
Luham tanpa sengaja melihat keberadaan Merry.
"Bunda!" panggil Luham.
Merry langsung menghapus air matanya dan memberikan senyuman termanisnya.
Luham berlari ke arah Bundanya.
"Bunda kenapa di situ?" tanya Luham.
"Eh.. eh enggak, Bunda baru aja di sini! Kakak lagi apa?" tanya Merry sambil melihat ke arah Liam juga.
"Bunda habis nangis ya?" tanya Luham sambil mengamati wajah Merry ada sisa air mata.
"Bunda habis ngiris bawang merah, perih, jadi keluar deh air matanya hehehe!" Merry beralasan sembari langsung membersihkan sisa air mata yang masih tersisa.
"Oh, gitu ya!" Luham percaya pada alasan bohong yang dibuat oleh Merry.
"Aduh aduh, Luham mau ke kamar mandi dulu Bunda!" pamit Luham yang seperti sakit perut dan bergegas berlari menuju kamar mandi.
Di ruangan ini, hanya tersisa Merry dan Liam. Merry mencoba memberanikan diri untuk mendekat pada Liam.
Melihat kedatangan Merry, Liam ingin bergegas pergi.
"Tunggu Kak!" cegah Merry. Liam pun berhenti.
"Bunda mau ngobrol dong, boleh kan?" tanya Merry.
Liam nampak melihat ke arah Merry.
"Gimana Kak? Sebentar aja kok!" Merry berharap semoga Liam bersedia.
"Iya," jawab Liam singkat.
"Sini duduk sama Bunda di sofa!" ajak Merry.
Ketika mereka sudah duduk bersandingan, mereka saling diam beberapa saat.
"Bunda boleh peluk gak?" tanya Merry dengan ragu.
"Kenapa?" tanya Liam dengan bingung karena Bundanya ingin memeluk dirinya.
"Nggak papa, Bunda kangen deh sama Kakak, pengen peluk aja! Boleh kan?" tanya Merry.
"Iya, boleh!" jawab Liam.
Merasa mendapat lampu hijau dari Liam, Merry langsung tersenyum bahagia. Tanpa ragu Merry langsung memeluk Liam.
Merry memeluk Liam dengan erat dan sayang. Merry juga mencium puncak kepala Liam beberapa kali.
Mata Merry berembun, tapi dengan sekuat tenaga Merry menahan agar tak meneteskan air matanya. Sedangkan Liam hanya diam di pelukan Merry.
Liam merasakan kehangatan pelukan yang selama ini ia rindukan. Pelukan seorang ibu yang lama tak ia rasakan.
"Kakak udah gede ya!" ucap Merry sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nanti kalau Kakak udah gede banget, tetep mau ya kalau Bunda peluk gini?" tanya Merry yang tak mendapat jawaban dari Liam.
Merry merasakan kenyamanan saat memeluk Liam. Rasa sayang Merry tak bisa diukur dengan apapun kepada semua anak-anaknya.
"Bunda itu sayang sama Kakak! Kalau Kakak sayang nggak sama Bunda?" tanya Merry.
Liam hanya mematung di pelukan Merry.
"Nggak papa deh nggak dijawab, yang penting Kakak tahu kalau Bunda itu saayang banget sama Kakak, sama Luham, dan Emir!" ucap Merry.
Rasanya Merry ingin berkata-kata banyak kepada Liam, tapi Merry bingung bagaimana cara membicarakannya pada Liam.
"Kakak kalau mau peluk Bunda kapanpun itu boleh loh! Langsung peluk Bunda aja! Kakak boleh cerita apapun sesuka hati Kakak! Bebas deh!!" ucap Merry sambil tertawa kecil.
Merry rasa ia tak perlu berkata-kata banyak, Merry takut Liam merasa terintimidasi dalam hal ini.
Biarkan Merry bertindak dan membuktikan bahwa ia pantas menjadi ibu untuk mereka.
Dalam hal berkata-kata, Merry sangat menjaga perkataannya agar tak menyinggung hati Liam apalagi dengan keadaan Liam yang belum bisa menerima dirinya. Merry takut nanti bukannya mendekatkan malah menjauhkan dirinya dengan Liam.
Biarkan nantinya Liam merasakan kasih sayang yang Merry berikan.
*****
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB.
