Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Ada Apa Dengan Daris?


__ADS_3

"Iya, besok aku ke rumah kamu!" ucap Daris melalui sambungan telepon.


"Hahaha, ya nggak lah sayang, kamu tenang aja!" lanjut Daris.


"Iya janji, kamu nggak usah khawatir gitu dong!" ujar Daris pada seseorang di seberang sana.


"Ya udah aku tutup dulu ya! Selamat pagi sayang!" Daris mengakhiri panggilannya sambil tersenyum, lalu berbalik badan.


"Merry?" Daris terkejut ada Merry di belakangnya.


Merry hanya melihat Daris sambil menyilang kan tangan.


"Ka..kamu sejak kapan di situ?" tanya Daris tergagap.


"Sejak kamu mengangkat telepon!" jawab Merry dengan santai.


"Jangan terkejut seperti itu Daris, santai saja!" ucap Merry sambil terkekeh. Bukannya terlihat menyedihkan, justru Merry terlihat menyeramkan.


"Jangan merasa tertangkap basah dan panik seperti itu Sayang, bukannya kamu mengerti jika istrimu ini sudah tahu tentang per selingkuhanmu?" tanya Merry dengan santai.


"Aku tidak panik!" sanggah Daris dengan cepat dan enteng.


"Asal kamu tahu Mer!! Aku menikahi kamu hanya demi anak-anak dan Raya! Mereka selalu mendesak dan memaksaku!" jelas Daris dengan arogan.


"Wah, sama dong Daris!! Aku juga begitu!!" Bukannya menangis atau tak terima mendengar pernyataan seperti itu, justru Merry dengan sumringah membalas Daris dengan hal yang sama.


"Hahaha, Daris Daris, aku tidak menyangka ternyata kita senasib!" sambung Merry sambil tertawa keras.


"Hanya saja perbedaannya, kalau aku menghargai komitmen pernikahan ini, tapi kalau kamu justru memperunyam pernikahan ini dengan perselingkuhan bodoh mu itu!" sambung Merry sambil mendekat ke arah Daris.


"Apa kamu tidak ada niatan untuk mengenalkan kekasihmu itu padaku?" tanya Merry tepat di telinga Daris.


"Tidak ada salahnya kan mengenalkannya padaku?" lanjut Merry dengan nada bicara pura-pura serius.


"Belum saatnya Merry!" jawab Daris sambil beralih menatap Merry. Dalam hatinya bertanya, apakah benar Merry tak mencintai dirinya?


"Terus kapan Daris? Bukannya lebih cepat lebih baik?" tanya Merry seolah-olah tak sabar ingin segera bertemu selingkuhan Daris.


"Ayolah, kamu lama, terlalu mengulur-ulur waktu!" lanjut Merry mendesak Daris.


"Padahal aku ingin segera mengenalkan wanita itu pada anak-anak!! Setelah wanita itu akrab dengan anak-anak, aku bisa meninggalkan kalian dengan tenang!! Aku bisa pergi dari hidupmu dan hidup bahagia!!" jelas Merry dengan serius.


Daris melotot mendengar Merry berkata demikian.


"Pergi?" tanya Daris dengan tegas.


"Ya pergi, kenapa tidak?" tanya Merry sambil tersenyum jahat dan melangkah sedikit menjauh dari Daris.


"Kamu pikir aku tetap bertahan dengan pernikahan yang seperti ini?" tanya Merry sambil memandang Daris dan tersenyum remeh.


"Tidak Daris, tentu saja tidak!!" lanjut Merry sambil menggeleng dan tertawa jahat.


"Aku tidak bodoh!!" sambung Merry berubah serius.


"Sebelum anak-anak semakin dekat dengan aku, sebelum semuanya lebih jauh, lebih baik aku pergi!!" ucap Merry dengan pelan, namun menusuk hati Daris.


Mata Daris memerah, rahangnya mengeras mendengar penjelasan Merry. Daris langsung pergi meninggalkan Merry dengan emosi.


Setelah kepergian Daris, Merry memejamkan mata dan membuang nafasnya dengan berat.


Hari ini adalah hari ketujuh Merry, Daris, dan anak-anak tinggal di apartemen.

__ADS_1


Luham dan Liam sedang bermain futsal bersama teman-temannya, sedangkan Emir sedang rajin-rajinnya belajar menulis di kamar.


Dia sangat bersemangat karena kurang dua hari lagi Emir akan masuk sekolah TK.


Merry berjalan menuju dapur untuk membuat cemilan sehat untuk anak-anaknya, dia tidak memusingkan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Daris.


Selama di apartemen ini, Merry tidak pernah lagi tidur seranjang lagi dengan Daris, Merry tidur di kamar anak-anak seranjang bersama Emir, sedangkan Luham dan Liam tidur di ranjang sebelahnya.


"Air dinginnya ada di bawah, yang di atas belum begitu dingin!" ujar Merry saat melihat Daris mengambil air di kulkas.


Daris yang sudah mengambil air dari kulkas bagian bawah mengembalikan air itu dan berganti mengambil air di kulkas bagian atas.


"Mau salad buah?" tanya Merry seolah-olah tidak ada masalah apapun dengan Daris.


"Aku mau ke luar!" jawab Daris dengan dingin.


"Oh gitu, aku titip salam untuk wanitamu!" ucap Merry dengan enteng tanpa melihat ke arah Daris dan tetap fokus untuk membuat salad buah dan cemilan sehat untuk anak-anak.


"Cukup Merry!" sentak Daris sambil mendekat ke arah Merry.


Merry dapat melihat jelas mata Daris memerah dan rahangnya mengeras menahan emosi. Daris juga menggenggam memegang lengan tangan kiri Merry dengan kuat dan menyakitkan.


