
Tiga minggu telah berlalu sejak pertemuan Daris dan Merry hari itu. Mereka menjalani kehidupannya masing-masing. Merry menghabiskan waktunya bersama Chan yang tiba-tiba ingin berlama-lama tidur di rumah Omanya. Namun, bukan berarti Merry tidak pernah merindukan anak-anak Daris.
Berbeda dengan Daris, dalam tiga Minggu in, apa yang ia takutkan sudah berulang kali terjadi. Emir selalu menanyakan keberadaan Merry.
Namun, walau demikian Daris tidak pernah berniat untuk menghubungi Merry lagi.
Yang Daris lakukan hanya membohongi Emir kalau Merry sedang sibuk bekerja, jadi tidak bisa dihubungi.
Sedangkan Luham berubah menjadi anak yang pemurung sejak dua minggu yang lalu. Jujur Luham bertanya-tanya kenapa Merry tidak pernah muncul lagi. Seminggu lagi ia akan lomba menyanyi, apakah itu artinya Merry tidak akan hadir?
Luham melihat handphone nya, Luham dan Liam memang difasilitasi handphone oleh papanya. Luham membuka foto profil WhatsApp mamanya. Difoto itu nampak mamanya sedang foto bersama papa sambungnya dan adik barunya.
Mamanya sudah punya anak lagi perempuan yang usianya satu tahun setengah. Seorang anak yang wajahnya bule banget karena papa sambungnya memang orang bule.
Chatting terakhir dengan mamanya adalah mamanya akan menemui mereka enam bulan lagi. Mamanya memang hanya pulang ke Indonesia setahun sekali.
Luham jadi menyesal, kenapa ia tak meminta nomor telepon Merry. Kalau punya kan enak dia bisa menghubungi Merry secara mandiri tanpa harus memohon pada papanya yang pada akhirnya juga tidak dituruti.
"Luham!" panggil Liam dari belakang.
"Ada apa?" jawab Luham.
"Kamu berubah, kamu bukan Luham yang aku kenal!" ujar Liam.
"Kenapa?" Luham bingung dengan pernyataan Liam.
"Kamu bilang Mama kita hanya satu, kamu udah mengingkari janji kita!" Liam berusaha mengingatkan janji mereka dulu.
Luham merasa bersalah pada Liam karena dia telah mengingkari janjinya.
"Maafin aku Liam! Aku suka iri saat melihat Grace yang punya Mama! Jadi aku ingin punya Mama juga!" tutur Luham yang merasa bersalah pada Liam.
Grace adalah anak mamanya dengan suami barunya.
"Emir pasti pengen punya Mama juga!" lanjut Luham yang pembicaraannya terkesan dewasa, tapi tetap dengan bahasa anak seusianya.
"Maafin aku ya Liam!" Luham meminta maaf lagi pada Liam.
"Sekarang Autie Merry hilang, apa kamu tahu ke mana perginya Auntie Merry?" tanya Luham.
Mereka sedang ngobrol di atas tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Anak kembar Daris yang usianya sepuluh tahun itu membicarakan tentang keberadaan Merry.
"Iya, Auntie Merry tidak akan bersama kita lagi!" jawab Liam tanpa ragu.
"Kenapa?" Luham terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Liam.
"Aku yang menyuruh Auntie Merry pergi!!" jawab Liam jujur.
__ADS_1
Luham semakin terkejut, kenapa Liam tega.
"Apa salah Auntie Merry Liam? Kenapa kamu menyuruh Auntie Merry pergi?" Luham tak terima dengan apa yang telah dilakukan Liam.
Liam hanya diam tak menjawab pertanyaan Luham. Jujur Liam juga rindu dengan Merry. Jika sebelumnya dia sangat menolak dengan kehadiran Merry. Saat ini, hatinya tidak menolak tapi juga tidak mengharapkan.
"Udah malam Liam, ayo tidur!" Luham enggan untuk membicarakan ini lagi. Yang ada di otak Luham saat ini hanya bagaimana caranya agar ia bisa membuat Merry bersama mereka lagi seperti dulu.
Luham menyelimutkan selimutnya sampai leher, lalu tidur memunggungi Liam. Sedangkan Liam yang masih belum tidur sejenak melihat Luham, lalu ikut tidur di samping Luham.
*****
Di kediaman Merry.
"Bunda!" panggil Amar pada Merry yang sedang duduk di teras rumah.
