Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Style Rambut Ala Merry


__ADS_3

"Kak, ajarin aku dong style rambut Kak Merry dulu pas main basket, asli ih keren banget!"


Masih di rumah pak duda beranak tiga yang katanya baik hati. Kali ini Merry ikut masuk ke kamar Raya. Raya ngotot banget pengen deket-deket Merry terus, nggak mau ngalah sama Emir.


"Itu cuma dicepol biasa, digelung ke atas!" jawab Merry.


Ada-ada saya Raya ini. Memang kadang kalau kita mengidolakan seseorang, hal yang dianggap remeh oleh idolanya, bisa jadi itu menjadi hal yang luar biasa bagi para fansnya.


"Kakaak, ajarin Raya doong!" Araya sudah bersiap di depan meja riasnya. Jadi kali ini Araya minta main salon-salonan sama Merry.


Dengan senang hati Merry pun menuruti. Merry mulai mengajari Araya menggelung rambut ala atlet basket Merry Batari.


Saat sudah jadi, Araya terus-menerus bercermin dengan style rambut ala Merry saat main basket dulu. "Coba dilepas, kamu coba sendiri!" tutur Merry.


Araya pun mengangkat tangannya ingin melepas gelungan itu, tapi dihentikan. "Kak, sayang dong, ini kan udah bagus!"


"Kan kamu belajar, kalau gini namanya minta cepolin! Percuma dong nanti kalau aku pulang kamu nggak bisa nyepol rambut kamu sendiri besok-besok!" jelas Merry yang mulai melepas gelungan rambut Araya.


Araya manggut-manggut bener juga sih kata Kak Merry. Enak ya, kalau punya kakak ipar kaya Kak Merry, orangnya perhatian banget gini.


Raya mencoba mengulang menggelung rambutnya seperti yang diajarkan Merry tadi. "Susah ya Kak!" keluh Raya.


"Rambut kamu emang lurus banget, jadi sedikit sulit! Kalau rambutku kan agak keriting, jadi gampang!" ujar Merry sambil merapikan gelungan Raya yang berantakan.


Raya memegang tangan Merry yang ada di kepalanya yang membuat Merry langsung mengehentikan aksinya.


"Terimakasih Kak!" ujar Raya yang melihat Merry dari kaca di depannya. Merry pun juga ikut melihat Raya dari kaca tersebut. "Raya nggak punya Ibu, kehadiran Kak Merry yang baru sebentar ini membuat Raya merasakan rasanya punya ibu!" ujar Raya sambil tersenyum.


Tangan Merry beralih memegang pundak Raya.


"Ibu sudah meninggal bersamaan dengan perginya Kak Ambar, mantan istri Kak Daris! Ibu syok atas perceraian Kak Daris!" lanjut Raya dengan suara yang bergetar karena menangis.


Merry tak ragu untuk memeluk Raya dari belakang. Sebagai wanita sudah semestinya kita saling menguatkan, bukan saling menghancurkan.

__ADS_1


"Kamu yang kuat, Kak Merry juga nggak punya ibu!" tutur Merry menguatkan Raya bahwasanya kamu itu tidak sendiri Raya, di sekitar kamu juga banyak orang yang bernasib seperti kamu.


"Padahal diusia Raya sekarang, Raya sangat butuh figur Ibu Kak! Raya suka iri lihat temen-temen yang bisa hangout sama Ibunya! Curhat-curhat sama Ibunya! Di rumah Raya cuma sama Bibi Sami dan Kak Daris!" ucap Raya yang air matanya semakin deras.


Terkadang Merry juga heran, kenapa orang-orang di sekitarnya selalu memiliki problem yang sama dengan dirinya, tidak punya orang tua. Contohnya mulai dari Amar yang hidupnya juga dengan ibu sambung, lalu berlanjut ke Chan, ada lagi Emir dan si kembar, lalu sekarang Raya dan Daris juga.


Mungkin Tuhan adil pada Merry, agar dia tidak merasa sendiri. Tuhan mengirimkam orang-orang yang senasib dengan Merry untuk berada di sekitarnya agar mereka bisa saling menguatkan.


Untuk kali ini, problem Merry sama dengan Raya, yaitu kematian. Hal itu membuat Merry semakin berpikir jika kehidupan di dunia memang hanya sementara, lantas untuk apa Merry mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bawa mati. Cukup hal tersebut menjadi tamparan keras bagi Merry.


"Raya harus ikhlas, kehidupan di dunia memang tidak kekal!" ucap Merry yang masih tetap memeluk Raya.


