
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Mutiara dengan bingung.
"Kenapa ada di sini? Apa Mbak lupa kalau Daris suami saya? Lalu apa salahnya seorang suami pergi bersama istrinya? Aku dan Mas Daris ini sudah sepaket Mbak, tidak dijual terpisah!"
ucap Merry manis sambil merangkul lengan suaminya.
Daris juga tersenyum kepada Merry.
"Mas aku haus, tolong pesankan aku minum. Sepertinya biasanya ya Mas!" ucap Merry sambil duduk di kursi tepat di samping kursi Daris tadi.
Daris juga langsung memesankan Merry minum. Sedangkan Mutiara hanya berdiri dan bingung dengan keadaan di sekitarnya.
"Silahkan duduk Mbak. Santai saja, saya tidak akan mengganggu kegiatan Mbak dengan suami saya!" ucap Merry sambil mempersilakan Mutiara yang masih berdiri untuk duduk.
"Saya ingin to the point Merry. Kamu sudah tahu kalau saya dan Daris memiliki skandal di masalalu. Tolong kamu relakan Daris untuk saya. Dia harus bertanggungjawab terhadap apa yang sudah ia lakukan. Saya juga akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak!" ucap Mutiara tanpa punya rasa malu.
Merry pura-pura kaget sambil menutup mulutnya. Lalu sepersekian detik ia langsung tersenyum remeh, "Saya akan merelakan Mas Daris kalau Mas Daris terang-terangan lebih memilih Mbak daripada saya. Namun, sayangan sudah bisa dipastikan kalau suami saya lebih memilih saya. Jadi tidak semudah itu saya merelakan Mas Daris untuk Mbak. Untuk anak-anak, walaupun saya jauh dari kata sempurna, tapi saya pastikan kalau seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini akan saya berikan kepada mereka!"
"Mas, aku mau bicara empat mata dengan Mbak Mutiara. Bisa Mas pergi dulu?" tanya Merry pada suaminya. Daris mengangguk setuju.
__ADS_1
"Mutiara, aku minta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu. Tapi dulu bukan semuanya salahku, dulu kamu sendiri yang terang-terangan menolak saat aku ingin bertanggungjawab. Untuk sekarang maaf aku sudah punya keluarga yang sangat aku sayangi. Maaf kalau aku nggak bisa sama kamu. Aku harap kita bisa berdamai dan menjadi teman yang baik. Dan aku harap kamu bisa hidup dengan baik dan segera bertemu dengan pria yang akan menyayangi kamu dengan tulus!" Sebelum pergi, Daris berkata demikian kepada Mutiara. Sedangkan Mutiara hanya melengos enggak melihat Daris.
Untuk ke sekian kalinya Daris berusaha menjelaskan. Semoga saja kali ini dengan adanya campur tangan Merry, semuanya bisa membaik.
Setelah kepergian Daris, tinggal tersisa Merry dan Mutiara.
"Mbak, aku tahu tahu Mbak Mutiara adalah orang yang baik. Bahkan sangat baik. Aku pernah mendengar cerita dari Mas Daris kalau dulu Mbak Mutiara adalah sahabat Mas Daris yang tulus dan baik. Wanita yang ceria, sholeha, pandai, dan ramah. Hanya saja karena ulah bejat suamiku Mbak jadi khilaf. Mungkin orang lain saat ini menilai Mbak adalah orang yang jahat karena berusaha merebut suami orang. Tapi aku tahu di relung hati Mbak yang paling dalam, Mbak adalah orang yang sangat baik. Mbak juga menyayangi anak-anak dan aku sangat bahagia saat anak-anakku disayangi oleh banyak orang." Merry berusaha meraih tangan Mutiara untuk digenggam. Spontan Mutiara langsung memandang Merry.
Merry tersenyum tulus kepada Mutiara. "Sebenarnya di relung hati Mbak yang paling dalam Mbak juga nggak mau kan merebut suami orang? Mbak hanya menuruti ego dan nafsu, lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Sebenarnya Mbak juga merasa bersalah saat menyakiti hatiku karena sebelumnya Mbak adalah wanita yang tidak pernah mau menyakiti hati wanita lain. Aku melihat adanya keraguan di mata Mbak saat mencoba menggoda suamiku, karena aku tahu sebenarnya Mbak bukanlah wanita penggoda, apalagi menggoda suami orang. Aku juga tahu sebenarnya Mbak tidak benar-benar mencintai suamiku. Mbak hanya merasa kesepian, lalu belum memaafkan keadaan yang dulu!" lanjutnya.