"Jangan pernah membahas wanita itu lagi!!" ucap Daris sambil menahan emosinya.


"Apa kamu takut aku pergi?" tanya Merry dengan datar.


Daris menghempaskan tangan Merry dengan kasar.


"Jangan mengucap kata pergi lagi di depanku!!" Tiba-tiba, Daris terlihat lemah.


Setelah berkata demikian, Daris langsung pergi meninggalkan Merry.


"Bunda Bunda!" Di tengah pikirannya yang fokus dengan Daris, Merry dikejutkan dengan suara Emir yang sedang memanggil dirinya sembari menarik-narik bajunya dari bawah.


"Eh, iya sayang, ada apa?" Merry melihat bawah, lalu berjongkok di depan anaknya.


"Pelut Emil sakit!" keluh Emir sambil memegang perutnya.


"Emir pengen buat air besar? Ayo Bunda antar!" tanya Merry.


Emir mengangguk menggemaskan.


"Ayo ayo!!" ajak Merry.


Setelah membantu Emir membuang air besar, Merry mengajak Emir ke dapur kembali. Ya memang beginilah kehidupan emak-emak.


"Sayang, besok kalau pengen buang air besar ngomongnya pengen pup gitu ya!" pinta Merry.


"He'em!" jawab Emir sambil mengangguk patuh.


"Emir mau di sini aja atau nunggu Bunda di ruang keluarga?" tanya Merry.


"Emil mau sini aja!" jawab Emir dengan yakin.


Bagi Emir, selalu membuntuti Bundanya kemana pun adalah hal yang sangat menyenangkan. Dunia Emir hanya tentang Bunda, Bunda, dan Bunda.


"Bunda, kata Kak Liam Bunda Emil ada dua ya?" tanya Emir dengan polos.


"Kenapa Emil punya dua Bunda?" lanjut Emir.


Merry menghentikan pekerjaannya sejenak, membuang nafas, lalu tersenyum melihat anaknya.

__ADS_1


"Sekarang Emir tunggu Bunda di ruang keluarga ya, Bunda cuma sebentar kok, nanti Bunda ceritakan kenapa Bundanya Emir ada dua!" perintah Merry sambil tetap tersenyum.


"Sana, Emir tunggu Bunda ya!" perintah Merry lagi karena Emir tak kunjung pergi.


"Emil sini aja sama Bunda!" tolak Emir.


"Emir nggak capek ya berdiri terus di sini?" tanya Merry.


"Tidak, Emil kan ingin selalu menjaga Bunda!" jawab Emir seperti orang dewasa.


Merry jadi geli mendengarnya, kok bisa sih anak sekecil ini berbicara demikian.


"Sip, udah!!" seru Merry yang telah menyelesaikan kegiatannya membuat camilan sehat untuk anak-anak.


"Ayo sini ikut Bunda!" ajak Merry pada Emir untuk duduk di ruang keluarga.


Setelah mereka duduk manis.


"Bunda tanya deh, yang ngajarin Emir ngomong kayak barusan siapa?" tanya Merry dengan penasaran.


"Papa!" jawab Emir dengan jujur.


"Papa? Papa ngajarin ngomong supaya Emir melindungi Bunda gitu?" tanya Merry.


"Iya, Papa bilang, Kak Luam, Kak Liam, dan Emil halus menjaga Bunda! Pokonya halus dijaga!! " jelas Emir dengan mantap dan masih ingat betul ucapan Papanya.


Tak bisa dipungkiri, Merry tak bisa menahan senyumnya saat mendengar hal ini.


"Terus Papa ngomong apa lagi?" Ternyata Merry semakin penasaran.


"Papa bilang Bunda halus dijaga supaya tidak diambil sama Kakak Chan dan Papinya!"


Merry melotot tidak percaya, bisa-bisanya Daris berkata demikian pada anak-anaknya.


"Emil mau sama Bunda telus, bial Bunda tidak diambil Kakak Chan dan papinya!" ucap Emir dengan posesif.


Meskipun tidak habis pikir dengan jalan pikiran Daris yang meminta anaknya untuk menjaga dirinya agar tidak diambil Amar dan Chan, tapi Merry juga salah tingkah dengan perkataan Daris yang seperti itu.


"Memangnya Kakak Chan mau mengambil Bunda ya?" tanya Emir dengan serius.


Nah, kan, emang dasar Daris! Ini gara-gara Daris pokoknya!


"Enggak sayang, kata siapa? Bunda itu milik Emir, Kak Liam, dan Kak Luham!" jawab Merry meyakinkan Emir.


"Dasar lakik gue, dikira bininya apaan bisa diambil-alih gitu seenaknya!" gerutu Merry dalam hati.


"Jadi Papa bohong ya Bunda?" tanya Emir.


"Eh, enggak, Papa nggak bohong! Gini loh, maksud Papa itu Emir dan Kakak-kakak memang harus menjaga Bunda, nanti kalau punya adik, Emir juga harus jaga adiknya!" jelas Merry.


"Adik? Ngapain gue malah bahas adik? Hufh dasar gue, membayangkan aja nggak sanggup!" ucap Merry dalam hati.


"Iya iya Bunda, Emil mau adek!" seru Emir dengan bahagia.


"Iya, Emir minta sama Allah ya!!" jawab Merry.


"Telus kenapa Emil punya dua Bunda?" tanya Emir dengan serius.


Nah loh kan waw, gue harus muter otak buat menjelaskan ini! batin Merry.


Emir memang tidak begitu mengenal Mamanya karena mereka hanya beberapa kali bertemu. Saat bertemu pun Emir malah memanggil mamanya dengan panggilan tante.

__ADS_1


__ADS_2