Amar memberikan secangkir coklat panas pada Merry.
"Ngapain Bunda?" tanya Amar lagi. Sumpah, Merry mual mendengarnya.
"Ngobrol sama nyamuk!" jawab Merry asal.
"Wah, Bundanya Chan luar biasa yaa!" seru Amar sembari tertawa.
"Gue bukan Emak Lo Kak! Jijik deh dipanggil Bunda!" Sudah tiga minggu Amar punya bahan terbaru untuk menggoda Merry. Mengikuti gaya Chan yang memanggil Merry bunda.
"Nggak Lo kasih racun kan cokelatnya?" tanya Merry sambil mengangkat gelasnya.
"Ada, racun tikus!" jawab Amar enteng.
"Ya udah buat Lo aja coklat panasnya deh, gue ikhlas!" Merry menyerah kan cangkir pada Amar.
"Ya kagak lah Mer, ya kali gue tega ngeracun Bundanya Chan! Kalau gue mau ngeracun Lo, udah gue racun Lo dari dulu!" Amar menolak cangkir Merry sembari berkata demikian.
Semua pembicaraan mereka hanya bercanda.
Merry meminum coklat panas pemberian Amar.
"Lo mau nggak ikut kita hidup di Amerika?" tawar Amar.
Merry tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Nggak mungkin lah, gue kan bareng Mommy di sini!" tolak Merry. Bulan depan Amar akan pergi ke Amerika selama tiga bulan, tentu Chan ikut serta.
"Ya udah!" jawab Amar.
"Lo serius Mer, tadinya mau nerima Daris?" lanjut Amar bertanya. Merry menjawabnya dengan anggukan, memang begitu faktanya.
__ADS_1
"Terus kalau seumpama Daris minta lagi buat Lo jadi istrinya, Lo mau nggak?" tanya Amar serius.
"Enggak lah, kan anaknya nggak mau sama gue!" jawab Merry.
"Kalau seumpama anaknya mau gimana?" tanya Amar lagi.
"Nggak mungkin sih kayanya!" Merry rasa itu tidak mungkin.
"Ya udah sih, ngapain bahas itu! Yang udah ya udah! Santuy aja lah!" lanjut Merry dengan santai.
"Gue bukan Lo yang dramatis Kak!" lanjut Merry lagi sembari tertawa mengejek Amar. Amar ikut tertawa, minta ditabok nih Merry, walaupun omongannya bener juga sih!
"Gue kira Lo nggak mau sama duda Mer?" ujar Amar.
"Tau Lo mau, nggak usah jauh-jauh sama Daris! Di sebelah Lo ini juga duda!" lanjut Amar sembari terkekeh.
"Kalau gue nikah sama Lo Kak, bisa gila gue!" jawab Merry sambil terkekeh juga.
"Udah ih, dramatis banget! Gue mau tidur!" Merry beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam.
"Mer, cangkir Lo ketinggalan!" seru Amar. Merry pun berbalik mengambil cangkir coklat panas pemberian Amar tadi.
"Padahal gue mau pura-pura lupa, tapi ngapain Lo ingetin sih Kak?" Jadi Merry hanya pura-pura lupa, kakinya malas menuju dapur untuk mencuci cangkir kotornya. Amar tertawa mendengarnya. Merry pun pergi meninggalkan Amar sendirian di teras.
"Karena yang namanya pura-pura itu nggak enak Mer!" ucap Amar pelan dengan wajah yang berubah sendu.
*****
Belum sempat naik ke tangga, Mommy Tyas memanggil Merry.
"Mer, besok jangan lupa jam delapan ya!" Mommy Tyas mengingatkan Merry tentang schedule mereka besok.
Besok Mommy Tyas akan mengadakan persiapan launching brand baju muslim untuk ramadhan dan lebaran karena satu bulan setengah lagi memasuki bulan ramadhan.
"Siap Mommy!" jawab Merry sambil memberikan dua jempolnya.
Akhirnya, Merry kembali melangkahkan kakinya untuk menapaki tangga.
Sampai di lantai dua, Merry melihat kamar Chan terbuka, lalu Merry pun melangkah menuju kamar Chan. Saat melihat dari pintu, ternyata Chan sudah tidur tapi pintunya tetap terbuka.
Merry pun masuk untuk menyelimuti Chan, mematikan lampu, lalu kembali ke luar dan menutup pintunya.
Selamat malam dan selamat tidur 🌙
*
*
__ADS_1