Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Luham Boleh Manggil Bunda


__ADS_3

"Pak!" Merry membangunkan Daris yang tertidur kursi tunggu depan ruang ICU. Daris masih saja tertidur, mungkin dia lelah. Fokusnya hanya tertuju pada Luham. Bahkan, pekerjaan kantor untuk sementara ia serahkan pada Al.


"Pak, bangun Pak!" Merry membangunkan lagi sembari menepuk pelan pundak Daris.


Daris tidur menyender di dinding.


Nih orang cape banget deh kayanya, untung tidurnya gini ganteng, ngga mangap apalagi ngiler, kalau mangap atau ngiler kan malu dilihat orang! batin Merry.


Daris masih saja tertidur pulas. Kalau sudah kelewat capek memang begini, bermodalkan kursi sama dinding aja udah berasa seperti tidur di hotel bintang lima. Bahkan, bisa jadi udah mimpi berkelana sampai ke benua Eropa.


"Pak Daris bangun Pak!" Merry memanggil Daris dengan cara membisik di telinga Daris.


Daris yang mendengar ada suara wanita yang berbisik-bisik di telinganya terkejut dan langsung terbangun.


Matanya kriyip-kriyip mencoba mencari siapa wanita yang telah membisikinya. Saat netra nya berhasil menemukan wanita itu, Daris kembali terkejut untuk kedua kalinya.


"Nga-ngapain?" tanya Daris dengan bingung.


Merry langsung mengerutkan dahi, ngapain?


"Jualan baju!" jawab Merry asal sambil meletakkan tote bag yang berisi sepasang pakaian yang Merry bawa dari rumah Daris tadi ke pangkuan Daris.


Merry sengaja meminta Raya untuk mengambil satu setel pakaian untuk Daris agar Daris bisa ganti baju. Kan sayang ganteng-ganteng tapi bau asem.


Dasar sih Daris belum ngumpul semua nyawanya, masa iya masih nanya ngapain Merry ke sini?


Daris melihat dengan linglung tote bag yang ada di pangkuannya.


Merry yang melihat aksi konyol Daris saat bangun tidur ingin tertawa sekeras-kerasnya menertawakan duda beranak tiga yang ada di depannya ini. Tak bisa dipungkiri, akhirnya Merry pun tertawa.


Refleks Merry membantu Daris untuk berdiri.


"Pak, sekarang Bapak ganti baju, biar saya yang njaga Luham di sini!" Merry segera mendorong Daris agar segera ganti baju.


Daris tersenyum melihat tingkah Merry. Daris pasrah saja di dorong oleh Merry, sampai akhirnya ia mengehentikan langkahnya yang membuat Merry menabrak punggung Daris.


"Kok berhenti sih?" protes Merry dengan wajah masam sambil mengusap-usap jidatnya yang menabrak punggung Daris.


Keras juga punggung Pak Duda ini! gerutu Merry dalam hati.


Daris berbalik menghadap Merry sembari tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. "Kamar mandinya di sebelah sana!" tunjuk Daris ke arah yang berlawanan dari arah sebelumnya.

__ADS_1


"Kalau di sebelah sana itu arah ke ruang bersalin! Kamu mau aku melahirkan?" lanjut Daris seraya tertawa. Tak bisa dipungkiri Merry pun ikut tertawa.


"Ya udah sana ke arah yang bener!" jawab Merry yang masih tertawa.


Daris pun mengangguk patuh dan berjalan menuju ruang bersalin, eits salah, maksudnya ruang ganti hehe! Bibir Daris terus melengkung menandakan bahwa hatinya sedang bahagia.


Tak apa bahagia, setidaknya Daris bisa sejenak melupakan rasa sedihnya atas keadaan yang menimpa Luham.


Merry yang tadinya tertawa merubah tawanya menjadi senyum saat Daris telah pergi dari hadapannya. Merry tetap tersenyum seraya menggelengkan kepala.


Dunia berasa milik berdua, yang lain hanya ngontrak. Apalagi Mommy Tyas yang saat itu berada di dekat mereka, bagai bayangan tak kasat mata, diacuhkan dan kehadirannya tak terlihat.


Mommy Tyas sedari tadi hanya ikut tersenyum.


*****


"Assalamualaikum Tampan, Auntie ada di sini loh!" ucap Merry kepada Luham. Saat ini, Merry berada di dalam ruang ICU untuk sejenak menemani Luham.


Tadi sebelum Merry, Mommy Tyas masuk terlebih dahulu. Saat ini beliau sudah pulang karena tidak memungkinkan jika pulang bersama Merry mengingat Merry akan berada di sini sampai malam.


Sebenarnya Daris tidak meminta Merry untuk menjaga Luham terus menerus.


Merry mau menemui Luham kemarin saja Daris sudah senang.


