Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Penolakan Kembar


__ADS_3

Saat Liam dan Luham sedang menunggu jemputan papa dan bundanya.


"Hai, anak Mama!" Tiba-tiba Ambar datang menemui mereka.


Liam dan Luham cukup terkejut dengan kehadiran mamanya.


"Nunggu siapa sih? Ayo biar mama antar!"ujar Ambar.


Mereka berdua menggeleng. Mereka enggan untuk menerima ajakan mamanya.


"Kenapa? Mama antar sampai ke rumah. Mama udah jauh-jauh loh ke sini buat jemput kalian!" Ambar menunjukkan raut sedih di hadapan anak-anaknya.


"Kami sedang menunggu Papa dan Bunda!" jawab Liam.


Sedangkan Luham tampak tak peduli kepada mamanya.


"Sama mama aja ya. Nanti mama telfonkan papa atau bunda kalian. Mama beritahu mereka kalau kalian pulang diantar mama!" Ambar tidak akan menyerah begitu saja.


"Tidak Ma. Papa dan Bunda sudah berangkat!" tolak Liam.


"Baiklah baiklah, tidak masalah kalau begitu. Tapi mama akan menunggu kalian di sini sampai Papa dan Bunda kalian sampai!"

__ADS_1


Hening terjadi di antara mereka. Ambar juga merasa jika anak-anaknya ini berubah kepadanya.


"Kalian tidak ingin kita bersama lagi seperti dulu?" tanya Ambar.


Liam hanya melirik mamanya. Sedangkan Luham tetap terdiam.


"Kalian tidak ingin berkumpul bersama mama lagi?" tanyanya lagi.


"Kita bersatu menjadi keluarga yang utuh seperti dulu. Ada mama, kalian, Emir, Raya, dan--,"


"Dan Papa maksud Mama?" sahut Liam dengan cepat.


Ambar tersenyum manis sambil mengangguk kepada Liam.


"Kalian ingin kan pastinya?" tanyanya.


Liam tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja Ma, tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Mama sudah punya suami dan papa sudah punya bunda. Keluarga kita tidak bisa seperti dulu lagi. Liam sudah menerima semuanya. Liam juga bahagia!" jawab Liam.


Ambar kecewa mendengar jawaban anaknya.


"Apa kalian sudah tidak sayang lagi sama Mama?" tanya Ambar dengan sedih.

__ADS_1


"Kalian sudah tidak mengharapkan mama lagi di hidup kalian?" Bahkan Ambar juga menjatuhkan air matanya.


"Kami tetap menyayangi Mama. Mama adalah orang yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat kami. Tentu kami sayang." jawab Liam.


"Tapi jawabanmu tadi mengatakan seolah-olah kalian sudah tidak sayang dan tidak menginginkan mama lagi. Mama sangat sedih mendengarnya." Ambar memang betul bersedih saat mendengar jawaban anaknya.


Dia pun menyadari jika keadaan sudah berbeda. Namun, keinginannya untuk kembali kepada Daris sangat kuat. Jadi, kesedihannya akan ia lebih-lebihkan. Siapa tahu dengan begini anak-anaknya akan luluh dan bisa membantu jalannya untuk kembali dengan Daris dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya seperti dulu.


"Cukup Ma. Kami ini menyayangi dan menghormati Mama. Tapi kalau Mama seperti ini, apa Mama tidak takut kami tidak akan menyayangi Mama lagi?" Luham yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


Berbeda dengan Liam, Luham berbicara dengan tegas.


"Dulu kami selalu menangis dan merindukan Mama. Kami selalu berpikir kalau Maka sudah lupa dan tidak menyayangi kami lagi. Kami selalu berpikir yang jelek tentang Mama. Tapi sekarang kami sudah bahagia. Kami sayang dan selalu berpikir positif tentang Mama."


"Mama terus membujuk kami agar kita bisa bersatu seperti dulu. Apa Mama lupa kalau Papa sudah bersama Bunda? Apa Mama berusaha agar Papa dan Bunda bercerai seperti Mama dan Papa dulu? Lalu jika iya, apa Mama tidak memikirkan adik kami Emir? Mama mau memisahkan Emir dengan Bunda? Setelah dulu Mama membuat kami merasakan sakit karena ditinggal Mama dan membuat Emir merasakan bagaimana rasanya tidak punya ibu, apakah sekarang Mama akan menyakiti kami dan Emir lagi?"


Luham berusaha menahan tangisnya saat berbicara demikian.


Liam berusaha menenangkan saudara kembarnya itu.


Ambar tidak percaya Luham bisa berkata demikian. Hatinya mencelos.

__ADS_1


Perkiraan Ambar benar-benar salah jika anak-anaknya ini masih kecil dan mau membantunya dalam menyelesaikan apapun. Nyatanya, anaknya sudah bisa berpikir dewasa dan menolak apa yang menjadi keinginannya.


__ADS_2