Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Si Kembar


__ADS_3

Mobil berhenti di depan gerbang rumah minimalis yang sederhana tapi elegan.


Suasana perumahan di sini nyaman dan asri, sepertinya orang-orang di sekitar sini juga tidak terlalu individu seperti di perumahan Mommy Tyas yang pada dasarnya perumahan rumah mewah dan besar.


Tin tin tin


Pak Supir mengklakson mobil barulah pintu gerbang dibuka. Jadi di sini butuh kode-kode terlebih dahulu ya, tidak seperti di rumah Mommy Tyas yang satpamnya selalu siaga.


Saat keluar dari mobil Merry tersadar ternyata sudah sejauh ini kedekatannya dengan Emir, sampai-sampai ikut ke rumahnya.


Pangeran kecil masih setia tidur di gendongan Bapaknya.


"Ayo masuk Merry!" ajak Daris. Mereka berjalan beriringan seperti keluarga bahagia. Belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan munculah dua makluk kembar kecil yang tak kalah tampannya dengan Emir.


"Paapaaaa!" Mereka berteriak sembari berlari berebut memeluk Daris. Merry tersenyum saat melihat, gemoynyaa. Karena berisik, jadilah pangeran kecil bangun dari tidurnya. Bibirnya sudah meyot-meyot siap menurunkan hujan badai kembali.


"Eeh Adek bangun, duuh nggak boleh nangis ada Auntie loh!" Si Bapak yang penyayang langsung mengeluarkan jurus Auntie Merry supaya Emir tidak mewek seperti biasanya saat bangun tidur.


Nah kaan bener, Emir langsung nggak jadi nangis, bahkan si anak pintar ini langsung minta turun dari gendongan.


Emir langsung menarik tangan Merry membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ayo masuk!" Si Bapak pun turut mengajak dua bocah kembar yang dari tadi hanya melihat Merry untuk masuk juga.


Emir terus menarik Merry untuk naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Merry sebenarnya tidak enak seperti ini, pergi ke rumah orang asing tapi langsung masuk ke kamar, yaa walaupun kamar anaknya sih. Tapi mau gimana lagi, tuan rumah juga membiarkan.


Merry melihat Emir yang kesusahan membuka pintu kamar bertanya, "Adek nggak bisa?" Emir pun mengangguk. Rupanya anak ini belum bisa membuka pintu kamar. Entah karena memang dimanja atau karena apa Merry tidak mengerti, jadi ia tak ingin menyimpulkannya terlebih dahulu.


Tapi dulu seingat Merry saat Chan seusia Emir sudah bisa membuka pintu kamar. Chan suka tiba-tiba membuka pintu kamar Merry dan mengusilinya. Tapi, yaa mungkin tiap anak memang berbeda atau bisa saja memang pola asuhnya juga berbeda.


Akhirnya, Merry pun membantu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar bersama Emir. Si kecil langsung berlarian memperkenalkan semua yang ada di situ.


"Mammaa ini yang besyal tempat tidul Kakak, telus yang tecil tempat tidul Emil!" Merry tersenyum melihat dua tempat tidur berbeda ukuran yang dikenalkan oleh Emir. Tempat tidur yang besar memakai sprei bermotif polos warna abu-abu, wah punya selera yang sama dengan Merry. Sedangkan tempat tidur yang kecil memakai sprei bermotif Tayo, waah lutunyaa pasti ini tempat tidur Emir.


"Ini tempat belajal Kakak!" Emir berganti mengenalkan tempat belajar Kakaknya yang mejanya berukuran sedikit lebih panjang dengan dua kursi yang ada di situ.


Acara memperkenalkan barang-barang tidak hanya berhenti sampai di situ, semua hampir di kenalkan bahkan almari Emir yang lagi-lagi gambar Tayo pun dikenalkan juga.

__ADS_1


Sampai di sini Merry jadi mengira-ngira apa iya anaknya Pak Daris ternyata ada tiga, ia kira hanya satu Emir saja, apa kira-kira masih ada lagi anak yang lain? Merry jadi bingung anak sudah sebanyak ini karena masalah apa kok malah pisah. Cowok semua pula anaknya, itu pun Merry belum tahu kalau ternyata ada anak yang lain kan? Bisa jadi lebih dari tiga.


Pintu yang memang tadi tidak ditutup oleh Merry membuat Daris dengan bebas bisa melihat dari pinggir pintu. Tak ketinggalan dua bodyguard kecil juga mengikuti dibelakangnya.


Merry sedikit terkejut saat tahu ternyata ada Daris. Tapi terkejutnya langsung teralihkan saat melihat dua bocah kembar yang sedang bersama Daris.


Salah satunya menampilkan ekspresi datar tapi Merry juga bisa melihat kalau anak itu bingung dengan kehadirannya, sedangkan yang satunya lagi hanya menatap Merry dengan tajam. Kalau saja itu bukan anak kecil, pasti Merry akan ganti menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam.


"Emir, ayo Auntienya diajak ke ruang keluarga!" ajak Daris pada putranya. Mereka pun berjalan menuju ruang keluarga dengan salah satu si kembar yang tetap menatap Merry dengan tajam.


