Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Yuk, Video Call Yuk!!


__ADS_3

Happy Reading Guys🤗🖤


 


Author POV


Hari demi hari terus berganti. Jika hari saat Emir tidur di rumah Mommy Tyas adalah hari Minggu, tepat hari ini adalah empat hari setelah hari itu.


Di sebuah butik yang mewah. Mulai dari karyawan, pengunjung, sampai pemilik butik melakukan aktivitasnya masing-masing. Jika karyawan melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar agar para pengunjung puas dengan pelayanan di butik tersebut, maka para pengunjung sibuk membeli atau bahkan hanya sekedar melihat sesuatu yang memang ia perlukan dan inginkan. Sedangkan pemilik butik mewah ini yang selalu ditemani bodyguard cantiknya sedang disibukkan oleh tamu yang tak lain adalah rekan seprofesinya dengan.


"Dingin sekali di ruangan ini!" keluh seorang desainer pria yang usianya sudah tidak muda lagi. Pria tersebut adalah Oppa Syut, yang juga ditemani oleh bodyguard lelakinya. Bodyguard Oppa Syut tak kalah cuek dan dingin dari Merry.


"Oh iya Maaf Oppa!" sahut Mommy Tyas cepat.


"Merry tolong bantu Mommy untuk mematikan AC nya!" perintah Mommy Tyas dengan khawatir.


"Maaf ya Oppa, saya lupa kalau Oppa tidak kuat dengan dinginnya AC!" Mommy Tyas meminta maaf pada Oppa Syut. Beliau lupa kalau Oppa Syut tidak bisa memakai AC.


"Tidak apa-apa, santai saja!" jawab Oppa Syut dengan tersenyum santai.


Merry yang baru saja mengambil remout AC untuk mematikan AC kembali ke tempat semula. Dia duduk di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut. Tanpa sengaja Merry melihat bodyguard milik Oppa Syut yang setia berdiri di belakang Oppa Syut.


Nggak capek apa tuh orang berdiri terus?batin Merry dalam hati dengan tetap melihat ke arahnya.


Mungkin itulah yang dinamakan the real of bodyguard, sedangkan Merry kan bodyguard ala-ala.


Tiba-tiba pria itu menatap balik Merry. Seketika Merry langsung membuang tatapannya ke arah lain. Jangan sampai tuh bodyguard baper gara-gara dilihatin Merry.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Merry fokus melihat Mommy nya yang sedang berbincang-bincang dengan Oppa Syut.


Sepertinya obrolan mereka bukan obrolan yang penting, terbukti berkali-kali mereka tertawa. Sepertinya hanya sebuah kunjungan sebagai sarana untuk mendukung sesama rekan seprofesi.


Kepala pasti tegang kalau hanya fokus pada satu titik, jadi Merry memutuskan untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Tanpa sengaja Merry kembali melihat bodyguard milik Oppa Syut yang ternyata sedang menatap dirinya. Hanya ekspresi datar yang diberikan oleh Merry padanya.


Pria itu bodyguard baru, jadi Merry tidak mengenalnya. Sedangkan bodyguard yang lama tentu Merry mengenal karena memang Oppa Syut sudah berkawan lama dengan Mommy Tyas.


Bodyguard baru milik Oppa Syut itu tiba-tiba mengedipkan mata kanannya dengan genit pada Merry. Brrr, membuat Merry ingin mual saja.


Merry langsung tersenyum miring meremehkan pria itu.


Dasar Crocodile!! ejek Merry dalam hati dengan tetap tersenyum miring.


Ya begitulah kehidupan, pasti ada bumbunya.

__ADS_1


******


Semua pertemuan telah usai. Oppa Syut telah pulang bersama bodyguard crocodile nya.


Namun, Merry tetap setia duduk di sofa. Sedangkan Mommy Tyas pergi untuk bersapa ria dengan pengunjung butik.


Merry mengotak-atik handphone nya untuk menghubungi orang kepercayaannya yang dipercaya untuk mengelola tempat kost. Semua masih aman dan semoga selalu aman, ya walaupun namanya masalah pasti ada saja.


Ting Ting Ting


Merry ter lonjak kaget saat mendengar suara jam antik milik Mommy Tyas yang berbunyi.


"Heh udah jam empat pas, bunyi kan Lo Wis?"


Merry berbicara pada jam antik yang menempel di dinding yang ia beri nama Ceriwis. Kenapa Ceriwis? Karena jam itu selalu membunyikan alarm nya setiap satu jam sekali, tepat saat pukul 6, pukul 7, pukul 8, dan seterusnya yang membuat Merry terkejut saat berada di situ.


Kalau jam lain biasanya pada diam, jam itu banyak omong tiap satu jam sekali, jadi Merry memanggilnya ceriwis.


"Kaget gue!! Seneng kan Lo?" Merry memaki-maki jam tersebut.