Mungkin, Luham bisa merasakan kehadiran dan keberadaan Merry.


Merry mau menjaga Luham sampai detik ini atas inisiatifnya sendiri. Ada sebuah tarikan besar yang membuat Merry ingin selalu berada di sisi Luham. Bukan karena cinta pada Daris, tapi lebih mengarah pada kasih sayang seorang ibu kepada anak.


"Luham nggak capek ya tidur terus?" tanya Merry.


"Luham nggak pengen pulang gitu? Ditunggu loh sama Liam sama Emir di rumah!"


"Mereka kangen sama Luham!"


"Tadi Liam tanya keadaan Luham sama Auntie loh! Katanya Liam pengen bareng Luham lagi kaya biasanya!"


"Oh iya, Luham mau lomba nyanyi kan? Auntie pasti datang kok!"


"Auntie datangnya sama Papa loh! Seneng kan Luham?"


Air mata Merry luruh, bagaimana mau ikut lomba kalau lomba itu saja dilaksanakan besok, sedangkan Luham sampai saat ini masih setia memejamkan matanya.

__ADS_1


Daris tadi juga sudah dihubungi pihak sekolah, bahwa yang mewakili sekolah akan diganti dengan anak yang lain.


Pihak sekolah Luham juga memberi bantuan untuk biaya pengobatan Luham sebagai tanda turut bersedih atas kejadian yang menimpa Luham. Walaupun, tanpa bantuan dari siapapun sebenarnya Daris mampu membiayai semua biaya perawatan Luham. Namun, Daris juga bersyukur banyak yang peduli pada Luham.


Daris masuk ke dalam ruangan Luham juga. Jadi, saat ini Merry dan Daris bersama menjaga Luham. Merry buru-buru menghapus air matanya saat Daris datang.


Mereka berdua punya janji agar tidak akan menangis di hadapan Luham. Mereka akan kuat dan selalu tersenyum, supaya Luham juga ikut bahagia. Sebagai tanda, ini loh Papa dan Auntie Merry kuat, masa Luham nggak kuat sih?


Namun, apalah daya jika berada di ruangan ini seorang diri bersama Luham dengan keadaan Luham yang seperti itu Merry tak sanggup lagi untuk menahan air matanya.


"Hai, jagoan Papa! Mimpi apa sih kok betah banget tidurnya gitu?" tanya Daris seraya tersenyum. Merry pun memaksakan diri untuk tersenyum walaupun hatinya sesak dan menolak untuk tersenyum.


"Papa udah izinin kamu manggil Auntie Merry Bunda loh!" ujar Daris yang berusaha kuat.


Merry langsung menoleh pada Daris mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Daris pun sejenak menoleh juga pada Merry sembari tersenyum, lalu kembali melihat ke arah Luham.


"Auntie Merry ada di sini, tadi kan Papa udah ngizinin kamu manggil Auntie Merry Bunda, sekarang kamu tanya langsung ya sama Auntie Merry boleh apa tidak manggil beliau Bunda!" lanjut Daris berbicara pada Luham.


Merry mengerutkan dahinya, ia masih tak paham apa maksud perkataan Daris barusan. Daris beralih menatap Merry.


"Waktu itu di hadapanku Luham manggil kamu Bunda, tapi aku nggak ngizinin karena aku sadar kita nggak jadi nikah! Tanpa sengaja aku membentak Luham karena dia protes kalau Emir saja boleh manggil kamu Bunda kenapa Luham nggak boleh?" Daris menyesali perbuatannya dulu, apalagi saat melihat keadaan Luham dengan yang seperti ini saat ini.


Dalam hatinya terus berucap, "Ayo Luham kamu mau apa pasti Papa turuti, asal kamu mau bangun dan sembuh seperti dulu lagi!"


Merry yang paham dengan perkataan Daris langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Luham.


"Luham dengerin Auntie ya! Auntie ngizinin Luham manggil Auntie Bunda! Nggak papa Sayang, biar samaan sama Emir ya!" bisik Merry di telinga Luham.


"Sekarang, Luham boleh manggil Auntie Bunda! Bebas deh terserah Luham!" lanjut Merry sembari menggenggam tangan Luham.


Daris terharu. Padahal anaknya sudah menolak Merry mentah-mentah, tapi wanita ini masih saja baik pada anak-anaknya. Bahkan Merry memiliki moto hidup sama dengan Daris, "Kamu mau minta apa pasti Auntie turuti, asal kamu mau bangun!"


"Makasih Mer!" ujar Daris.


"Sama-sama Pak!" jawab Merry.


--------------------


Semoga lekas sembuh ya Luham aamiin😌

__ADS_1


Ayo temen-temen online doakan Luham supaya cepat sembuh! Dia anak yang baik loh!


Makasih ya buat kalian yang udah baca🖤


__ADS_2