"Sok tahu kamu. Aku menginginkan suamimu karena aku mencintainya!" jawab Mutiara sambil menarik tangannya dari genggaman Merry.
"Kalau Mbak kesepian, kita bisa berteman Mbak. Tidak ada salahnya berteman. Kita bisa berbagi cerita agar Mbak tidak kesepian. Mbak pasti sudah kehilangan banyak sahabat termasuk Mas Daris sejak kejadian hari itu!" ucap Merry.
"Tidak semudah itu Merry. Aku sudah berubah. Aku bukan Mutiara yang dulu!" sanggah Mutiara.
"Memang bukan Mutiara yang dulu. Mutiara yang dulu adalah orang yang pemaaf dan ceria. Mutiara yang dulu sudah hilang akibat perbuatan suamiku. Apakah saat ini Mbak ingin balas dendam?" tanya Merry sambil melihat Mutiara dengan lekat.
Mutiara tersenyum menyeringai, "Aku hanya ingin Daris menjadi milikku!"
__ADS_1
"Dengan menjadikan Mas Daris sebagai milik Mbak berarti Mbak telah memisahkan aku dan Mas Daris secara paksa. Tentu Mbak tahu hari-hari Mas Daris akan terasa buruk dan sakit. Bukan hanya Mas Daris yang dipisahkan dengan aku, tapi juga anak-anak yang telah menjadikan aku sebagai suatu yang berarti di hidup mereka. Mbak hanya membuat Mas Daris dan anak-anak merasakan sakit seperti sakitnya Mbak saat menanggung kesakitan saat itu. Mbak hanya ingin membalas dendam!" jawab Merry.
"Mbak, aku adalah seorang istri dan ibu yang telah berjanji untuk memberikan seluruh hidupku kepada suami dan anak-anak. Tidak ada yang lebih penting selain melihat suami dan anak-anak bahagia dan hidup dengan tenang. Kalau Mbak mau balas dendam, silahkan balaskan dendam Mbak pada saya, jangan kepada suami dan anak-anakku. Silahkan tumpahkan seluruh dendam Mbak kepada saya. Saya yang akan menanggungnya. Tapi tolong jangan ganggu suami dan anak saya lagi!" lanjut Merry dengan sendu.
Mutiara langsung merubah raut wajahnya sendu dan melihat Merry yang sedang menunduk.
"Kalau saja memberikan suami dan anak-anak kepada Mbak tidak membuat mereka sakit hati, aku dengan senang hati mengalah. Aku tahu aku egois kepada Mbak, tapi bukankah ini terjadi karena pilihan Mbak yang menolak suamiku saat itu?"
"Maaf kalau saya banyak bicara Mbak. Saya minta maaf sebesar-besarnya dan silahkan kalau mau balas dendam, kepada saya saja!" lanjut Merry.
Tanpa berkata apapun, Mutiara langsung berlalu meninggalkan Merry tanpa berkata apapun. Sedangkan Merry langsung memejamkan mata.
"Maaf aku telah membawamu ke dalam masalahku yang rumit. Harusnya aku bisa membahagiakan kamu, tapi justru sebaliknya. Selama menikah aku hanya bisa membuatmu menderita!" ucap Daris pelan tepat di telinga kanan Merry yang secara tiba-tiba juga memeluk Merry dari belakang.
Mata Merry mengembun, lalu air matanya menetes. Inilah kehidupan yang sesungguhnya, terkadang manis, pahit, asin, dan asam bergantian atau muncul bersamaan. Tidak ada kehidupan yang hanya merasakan manis saja.
"Tenang saja, Mbak Mutiara orang yang baik. Dia tidak punya jiwa pelakor ataupun pendendam. Dia sungguh orang baik. Kita doakan agar dia bisa berdamai dengan keadaan!" ucap Merry pelan sambil memiringkan kepalanya saat berada di pelukan suaminya.
"Aku yang bejat ini sangat beruntung memiliki istri seperti kamu Mer. Terimakasih Sayang!" ucap Daris dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Merry.
__ADS_1