
"Berikan hamba-Mu ini keyakinan Ya Allah, jika keputusan yang hamba ambil adalah keputusan yang terbaik! Aamiin!" Gue langitkan doa-doa gue memohon petunjuk kepada Allah.
Setelahnya, gue lepas dan lipat mukenah beserta sajadah, lalu gue letakkan di atas meja kecil.
Gue melangkah menuju ranjang dan duduk menyila di atasnya. Gue lihat jam yang menempel di dinding, astaghfirullah udah jam sepuluh tapi gue baru melaksanakan sholat isya'. Ingin rasanya gue selalu bisa sholat tepat waktu, tapi kenapa ada saja alasan yang membuat gue nggak bisa sholat tepat waktu.
Alasan yang sebenarnya bisa gue hindari agar bisa melaksanakan sholat tepat waktu. Ya, gue harus selalu berusaha agar bisa sholat tepat waktu.
Gue menghela nafas panjang, memang beginilah menjadi orang baru dalam kehidupan seseorang, belum tentu diterima dengan tangan terbuka.
Gue ingat nasehat Mommy tadi, apakah gue yakin dengan keputusan gue? Apakah gue nggak ingin berjuang? Apakah gue nggak pengen berusaha? Kenapa belum apa-apa sudah menyerah?
Mommy baru gue beri tahu tadi sepulang jalan-jalan bersama Pak Daris dan anak-anak. Gue merasa harus meminta nasehat dari Mommy, nasehat yang akan menyejukkan hati dikala hati gue sedang resah.
Tentu Mommy terkejut karena ternyata Pak Daris memiliki niatan serius pada gue, jujur beliau bahagia. Namun, saat tahu akan penolakan anaknya beliau merasa sedih, sama sedihnya seperti gue.
Jujur, di tengah kegiatan kami tadi, melihat seru dan asyiknya bersama mereka membuat gue ingin menjadi bagian dari mereka, gue ingin menjadi salah satu orang yang mereka sayang.
Bahkan, gue udah memantapkan hati gue untuk menerima ajakan Pak Daris untuk menikah.
Alasannya satu, gue nyaman bersama mereka. Menurut gue, rasa nyaman itu penting dalam suatu hubungan. Apalagi melihat anak-anak yang cakap dan aktif. Mereka yang ingin tahu banyak hal, membuat gue ingin menjadi salah satu orang yang mengantarkan dan menjadi saksi kesusksesan mereka kelak.
Gue nggak tahu pasti apakah gue cinta dengan Pak Daris atau enggak, gue nggak tahu itu! Yang gue tahu, gue nyaman dan bisa menjadi diri gue sendiri saat bersama dia. Dan yang gue tahu saat pergi dengan Pak Daris dan anak-anaknya, gue bisa merasakan feel sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Walaupun, gue nggak pernah merasa bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka.
Sejauh yang gue tahu, Pak Daris adalah lelaki yang baik kepada semua orang terutama gue, ayah yang baik bagi anak-anaknya, dan kakak yang baik bagi adiknya.
Benar apa yang diucap Raya hari itu, Pak Daris orang yang posesif kepada anak-anaknya. Gue bisa memaklumi itu, mungkin semua karena tuntutan keadaan yang membuat dia seperti itu.
__ADS_1
Menurut gue, itu jauh lebih baik daripada dia tidak peduli sama sekali kepada anak-anaknya.
Mereka adalah keluarga yang hangat, sederhana, dan apa adanya. Anak-anaknya diajarkan hidup yang sederhana walaupun secara finansial Pak Daris terbilang orang yang mapan.
Jujur, gue juga salut dengan kesigapan dan keketatan Pak Daris dalam menjaga anak-anaknya. Bahkan, gue yang sebagai wanita merasa kalah telak jika berhadapan dengan Pak Daris. Mungkin karena gue belum ada pengalaman dalam hal tersebut. Sedangkan dia adalah orang tua tunggal, lelaki yang merawat dan menjaga anaknya tanpa istri.
Namun, sayang, di tengah ketakjuban gue terhadap keluarga itu, gue nggak bisa menjadi bagian dari mereka. Gue memutuskan untuk tidak melanjutkan atau menerima ajakan Pak Daris untuk menikah.
Mungkin gue lemah karena nggak mau berjuang terlebih dahulu, tapi bukan karena itu alasannya.
