Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Ambar Melukai Merry


__ADS_3

"Iya, Mama tahu itu. Namun, apa salahnya Mama mencoba menyatukan keluarga kita lagi? Menjadi keluarga yang utuh!" ucap Ambar.


"Cukup, Ambar. Apa kamu tidak malu mencoba merayu anak-anak?" Terdengar suara Daris dari arah belakang.


Daris datang bersama Merry dan Liam untuk menjemput kembar.


Merry takut akan terjadi keributan di sini. Karena bagaimanapun ini tempat umum dan ada anak-anak juga.


Merry menyentuh lengan kiri Daris dan memberi peringatan agar semuanya dibicarakan secara baik-baik. Jangan sampai menimbulkan pertengkaran.


Daris menghembuskan napasnya mencoba menahan emosi.


Entah apa yang dipikirkan oleh Ambar. Apa dia tidak malu terkesan seperti mengemis untuk bisa Daris dan anak-anak lagi?


Daris juga tidak melarang Ambar bertemu anak-anak. Ambar adalah ibu kandung mereka.


Namun, tentu tidak mungkin terjadi jika Daris dan Ambar menjadi suami istri lagi. Apa yang ada di pikiran Ambar.


Oh, apa mungkin suaminya jatuh miskin? Atau ternyata tidak sebaik Daris? Tidak se peduli Daris?


Hm, pria itu kan pilihan Ambar. Bukannya dulu Ambar berkata jika dia adalah pria idaman, cinta sejati, dan yang terbaik baginya?


Bahkan, Ambar rela meninggalkan suami dan ketiga anaknya demi pria itu.


"Dia bahagiaku Daris. Kamu mencintaiku kan? Kalau kamu mencintaiku izinkan aku mendapatkan kebahagiaanku. Dan dialah kebahagiaanku Daris!"


Daris masih ingat betul perkataan Ambar saat Daris menolak permintaan cerai dari Ambar.


Terdengar konyol. Mungkin jika iku dilakukan sepasang kekasih masih masuk akal. Tapi bagaimana mungkin itu dilakukan oleh seorang istri dan ibu dari tiga anak.


Sebelumnya Daris berpikir jika suami Ambar jauh lebih baik darinya dalam hal apapun. Namun, melihat saat ini. Sepertinya tidak. Buktinya saja Ambar mengemis untuk bisa bersama Daris lagi.


Ya, walaupun belum pasti juga apa alasannya. Mungkin suaminya sekarang jelek, atau Ambar bosan, atau mungkin duitnya kurang.


"Luham, Liam, kalian ajak Emir ke mobil duluan ya. Papa mau ngomong dulu sama Mama kalian!" ucap Daris kepada anaknya.


Luham dan Liam menurut. Lalu, ketiga anaknya pergi ke dalam mobil.

__ADS_1


Setelah memastikan anak-anaknya memang tidak ada di sini, Daris mulai berbicara lagi kepada Ambar.


"Ke mana suamimu?" tanya Daris dengan dingin dan tegas.


Ambar tergelak mendengar pertanyaan Daris.


"A-aku sudah tidak mencintainya!" jawab Ambar tergagap.


Daris tersenyum remeh mendengar jawaban Ambar.


Sedangkan Merry berusaha menahan tawanya.


Ini sungguh konyol. Ambar hanya tua usianya saja, tapi pemikirannya masih bocah. Bahkan lebih bocah dari Luham dan Liam.


Cinta. Sudah tidak mencintai lagi katanya. Daris jadi penasaran apa alasannya.


"Kenapa bisa?" tanya Daris lagi.


Ambar menghembuskan napasnya dan langsung berakting sedih.


"Dia kasar Daris. Dia suka main perempuan. Dia tidak mau bekerja. Dia tidak jauh lebih baik dari kamu!" ucap Ambar dengan ekspresi sedih.


Sejujurnya Merry cemburu. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sangat cemburu saat Daris dekat dengan wanita lain. Apalagi sekarang ini dengan mantan istri yang bisa dikatakan aneh.


"Ternyata sekarang aku sadar. Tidak ada yang lebih dari kamu. Kamu adalah pria terbaik Daris. Kamu penyayang, penyabar--,"


"Syukurlah pria itu adalah suami saya. Saya sangat beruntung punya suami seperti Mas Daris!" sahut Merry memotong perkataan Ambar. Merry sudah tidak tahan lagi.


Selama ini dia hanya diam. Eh, semakin lama Ambar semakin menggila dan menjadi-jadi.


Ini tidak bisa dibiarkan. Merry harus ikut turun tangan. Tentu saja turun tangan bersama suami tercintanya.


Ambar menatap Merry dengan sinis.


Merry tersenyum manis kepada Ambar.


"Sebagai sesama wanita tentu Mbak tidak akan tega menyakiti wanita lain. Tentu saja Mbak tidak akan tega merebut hak milik orang lain. Merebut kepemilikan orang lain. Mas Daris milik saya, bukan milik Mbak Ambar!" ujar Merry dengan santai, tenang, tapi cukup menusuk hati Ambar.

__ADS_1


Seolah mengisyaratkan kepada Ambar. Jadi jadi pelakor.


"Dulu Mbak yang membuang Mas Daris kan? Bukan Mas Daris loh yang membuang Mbak! Mbak harus selalu ingat itu!"


"Masa sekarang Mbak memohon-mohon untuk kembali mengambil sesuatu yang sudah dibuang. Malu dong Mbak seharusnya. Mbak sudah membuangnya loh!"


Karena rasa cemburu yang begitu besar di hari Merry. Sehingga Merry tidak segan untuk berkata demikian kepada Ambar.


"Maaf Ambar. Aku udah nggak bisa sama kamu lagi. Semuanya sudah berakhir sejak lama. Tolong mengertilah!" ujar Daris berusaha berbicara sebaik mungkin.


Ambar yang merasa sakit hati mendengar perkataan Merry mendekat kepada Merry.


Dia tersenyum sinis kepada Merry.


Sedangkan Daris jadi khawatir jika Ambar menyakiti Merry.


Benar saja, Ambar mendorong Merry dengan sekuat tenaganya. Sedangkan Merry yang tidak siap dengan segala tindakan Ambar langsung terjatuh.


"Ambar, apa-apaan kamu!" teriak Daris, lalu dia membantu Merry berdiri.


"Aku nggak papa Mas!" ujar Merry sambil berusaha berdiri.


Namun, Merry langsung meremas perutnya karena sakit.


"Sayang, darah!" Daris panik saat melihat gamis warna cream milik istrinya terdapat darah.


Sejenak Merry melirik darah yang dimaksud oleh suaminya. Merry tidak mengerti ada apa dengan dirinya.


Sakit. Perutnya sangat sakit. Merry belum pernah merasakan perutnya sesakit ini. Dia berusaha menahan. Sampai akhirnya.


"Sayang, bangun, Sayang, Mer, Merry!" Daris merangkul istrinya yang pingsan.


Ambar yang melihat semua kejadian ini menjadi takut. Wajahnya memucat. Dia memang ingin membuat Merry menjadi jera. Tapi bukan seperti ini yang dia inginkan.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku, kamu akan menanggung resikonya!"


Ambar semakin ketakutan mendengar peringatan Daris kepadanya.

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Daris langsung menggendong Merry dan membawa ke mobil. Dia akan bergegas menuju rumah sakit.


Tentu saja banyak orang yang ikut mendekat. Tidak sedikit juga yang mengecam tindakan Ambar.


__ADS_2