Merry berdiri di pinggir jendela menunggu
kedatangan Daris. Ketiga anaknya tadi pergi dijemput Raya. Tadi Raya ke sini dan sekarang mengajak mereka pergi ke mall. Jadilah Merry sendirian di rumah.
Cukup lama menunggu, datanglah Daris dengan membawa dua paper bag yang berusi makanan.
"Waalaikumussalam," Merry menjawab salam Daris sambil mendekat ke suaminya.
"Anak-anak masih belum pulang?" tanya Daris karena ia memang tahu jika anak-anak sedang pergi bersama Raya.
Merry selalu memberi tahu kepada Daris tentang apapun yang berhubungan dengan rumah dan anak. Anak-anak pergi juga dengan seizin Daris.
"Iya belum!" jawab Merry sembari mengamati penampilan Daris yang cukup berantakan.
Merry juga mencium aroma rokok yang kuat dari Daris.
"Kamu merokok ya Mas?" Bukan Merry namanya jika tak langsung bertanya.
"Iya, nggak enak sama klien!" jawab Daris sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa kepada Merry.
"Tapi pasti banyak banget, itu aja aromanya sampai menyengat gini!" protes Merry.
"Nggak enak sama klien kalau nggak ikut!" jawab Daris sambil memijat pangkal hidungnya.
"Ya nggak semuanya harus diikutin dan nggak enak, nanti kalau kliennya mau bermalam dengan wanita, kamu juga mau ikut-ikut?" ucap Merry ceplas-ceplos.
"Aku sudah punya istri di rumah, nggak mungkin kayak gitu!" sanggah Daris.
Merry tersenyum, "Udah sana mandi!" perintah Merry.
__ADS_1
"Iya, aku mau mandi dulu!" Setelah berkata demikian, Daris berlalu pergi.
Setelah kepergian Daris, Merry nampak berubah dingin seperti Merry yang dulu.
"Kita akhiri sekarang!" ucap Merry.
*****
Di kamar
Tak begitu memperhatikan keadaan sekitar, Daris langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Bahkan, setelah keluar dari kamar mandi pun Daris tak melihat ada lima lembar foto di atas ranjang.
Hingga pada akhirnya, saat dirinya berniat untuk merebahkan tubuhnya sebentar.
Duar, bagai tersambar petir, dadanya berdegup kencang dan matanya tak mampu berkedip.
Daris melihat lima lembar foto tergeletak di ranjangnya.
Tangan Daris bergetar mengambil satu persatu foto itu. Kakinya lemas dan ia terduduk lemah di ranjang.
Ia amati satu persatu foto itu. Tak puas hanya menemukan foto itu, Daris langsung menggeledah setiap sudut ruang kamar mencari apakah ada foto lain selain foto ini?
Tak menemukan apapun selain foto tersebut, Daris langsung berlari keluar kamar.
"Mer Merry?" panggil Daris setengah berteriak.
"Mer?"
"Iya Mas, ada apa?" jawab Merry yang datang dari arah dapur.
Sadar karena ia masih memegang foto itu, Daris segera menyembunyikan foto tersebut di balik punggungnya.
Merry penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Daris.
Merry juga melihat raut gugup, panik, dan khawatir yang bercampur menjadi satu di wajah Daris dengan jelas.
"Ada apa Mas?" tanya Merry.
"Mer, apa ada orang yang datang ke sini?" tanya Daris dengan gugup.
"Hanya Raya!" jawab Merry seadanya.
Daris nampak bingung dan cemas.
"Terus, apa ada yang masuk ke kamar kita selain kamu?" tanya Daris dengan ragu.
Merry nampak mengingat.
"Enggak Mas, cuma aku aja kok yang masuk ke kamar!" jawab Merry yang bingung kenapa Daris bertanya demikian.
Jantung Daris seolah berhenti berdetak. Rasanya, dunianya runtuh. Daris menatap Merry dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
Secara spontan, Daris langsung memeluk Merry dengan erat. Daris memeluk istrinya seolah-olah istrinya akan pergi dan ia tak ingin kehilangan istrinya.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" tanya Merry dengan bingung.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku dan anak-anak!! Aku mohon jangan pergi, aku bisa menjelaskan semuanya!" suara Daris terdengar bergetar karena menangis. Bahkan, Merry bisa merasakan jika Daris sedang takut dan panik.