Tik tik tik. Detik jam tersebut terus berbunyi untuk merubah waktu yang sebelumnya menunjukkan pukul 16.00 WIB menjadi 16.01 WIB.


Kriing kriing kriing. Handphone Merry bunyi menunjukkan adanya panggilan video call dari seseorang yang akhir-akhir ini sering Merry pikirkan.


"Hmm sekarang giliran nih handphone!" gerutu Merry.


Kriing kriing kriing. Nada dering itu kembali berbunyi. Namun, Merry tetap membiarkannya saja.


Mungkin di tempatnya Daris bertanya-tanya kenapa Merry tidak mengangkat. Ini kali pertama bagi Daris memvideo call Merry, eh malah nggak diangkat, kasihan!


Kling


Pak Daris:


Ini anak-anak pengen video call!


Merry membacanya langsung memutar bola mata malas. Mentang-mentang yang udah punya anak, jadi anaknya dibuat alasan. Bilang aja mau lanjut pdkt.


Kriing kriing kriing


Setelah mengirim kode dari chat WA, Daris kembali memvideo call. Ya udah deh terpaksa Merry mengangkatnya.


Nampak dari layar ada duda tampan bersama dua anaknya. Bisa ditebak kan siapa anaknya? Ya pasti Emir dan Luham. Terus Liam mana? Ya biasa, pelet Merry nggak mempan untuk Liam.


"Hallo Bundaa!" teriak Emir yang pasti bahagia melihat wajah emaknya.

__ADS_1


"Auntie!!" sapa Luham dengan semangat tapi masih kalem.


"Hai sayang!!" sapa balik Merry. Please jangan salah paham! Itu manggil sayang buat Emir dan Luham kok, bukan untuk bapaknya.


"Mer, weekend kita jadi jalan ya! Hari Sabtu!" Daris langsung menyahuti sapaan Merry barusan.


"Iyaa Auntie, kita jalan-jalan!" sahut Luham penuh semangat.


"Wah, boleh-boleh, mau ke mana?" tanya Merry yang dunianya telah teralihkan oleh mereka.


"Tebun biantang Bunda!" Kali ini Emir yang menyahuti.


Heh, Merry tergelak, mantep banget dah kencan pertamanya ke kebun binatang. Bukan ke tempat-tempat romantis seperti di film-film.


"Anak-anak minta ke situ Mer! Sekalian ngajarin anak-anak tentang hewan dan menumbuhkan kepedulian mereka pada hewan!" ujar Daris menjelaskan alasan kenapa kencan pertama ke kebun binatang.


Merry manggut-manggut. Baiklah-baiklah, memang begini kalau punya anak. Tidak masalah, mari kita ke kebun binatang! Yok cus ke tebun binatang kalau kata Emir.


"Oke deh, Auntie ngikut aja!" balas Merry.


Ya gini nih bingung kalau yang satunya manggil bunda sedangkan yang satunya lagi manggil auntie, Merry bingung mau membahasakan dirinya siapa. Alhasil auntie lah yang Merry gunakan.


"Kalian kok kelihatan semangat banget sih?" tanya Merry pada tiga lelaki yang terlihat dari layar handphone nya.


"Semangat dong Auntie, kan mau jalan-jalan sama Auntie Sabtu besok!" jawab Luham lalu tersenyum menampakkan deretan giginya.


"Besok masih Jumat Kak Luham!" Daris menggoda Luham seraya tertawa.


"Ih, iya Pa, Luham ngerti! Itu kan hanya ungkapan!" jawab Luham membela dirinya sendiri. Anak pintar, mantap jawabannya. Hari ini memang masih hari Kamis sih.


Sedari tadi Merry juga tertawa melihat kehangatan keluarga Daris. Namun, sangat disayangkan Liam tidak ikut serta. Seperti biasa, Merry sudah tahu alasannya.


"Liam mana?" Sengaja Merry menanyakan di mana Liam.


"Liam nonton tv Auntie!" jawab Luham.


Si kecil Emir tetap diam di depan handphone seraya menghayati melihat wajah Bundanya yang cantik. Eh, jangan salah, yang memegang handphone nya Emir loh! Sedangkan Luham dan Daris berdesakan berebut agar bisa terlihat di kamera. Mereka berdua kalah oleh seorang pangeran kecil yang penuh kuasa.


"Kenapa nggak ikut?" tanya Merry dengan raut wajah yang dibuat sebahagia mungkin, walaupun dalam hatinya sedih karena tidak diterima dengan tangan terbuka oleh Liam.


"Nggak tahu Auntie, mungkin Liam ingin menonton TV!" jawab Luham.


Daris hanya diam mendengarnya. Tentu sebagai orang tua dia mengerti dengan keadaan ini.


"Jangan lupa Sabtu ya Auntie!" Lanjut Luham memberi alarm peringatan Merry.

__ADS_1


"Iya sayang!" Merry terkekeh karena sikap Luam. Ya ampun, anak ini.


__ADS_2