Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Al dan Araya


__ADS_3

Di sebuah pinggiran danau sore hari.


"Udah, jangan galau terus!" ucap seorang pria dari belakang.


"Om Al?" panggil Raya sembari bergegas mengusap air matanya.


"Jangan menangisi laki-laki yang jelas-jelas menolak kamu Ray. Bukankah di luar sana masih ada, bahkan sebenarnya banyak yang menginginkan kamu!" jawab Al sambil duduk di sebelah Raya.


"Kok ada di sini sih om?" tanya Raya.


"Kalau gue jawab gue kangen sama Lo, kira-kira Lo percaya nggak?" tanya Al.


Raya langsung tertawa. "Ya nggak lah. Lagian siapa juga yang mau dikangenin sama om om!"


Al ikut tertawa. Padahal tadi galau. Tapi mulutnya ini tetep kayak cabe rawit saat berbicara dengan Al.


"Ya kan siapa tahu Lu berpikir gitu. Namanya otak dan hati manusia siapa yang tahu ya kan?" sahut Al.


"Iya, Lu ngapain sih om di sini. Serius nih gua nanya!" ujar Raya.


"Tujuan gue ke sini adalah untuk menghibur hati Raya yang sedang sedih gundah gulana karena ditolak oleh lelaki yang dicintainya!" jawab Al dengan nada yang didramatisir.


Raya memutar bola matanya malas. "Emang suka nggak jelas ya!"


"Gue ada urusan pekerjaan di sini. Apa? Lo mikir gue ke sini khusus buat nemuin Lo? Nemuin bocah ingusan kayak Lo?" tanya Al sambil tertawa.


Raya ikut tertawa. "Ya emang gua masih bocah, om. Iya kalau situ udah om om."

__ADS_1


Al mengacak-acak rambut Raya yang digerai bebas.


"Lagian gua nggak tua-tua amat Ray. Jauh lebih muda dari kakak Lu!"


Raya mengangguk. " Iya ngerti. Tapi tetep aja udah tua."


"Lo pilih dicintai atau mencintai Ray?" tanya Al.


Walaupun biasanya mereka selalu bertengkar saat bertemu, tapi tidak jarang juga mereka saling berbagi cerita.


Apalagi dulu saat Raya kecil, Al adalah selalu ada untuknya. Dulu Al juga tidak kalah posesif dibandingkan Daris.


"Karena Raya selalu bertepuk sebelah tangan saat mencintai laki-laki, Raya lebih milih dicintai. Sekali aja Raya pengen tahu rasanya dicintai." Jawab Raya dengan sendu.


"Dicintai dengan tulus, bisa punya pacar yang bisa jadi sahabat juga buat Raya. Tapi itu sulit." lanjutnya.


Semua wanita yang mendekatinya selama ini hanya memanfaatkan uangnya. Bukan hanya sedikit, tapi banyak.


Dan bodohnya Al menurutinya karena dia ingin menemukan wanita yang tulus. Ini juga bukan rahasia lagi. Daris dan Raya tahu tentang hal ini. Maka dari itu Raya menjulukinya playboy.


"Kalau ternyata ada yang diam-diam mencintai Lo dengan tulus gimana Ray?" tanya Al.


Raya tersenyum masam. "Diam-diam. Kenapa harus diam-diam? Kenapa nggak ngomong langsung aja?"


"Pastinya ada alasannya Ray, misal waktunya belum tepat atau mungkin alasan lain." jawab Al.


"Ya kalau dia punya alasan yang membuat dia hanya bisa mencintai dalam diam untuk sementara waktu atau bahkan selamanya, ya udah itu kan pilihan dia. Raya hanya berharap semoga orang itu tetap mencintai Raya dengan tulus sampai dia bisa berkata jujur pada Raya. Atau jangan sampai orang itu tersakiti dengan begitu dalam jika tiba-tiba Raya berpasangan dengan orang lain. Namanya juga dalam diam. Raya tidak tahu siapa orangnya dan apakah orang itu masih mencintai Raya atau tidak. Mana mungkin Raya menjaga hati untuknya? Nanti Raya menjaga hati untuk orang itu, tapi ternyata orangnya sudah tidak mencintai Raya. Terus Raya lagi dong yang sakit hati." jelas Raya.

__ADS_1


Al tersenyum. "Kalau cabe rawitnya dihilangkan, pemikiran Lo mantep juga!"


Raya melirik Al dengan lirikan tajam.


"Gimana kuliahnya, lancar?" tanya Al.


"Lancar kok. Walaupun nggak mulus-mulus amat, tapi Raya bisa melewatinya." jawab Raya sembari tersenyum.


"Kapan nikah om?" tanya Raya membuat Al tergelak.


Raya meringis. Mungkin untuk sebagian orang ini pertanyaan sensitif. Tapi sepertinya tidak jika untuk Al.


"Emang Lo udah siap?" Al ganti bertanya balik.


"Emang kalau gue siap, om mau nikah sama Raya gitu?" tanya Raya.


"Pokoknya nunggu Araya siap, ya udah gue siap, nanti kita nikah!" jawab Al dengan percaya diri.


Raya melotot. "Ogah gue nikah sama om om, apaan!


"Wah wah, berarti secara tidak langsung Lo sudah menghujat kakak ipar Lo, Merry. Lo ingat nggak kalau kakak ipar Lo juga nikah sama om om. Udah duda beranak tiga lagi!" jawab Al dengan geleng-geleng menyudutkan Raya.


"Ih, apaan sih, beda lah!" sahut Raya sambil memukul-mukul Al.


"Awas Lo, gue aduin sama kakak ipar Lo!" Al semakin gencar menggoda Raya.


"Aduin aja, nggak takut. Kak Merry pasti lebih percaya sama gue lah!" jawab Raya dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Al tertawa sembari menggeleng. Hanya satu harapannya dalam hati. Semoga ia berjodoh dengan gadis bermulut cabe rawit di sampingnya ini.


__ADS_2