas merasa cara baik ini patut dicoba.


Siapa tahu dengan kehadiran anak-anak juga bisa menghibur Merry.


Merry memang tidak meminta cerai dari Daris. Tapi dengan dia tiba-tiba meminta pulang, lalu egois tidak memikirkan anak-anak lagi, Mommy Tyas takut setelah Merry benar-benar pulang, tiba-tiba dia meminta cerai.


"Emir. Iya Mom, Emir sudah pulang sekolah. Kalau Liam dan Luham masih nanti pulang sekolahnya. Biar Daris jemput Emir sekarang ya!" Entah kenapa Daris tidak terpikirkan hal ini. Semoga dengan cara membawa anak-anak kemari, Merry tidak jadi meninggalkan mereka.


Daris menerima jika Merry marah dan kecewa padanya. Daris memang telah bersalah.Tapi jika sampai meninggalkan, Daris tidak bisa.


**


"Papa, jadi Emil sekalang boleh beltemu Bunda?" tanya Emir saat Daris datang untuk menjemputnya.


Daris berjongkok di depan putranya yang baru selesai ganti baju karena sepulang sekolah.


Daris tersenyum manis kepada putranya. Ia tidak ingin menunjukkan rasa sedih dan bingung yang sedang ia rasakan.


"Iya, Emir mau bertemu Bunda nggak?" tanya Daris.

__ADS_1


Emir mengangguk dengan yakin. Beberapa hari tanpa Bunda, tentu saja ia mau bertemu bundanya.


Hari-hari tanpa Bunda sangat menyiksa bagi Emir. Emir sangat merindukan Bundanya.


Emir sedih karena papanya melarang Emir untuk menemui bundanya. Padahal Emir ingin menjaga bundanya.


Daris melihat putranya dengan iba. Teringat perkataan Merry saat mengatakan apa pedulinya Merry kepada anak-anak.


Daris tidak sanggup seandainya perkataan Merry itu benar. Ya, walaupun sampai saat ini Daris tidak percaya jika itu benar-benar dari hati Merry.


Hanya saja, seandainya itu benar, Daris tidak akan sanggup.


Daris tidak sanggup ditinggalkan oleh Merry. Tentu saja anak-anak juga tidak akan sanggup.


"Den Emir seneng kan mau ketemu Bundanya. Jadi sekarang nggak boleh sedih lagi!" sahut Bi Sami sembari mendekat.


"Kalo di sekolah bisa happy lagi. Kata Bu Gurunya beberapa hari ini nggak semangat kalau sekolah. Nggak happy ya. Sedih terus dan nggak fokus!" lanjut Bi Sami yang mendapat laporan dari Raya.


"Kenapa nggak happy di sekolah?" tanya Daris sambil mengusap kepala putranya.


"Emil sedih Papa. Emil tidak jadi punya adik. Padahal adiknya mau Emil aja main lobot. Kata Kak Liam, Kak Luam, dan Tante Laya, adiknya udah di sulga sekarang. Kenapa adiknya pelgi ke sulga? Kenapa tidak di sini saja? Emil kan punya banyak lobot!" tanya Emir dengan sedih.


Daris tersenyum pahit. Sejenak mengatur napas dan berpikir untuk memilih jawaban yang tepat untuk Emir.


"Adiknya Emir itu pergi ke surga duluan. Nanti kita akan bersama-sama. Akan bersama adik juga di surga. Nanti main robot-robotannya di surga bareng adik. Jadi sekarang Emir harus jadi anak yang baik dan sholeh ya!" jawab Daris.


Emir mengangguk.


"Sekarang siap-siap ya. Katanya mau ketemu Bunda?" tanya Daris.


"Iya, Papa. Emil mau beltemu Bunda!" jawab Emir."


Sedangkan di rumah sakit.

__ADS_1


"Mer, Mommy tahu kamu sedih dan kecewa kepada Daris. Tapi semuanya bisa dimaafkan dan diulang dari awal. Apa kamu mau meninggalkan Daris dan anak-anak kamu?" tanya Mommy Tyas saat menemani Merry yang ingin duduk di taman rumah sakit.


Suasana di taman ini sangat asri. Sengaja Mommy Tyas mengajaknya ke sini agar pikiran Merry bisa fresh.


Merry terdiam menatap lurus ke depan tanpa menjawab apapun.


"Merry, Mommy ingin bertanya sesuatu. Merry jawab dengan jujur ya. Jangan ada sedikit kebohongan apapun. Jangan ragu dan jangan takut untuk menjawabnya." Ucap Mommy Tyas dengan perlahan.


Merry menoleh kepada Mommy Tyas.


"Merry lelah kan?" tanya Mommy Tyas dengan pelan.


Merry kembali menatap lurus ke depan. Dia masih terdiam.


"Sedari kemarin Merry bilang kalau Merry lelah, Merry capek!" lanjut Mommy Tyas.


"Apa sebenarnya Merry nggak bahagia hidup sama Daris?" tanya Mommy Tyas.


"Merry jawab saja nggak papa Nak. Hanya Mommy yang tahu."


Merry masih enggan menjawab.


"Apa Merry capek menjadi ibu dari anak-anaknya Daris?" tanya Mommy Tyas.


Merry langsung menunduk.


"Merry sebenarnya tidak sanggup? Apa setiap hari batin Merry tertekan? Mommy tahu ini tidak gampang. Dengan usia kamu yang masih muda, tiba-tiba harus menjadi ibu dari tiga anak. Mommy tahu Merry mengorbankan kebahagiaan Merry untuk mereka. Merry tidak sanggup?" tanya Mommy Tyas lagi dengan sangat hati-hati.


Mata Merry berkaca-kaca.


"Apa sebenarnya dulu Merry terpaksa menikah dengan Daris? Merry kasihan pada anak-anaknya Daris jadi Merry mau?"


Air mata Merry berhasil lolos. Merry bergegas menghapus air matanya.

__ADS_1


"Nangis Nak, nggak papa, kamu nangis. Menangis lah di depan Mommy. Kamu katakan apa yang selama ini kamu pendam sendiri."


"Apa dulu Daris yang memaksa kamu? Apa dia mengancam kamu?" tanya Mommy Tyas lagi.


__ADS_2