"Kak Merry mau kan menjadi bagian keluarga kami?" tanya Raya yang membuat Merry tergelak dan langsung melepaskan pelukannya.


"Maksudnya?" tanya Merry yang cukup ambigu dengan pertanyaan Raya.


Raya berdiri menghadap Merry dan memegang tangan Merry. "Menikahlah dengan Kak Daris Kak!" pinta Raya. "Kami butuh Kakak! Walaupun baru beberapa jam bersama Kak Merry, Raya sangat percaya kalau Kak Merry bisa jadi ibu yang baik untuk Luham, Liam, dan Emir!" lanjut Raya.


"Haa, a-apa?" Merry tergagap mendengar permintaan Raya. Merry sangat salah tingkah dan cukup tak menyangka hari ini mendengar hal semacam ini.


"Kak Daris itu orangnya sangat sayang dan posesif pada anak-anaknya, kalau pun menikah Kak Daris ingin wanita yang terbaik untuk anak-anaknya!" lanjut Raya.


"Raya rasa Kak Merry lah wanita itu! Wanita yang tepat!" lanjut Raya lagi sambil lekat menatap wajah Merry.


Merry tersenyum dan membawa Raya duduk di ujung ranjang.


"Raya, pernikahan itu bukan perihal yang mudah! Harus dipikirkan dengan matang! Terimakasih kalau Raya percaya jika Kakak adalah wanita terbaik untuk jadi ibu dari si kembar dan Emir!" Merry yang sangat selektif dalam menentukan pilihan hidup tidak mau main-main dengan yang namanya pernikahan.


"Kakak memang sayang dengan kembar dan Emir. Tapi Raya, yang menjalin rumah tangga kan antara Kakak dengan Pak Daris. Jadi, kalau pun mau menikah kami perlu saling mengenal apakah kami cocok atau tidak. Kakak nggak mau nantinya pernikahan Kakakmu gagal lagi, kasihan Luham, Liam, sama Emir!" lanjut Merry yang sebenarnya tidak terlalu memikirkan permintaan Raya.


Itu kan hanya permintaan Raya, belum tentu permintaan Daris juga. Apalagi mengingat Raya adalah penggemar Merry katanya, menurut Merry hal yang wajar jika Raya menganggap Merry baik.


Tok tok tok

__ADS_1


Merry dan Raya menoleh bersamaan ke arah pintu. "Masuk Kak!" teriak Raya.


Ceklek. Daris muncul dari balik pintu.


"Raya, kamu jangan nyekap Merry dong! Emir dari tadi nyariin Merry!" protes Daris yang sedang emosi pada Raya karena tidak mau mengalah dengan Emir.


"Pelit amat sih, Raya kan juga pengen sama Kak Merry!" gerutu Raya.


"Lagian, sini, bawa ke sini Emir nya!" ujar Raya sambil mendekat pada Daris yang berdiri di tengah pintu. Merry ikut berjalan mendekat pada Daris.


"Kamu ini, yang ngalah dong sama ponakannya!" seru Daris sambil mencubit hidung mancung Raya.


"Ih, sakit!" protes Raya yang membuat Daris tertawa.


"Emiirr, sini!" teriak Raya. Emir muncul dengan hidung berwarna merah pertanda habis menangis.


"Tante nakal!" Emir memukul Raya. "Ih anak manis habis nangis yaa!" ejek Raya lalu menjulurkan lidahnya. Merry jadi tersenyum sambil membawa Emir mendekat pada dirinya. Tapi fokusnya langsung teralihkan saat melihat Luham yang sedang ngintip.


"Sini Luham!" panggil Merry yang membuat Luham terkejut karena ketahuan ngintip dari pinggir dinding. Semua langsung melihat Luham juga. Akhirnya, Luham pun ikut bergabung dengan Merry dan yang lainnya.


"Liam mana?" tanya Merry dengan lembut.


"Di kamarnya Auntie!" jawab Luham pelan.


Merry manggut-manggut mengiyakan. "Ya udah


Luham di sini aja ya bareng Auntie!" Merry rasa ini kesempatan yang baik untuk bisa mengenal Luham.


-----------------------


Makasih banyak untuk kalian yang tetap setia membaca cerita ini🖤


Apalagi atas dukungan-dukungannya selama ini, membuat Author semakin semangat dalam menulis 😁

__ADS_1


Pokoknya kalian luar biasaahh🖤🖤


__ADS_2