Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Emir Bertemu Bunda


__ADS_3

"Bunda!" teriak Emir saat pintu kamar rawat inap Merry terbuka.


Merry yang sedang duduk di atas ranjang melihat ke arahnya.


Netra nya memastikan apakah itu benar anak bungsunya?


Emir tersenyum menampilkan deretan giginya sambil tetap diam di tempat. Tidak melangkah masuk.


"Ayo, masuk, katanya mau ketemu Bunda?" Hingga akhirnya papanya berkata demikian sembari mengajak Emir untuk mendekat kepada bundanya.


Emir mengangguk dengan semangat. Dia sedikit berlari menuju bundanya sembari menggendong tas punggung bergambar tayo di punggungnya.


Daris menutup pintu kamar dan mengikuti Emir dari belakang. Bibir Daris juga tersenyum lebar.


Selain dia bahagia melihat Emir bertemu Bundanya, Daris juga bahagia mendapat kabar dari Mommy Tyas jika Merry mentalnya sudah membaik.


"Hai, Bunda kangen banget sama kamu, Sayang!" ucap Merry sembari tangannya menyentuh pipi Emir.


Sedangkan Emir terus tersenyum sembari mendongak menatap Bundanya. Ranjang tempat bundanya duduk ini terlalu tinggi baginya, sehingga dia tidak bisa langsung naik ke atas.


"Bunda tidak boleh sedih. Halus telsenyum sepelti Emil!"


Merry tergelak mendengar ucapan Emir.


Merry langsung menatap Daris. Sedangkan Daris tersenyum manis kepada Merry.


"Tidak boleh sedih Bunda. Emir saja tersenyum, masa Bunda sedih sih?" ujar Daris mencoba mengulang apa yang dikatakan Emir tadi.


Merry tersenyum tipis sembari kembali fokus kepada Emir.


"Bunda tidak sedih. Ini Bunda senyum!" ucap Merry sembari tersenyum kepada Emir.


Emir tersenyum lebar.


Sebenarnya tadi ia ingin saat sampai di rumah sakit langsung menangis karena ia rindu kepada bundanya. Emir juga ingin bertanya kenapa bundanya sakit. Emir kan jadi sedih dan kesepian juga tidak ada bunda di rumah.


Namun, saat di mobil perjalanan ingin ke rumah sakit. Papanya berkata kalau Emir nanti harus tersenyum ya, harus menghibur bunda supaya bunda tidak sedih.


"Sini dong, naik ke atas!" pinta Merry kepada Emir. Merry ingin Emir juga duduk di ranjangnya.


Karena Emir terlalu kecil, sehingga Daris membantu mengangkat Emir untuk naik ke atas.


Hingga akhirnya Emir duduk di sisi kanan Bundanya.


"Emil tidak apa-apa duduk di sini? Bunda sudah tidak sakit lagi? Tidak ada dalahnya lagi?" tanya Emir dengan polos sembari memeriksa keadaan bundanya.


Emir ingat betul saat itu bundanya mengeluarkan darah. Papanya menggendong bundanya yang sudah berdarah ke dalam mobil.


Hari itu Emir sangat takut kenapa bundanya mengeluarkan darah. Emir juga sedih karena bundanya tertidur. Bundanya tidak menjawab saat Emir terus memanggilnya.


Apalagi dulu Kak Liam dan Kak Luham menangis. Emir ikut menangis. Takut tidak punya bunda lagi.


Mendengar pertanyaan Emir, sontak Merry dan Daris saling berpandangan.

__ADS_1


"Bunda baik-baik aja. Itu lihat, Bunda sehat kan?" sahut Daris.


Merry tersenyum.


"Bunda nggak papa. Udah nggak sakit lagi. Ini lihat, sehat kan?" Merry ikut menimpali.


Emir mengangguk. Jadi sekarang Emir tidak perlu bersedih lagi karena bundanya sudah tidak sakit.


"Bunda tidak boleh meninggalkan Emil ya. Adiknya nggak papa pelgi ke sulga duluan, tapi Bunda halus belsama Emil saat pelgi ke sulga. Tidak boleh dulu dulu sepelti Adik!" pinta Emir dengan tatapan takut kehilangan kepada Merry.


Hati Merry mencelos.


Seketika teringat niatnya yang ingin meninggalkan Daris dan anak-anak.


Melihat Emir dan mengingat semuanya tentang anak-anak membuat Merry tidak sanggup jika harus meninggalkan mereka. Mungkin bukan Daris atau anak-anak yang tidak sanggup bila ditinggalkan oleh Merry, tapi Merry lah yang tidak sanggup jika hidup tanpa mereka.


"Bunda kan di sini sekarang. Mana, Bunda nggak pergi bersama adik kan ke surga?" tanya Merry.