Sumpah, nih anak tajem banget tatapannya.


Di ruang keluarga Emir langsung sibuk dengan mainan Bus Tayonya, sedangkan si kembar menonton kartun di tv.


"Kamu hebat ya, biasanya Emir kalau punya luka gitu merengek terus, tapi lihat aja sekarang enggak!" ujar Daris yang tiba-tiba duduk di samping Merry, tapi tidak terlalu dekat karena Daris juga menghargai wanita. Emir tadi terjatuh saat lari-larian, akhirnya kepalanya bocor. Daris yang sangat posesif pada anak-anaknya tidak tunggu lama langsung membawa ke rumah sakit. Eh, dari rumah sakit ketemu sama Merry.


"Kamu tadi di rumah sakit ngapain?" tanya Daris.


"Nungguin Mbok aku, asisten rumah tangga lagi opname!"


"Enggak, tadi Mommy aku yang jagain di ruangan!" jawab Merry.


Merry tersenyum, lucu juga sih, tidak mengira dan lebih ke sebuah kebetulan beruntun bisa ketemu lagi gini.


"Emir itu usianya empat tahun, sedangkan kembar itu usianya sepuluh tahun, namanya Luham dan Liam!" ujar Daris.


Merry bingung membedakannya, asli plek ketiplek Luham dan Liam ini. "Kembar seiras ya Pak! Bingung saya bedainnya!" ucap Merry yang sangat tertarik membedakan mana Luham dan Liam.


Daris terkekeh, "Kalau baru awal-awal gini jelas bingung, itu yang duduknya di sebelah kiri namanya Luham sedangkan yang sebelah kanan namanya Liam, ada bedanya kok kalau diamati dan udah sering bareng!"


Merry terus mengamati anak kembar yang duduk di karpet bawah sambil fokus menonton. "Jelas sih ada bedanya Pak, emang bedanya apa?"


"Liam tingginya lebih pendek dari Luham, tapi hidungnya lebih nongkrong daripada Luham!" jawab Daris.


Merry merasa gemasshh, dulu ia juga punya teman kembar saat SMA, ya gitu kembar seiras tapi tentu ada perbedaannya.


"Liam sedikit nakal daripada Luham! Tapi Liam juga yang bikin ramai di rumah karena Luham anaknya pendiam!" lanjut Daris yang sangat semangat bercerita tentang anak kembarnya.

__ADS_1


"Kalau buat orang baru seperti kamu gitu sih saya jelasin perbedaan mereka, tapi coba kalau seperti saya yang tiap hari bareng, lihat mereka saat sendirian aja saya bisa tahu itu Luham atau Liam, hafal banget!" lanjut Daris lagi yang membuat Merry tertawa.


"Bapaknya Pak, dari bayi udah bareng!" ujar Merry.


Walaupun sebenarnya Merry penasaran kenapa Daris dan mantan istrinya berpisah, tapi Merry rasa itu sangat tidak pantas kalau Merry harus bertanya lalu membahasnya mengingat mereka hanya kenal sekadarnya seperti ini.


Ya walaupun, tanpa Merry sadari sebenarnya ikut ke rumah sampai dipanggil Mama oleh anaknya, itu artinya ia sudah berjalan cukup jauh.


"Ini Pak Bu minumnya!" Bibi yang membantu di rumah Daris datang dengan membawakan jus jeruk dan beberapa snack.


Melihat jus milik Papanya, Liam langsung bangun dan menyeruput jus milik Papanya.


Tapi yang membuat Merry merasa bego, saat Liam mau kembali bergabung dengan Luham masih saja dia menyempatkan untuk melihat Merry dengan tajam. Merry merasa berkaca akan sifatnya selama ini.


"Silahkan diminum!" Daris mempersilahkan.


"Terimakasih!" jawab Merry lalu juga meminum jusnya, tenggorokannya memang sangat kering. Jadi, jus jeruk sangat pas untuk mengatasinya.


"Mama nanti malem tidul baleng Emil dan Kakak tan?" Si kecil tiba-tiba datang ke Merry dan bertanya hal yang membuat Merry jadi ternganga.


Tadi diajak pulang, sekarang ditawari diajak tidur bareng. Suatu permintaan yang tentu sulit dipenuhi oleh Merry. Si kembar Luham dan Liam juga langsung melihat Merry.


Duh, sayangnya Auntie bodyguard Dek, bukan baby sitter.


"Gimana kalau kapan-kapan Adek sama Kakak-Kakak aja yang tidur di rumah Mommynya Auntie, pasti Mommynya Auntie seneng banget!" Entah dorongan dari mana Merry berani menawarkan hal demikian pada Emir dan si kembar.


Asalkan anaknya aja yang nginap, nggak usah sama bapaknya juga!! Merry rasa itu justru lebih baik daripada harus tidur di sini yang artinya seatap dengan Daris.


Emir sangat antusias mendengarnya, ia tidak masalah mau tidur di mana saja asalkan bersama Mamanya.


------------------------


Jangan lupa like, komen, vote, dan jadikan favorit yaa🖤


Makasiiih,, Luv Luv buat kalian 🖤🖤


Stay safe, stay healthy!!

__ADS_1


__ADS_2