Mumpung Luham dan Emir belum sayang dan dekat secara berlebihan kepada gue, gue memilih mematahkan hati mereka dari sekarang.
Mungkin gue terlihat egois, mematahkan dua hati demi menyelamatkan satu hati. Gue akan pergi jauh dari mereka supaya mereka melupakan gue.
Bukan tanpa alasan gue melakukan itu. Gue nggak pernah mau menyakiti hati orang, walaupun mungkin kadang perilaku gue di luar sana tanpa sengaja menyakiti hati orang. Tapi jujur gue nggak pernah ada niatan untuk menyakiti hati orang lain.
Ya, walaupun setelah ini gue pasti menyakiti hati Luham dan Emir, bahkan bisa jadi hati Pak Daris juga.
Gue tahu jika keadaannya seperti ini, sudah seharusnya tugas gue untuk menyatukan mereka, tapi itu tidak mudah!
Tidak akan semudah berbicara gue pasti bisa berjuang untuk mereka!! Gue pasti bisa membuat mereka bahagia! Itu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Gue nggak pernah membenarkan omongan gue sendiri, gue tahu pasti di luar sana banyak orang yang berbeda argumen dengan gue.
Ya, itulah hidup! Penuh warna! Tapi juga penuh toleransi! Saling menghargai keputusan dan pemikiran orang lain.
Gue tahu kalaupun gue mundur dan nantinya Pak Daris punya wanita lain, pasti Liam akan menolak lagi atau bisa jadi Luham dan Emir juga ikut menolak.
__ADS_1
Namun, gue berharap semoga ada seorang wanita yang bisa mengambil hati mereka semua. Wanita yang Allah kirimkan untuk menjadi penyejuk di tengah-tengah keluarga mereka. Yang tentunya orang itu bukan gue.
Gue memilih pergi jauh dari mereka, gue nggak mau jadi orang yang berjuang untuk mereka, gue nggak mau menyakiti hati mereka secara terus-menerus, gue nggak mau itu. Berjuang untuk mereka bisa saja gue lakukan, tapi tentu membutuhkan waktu yang lama.
Dan selama gue berjuang itu, gue pasti menyakiti hati Liam, Luham, dan Emir. Liam sangat menolak gue. Bahkan dia sangat memohon agar gue nggak menikah dengan papanya.
Ya, gue tahu jika nantinya papanya pasti menikah dengan wanita lain, tapi setidaknya wanita itu bukan gue.
Gue akan melanjutkan hidup gue dengan orang-orang yang mengharapkan kehadiran gue dan dengan orang-orang yang menyayangi gue.
Namun, andai saja Liam memberi sedikit restu untuk gue, pasti gue mau berjuang untuk mereka karena itu artinya gue udah nggak menyakiti hati Liam lagi.
Gue orang yang baru di kehidupan mereka, bukan orang yang berarti, sangat diharapkan, dan tidak ada pengganti bagi mereka. Gue memilih mengakhiri ini dari sekarang. Memilih menjadi orang asing bagi mereka, agar tidak akan kecemasan di hati salah satu orang.
Gue memutuskan untuk mengajak Pak Daris untuk bertemu di cafe jam sepuluh pagi besok untuk membicarakan persoalan ini. Mendengar argumen ini dari sudut pandang Pak Daris juga.
Gue rebahkan tubuh gue, enak banget ya, lelah juga seharian menjaga anak-anak. Gue peluk erat-erat guling gue, hufft nasib jomblo tiap malem cuma bisa meluk guling. Giliran udah mau punya guling yang bernafas, eh malah nggak diberi restu sama anaknya. Nasib deket sama duda beranak ya gini.
-------------------------------------------
Senengnya bisa up cerita ๐ Aku harap kalian juga seneng aku up cerita ๐คญ
Maaf ya, nggak up lama...
Oh ya, tunggu terus yaa next ceritanya, pastinya akan ada cerita-cerita kejutan untuk kalian๐
Sekarang kita ikuti alur hidupnya Merry yang masih membingungkan yaa๐๐ Nggak lama kok, stay tune ya!!๐
__ADS_1
Yuk yuk jangan lupa like, komen, vote, dan jadiin favorit ๐ค๐ค
Luv Luv buat kalian semua๐ค๐ค