"Iya, tidak boleh meninggalkan Emil ya Bunda!" jawab Emir.


Untuk perkataan Emir kali ini bukan atas permintaan Daris. Ini murni dari hati Emir karena takut kehilangan bundanya.


Bahkan, Daris juga tercengang dengan pernyataan yang keluar dari mulut Emir.


"Sini, Papa letakkan tas nya di meja!" pinta Daris sambil meminta tas yang masih berada di punggung Emir.


"Sebental Papa!"


Daris dan Merry mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Emir.


Kertas itu ia berikan kepada Bundanya.


"Itu nilainya mendapat B, tidak A sepelti biasanya. Bunda tidak malah kan?" tanya Emir dengan cemas.


Merry menerima kertas itu sembari mengamati hasil mewarnai dari Emir.


Cara dia mewarnai memang tidak rata dan banyak yang keluar dari batas gambar.


Merry menatap Daris penuh tanya. Sedangkan Daris mengangguk seolah memberikan suatu isyarat.


Merry kembali melihat Emir yang sedang menunduk takut di depannya.


Merry tersenyum. "Memangnya Bunda pernah marah ya kalau Emir mendapat nilai B?" tanya Merry.


Emir mendongak melihat bundanya. Dia menggeleng.


"Terus biasanya Bunda ngomong apa?" tanya Merry lagi.


"Emil halus telus belajal, tidak boleh malas lagi!" jawab Emir.


Merry mengangguk-angguk.


"Iya, itu Emir ingat. Jadi sekarang Emir harus semangat kalau sekolah. Nggak boleh males-malesan kalau sekolah. Belajar juga nggak boleh males. Supaya jadi anak pandai dan anak?"

__ADS_1


"Anak sukses. Sepelti Papa!" sahut Emir sembari tertawa.


Merry terkekeh. Emir ini sampai sekarang tetap mengidolakan papanya. Kalau sukses ingin seperti papa.


Daris pun terkekeh. "Ya harus melebihi Papa dong suksesnya. Harus jauh lebih sukses dari Papa. Oke??" tanya Daris sembari menciumi pipi Emir.


Sedangkan Emir tertawa keras karena geli dicium oleh papanya.


"Hahaha iya, Papa, geli Papa!" ujar Emir yang masih tertawa.


Hati Merry menghangat melihat ini. Setelah beberapa hari diliputi perasaan yang tak tentu. Entah kenapa hari ini dia begitu bahagia.


**


"Pak Amar?" panggil Mutiara saat mereka berpapasan di lobi rumah sakit.


"Mutiara?" gumam Amar dalam hati.


"Sedang apa?" tanya Amar.


Mutiara tersenyum.


"Baru saja memeriksakan kandungan saya!" jawabnya sembari menyentuh perutnya yang sedikit menonjol.


Amar mengikuti arah tangan Mutiara.


Amar tersenyum tipis sembari mengangguk.


"Bagaimana, sehat? Baik-baik saja?" tanya Amar.


Mutiara tersenyum. "Kandungan saya baik-baik saja Pak!"


"Saya dengar Merry ini ya Pak, dia keguguran. Semua musibah ini ada kaitannya juga dengan---," Mutiara tidak melanjutkan ucapannya.


Amar paham perkataan apa yang ingin dikatakan oleh Mutiara. Amar tersenyum sembari mengangguk.


"Iya, orangnya sudah mendapat balasan yang tepat!" ujar Amar.


Daris dan Amar, mungkin selama ini mereka terlihat cekcok merebutkan Merry. Namun, untuk masalah menjebloskan Ambar ke dalam penjara, mereka sangat kompak.


Mutiara menghembuskan napasnya berat. Lagi-lagi karena Ambar. Tentu saja Mutiara tahu bagaimana tentang Ambar.


Mutiara juga menyadari jika dia pernah menjadi duri dalam rumah tangga Daris dan Merry, dia juga tidak bisa sok menghujat Ambar.


Namun, setidaknya sekarang dia sadar jika apa yang dia lakukan adalah suatu kesalahan.


"Oh, iya, Pak, saya turut berdukacita atas kepergian anaknya Merry dan Daris!" ucap Mutiara setelah cukup lama memikirkan tentang Ambar.


Amar tersenyum. "Iya, Mutiara, terima kasih ya!" jawab Amar.


"Terima kasih ya Pak atas kebaikan yang sudah Bapak berikan kepada saya. Saya nggak ngerti jika tanpa bantuan Bapak, mungkin sekarang saya sudah---," Mutiara hanya mampu berbicara sampai di sini.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Sehat selalu ya. Calon anak kamu juga. Sehat selalu!" jawab Daris.

__ADS_1


__ADS_2