Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Penolakan Liam


__ADS_3

Merry langsung ke luar saat mendengar suara deru mesin mobil Daris. Merry menyambut mereka senyuman yang lebar.


Satu persatu dari mereka mulai keluar dari mobil. Diawali dari Daris yang keluar dari pintu kemudi, lalu dilanjut oleh Luham yang keluar dari pintu tempat duduk baris kedua sembari membantu Emir untuk keluar, lalu dilanjut oleh Liam.


Wah wah, empat laki-laki tampan siap menjemput Bunda Merry. Mommy Tyas yang penasaran langsung keluar ke teras, beliau berdiri sejajar dengan Merry.


"Assalamualaikum," Daris mengajak anak-anaknya berjalan mendekat ke arah Merry seraya mengucap salam.


"Waalaikumussalam," balas Merry bersamaan dengan Mommy Tyas.


"Wah wah, Emir dan Kembar!" Mommy Tyas nampak bahagia dengan kedatangan mereka.


"Ayo masuk dulu!" ajak Merry pada mereka.


*****


*****


Kali ini, lima manusia yang sedang menuju suatu tempat untuk melakukan penyegaran rohani bercanda ria di dalam mobil. Ya, mereka adalah Merry, Daris, beserta anak-anaknya.


Tadi, selepas ngobrol sejenak, mereka langsung berangkat menuju tempat wisata tujuan. Memang kencan Merry dan Daris nanti tidak akan menjadi kencan yang romantis, tapi bisa saja kencan nanti menjadi kencan yang sangat romantis, seru, dan membahagiakan karena ditambah kehadiran anak-anak. Semoga saja!!


"Bunda, Emil mau lihat kinci walna hitam!" Nah kan, anak kicik itu demam kelinci sekarang.


"Iya, nanti lihat kelinci ya!" jawab Merry.


Sebenarnya duduk di sebelah Daris seperti ini kurang nyaman bagi Merry. Mungkin akan lebih baik jika dirinya duduk dibelakang bersama anak-anak. Tapi apalah daya, Merry dipaksa.


"Rame nih pasti, weekend soalnya!" sahut Daris.


"Tapi kalau Sabtu gini nggak akan serame Minggu biasanya Pak!" jawab Merry.


"Wah, pengalaman ya?"


"Pernah beberapa kali ke sana sama Kak Amar dan anaknya! Kalau Sabtu kan masih ada orang yang berkegiatan, tapi kalau Minggu kan pada libur semua!" jelas Merry.


Daris pun mengangguk-angguk mengerti. Daris hampir lupa kalau wanita di sebelahnya ini adiknya Pak Amar. Wah, Daris lagi pdkt sama adiknya Pak Amar.


"Auntie, di sana ada apa aja sih?" tanya Luham penasaran.


"Ada hewan Kak!" sahut Daris.


"Ngerti Pa, maksudnya hewan apa aja? Kan Auntie udah pernah ke sana!" Luham menjelaskan pada Papanya.


Merry mengerutkan dahi mencoba mengingat saat ke sana dulu.


"Apa ya Kak, Auntie lupa nih! Udah lama juga! Satu setengah tahun yang lalu!" Yang Merry ingat di sana banyak hewan-hewan!! Ya iyalah namanya juga kebun binatang! Kalau banyak tumbuhan namanya kebun raya!! Eh, tapi jangan salah di sana banyak manusia juga loh! Ya bener, itu loh para pekerja dan pengunjungnya hehe.


"Belum pernah ke sana ya Kak?" tanya Merry. Masa anaknya Pak CEO belum pernah diajak liburan ke kebun binatang.


"Kalau yang kebun binatang itu belum pernah Auntie!" jelas Luham.


"Ooh," Merry ber-oh ria.


Sedari awal memulai perjalanan, pantat Emir gatal ingin dipangku bundaya. Tapi, dengan rayuan maut papanya, akhirnya Emir mau duduk di belakang bersama kakaknya. Hm, bilang aja Pak Daris ingin berduaan di depan dengan Merry. Eh, enggak kok, biar aman aja Emir. Kalau semua aman kan perjalanan jadi tenang.


*****

__ADS_1


Sampailah mereka di kebun binatang tujuan.


Anak-anak sangat antusias untuk melihat hewan-hewan yang ada di sana, begitu juga dengan Daris, tapi bedanya Daris antusias untuk pdkt pada Merry. Terus Merry antusias juga nggak? Dahlah nggak ngerti, Merry ngikut aja!


Saat membayar karcis untuk masuk, tiba-tiba salah petugas berseru, "Wah, keluarga bahagia nih!"


Merry tergelak, yang benar saja? Tapi dengan keadaan mereka yang seperti itu siapa pun yang melihatnya pasti mengira jika mereka adalah sepasang suami istri yang sudah memiliki tiga anak. Walaupun pasti terlihat terlalu muda untuk Merry yang usianya masih 24 tahun sudah punya anak yang usianya sepuluh tahun seperti Luham dan Liam.


Setelah mereka sudah masuk, Daris mendekati Merry lalu berbicara, "Harusnya tadi kamu pakai kaos abu-abu, pasti kita kelihatan kompak!"


Merry yang mendengarnya langsung mengamati penampilan empat laki-laki yang sedang bersamanya. Sontak Merry langsung tertawa.


Untung tadi gue nggak jadi pake kaos abu-abu! batin Merry yang tetap tertawa.


*****


Emir terus-terusan bertepuk tangan saat menjumpai hewan yang ia cari yaitu Kelinci. Ia terkagum-kagum melihat Kelinci secara langsung. Terus pertanyaan apakah Emir belum pernah melihat Kelinci? Jawabannya adalah pernah tapi hanya sekilas, punya anak tetangga.


Di kebun binatang itu memperbolehkan pengunjungnya untuk memberi makan Kelinci dengan wortel yang sudah disediakan oleh kebun binatang itu sendiri. Alhasil Emir dengan semangat memberi makan para Kelinci.


Mereka sangat bahagia dan mempelajari banyak hal, khususnya anak-anak. Luham dan Liam juga naik kuda walaupun Emir nggak ikut karena takut, terus mereka melihat, jerapah, gajah, dan lain sebagainya.


Setelah dua jam belajar banyak tentang hewan, anak-anak masih semangat untuk melihat-lihat, sedangkan Merry dan Daris duduk di kursi di dekat tempat anak-anak melihat. Daris dan Merry juga terus mengawasi mereka dengan ketat.


Merry lelah juga mengikuti gerak aktif anak-anak, kuwalahan dibuatnya. Memang harus ada kerjasama yang baik antar bapak dan ibu supaya anak-anaknya aman, selain itu supaya rasa tepar nya juga adil, jadi nggak hanya dirasakan oleh salah satu pihak hehe.


"Seneng ya Mer lihat anak-anak bahagia!" ujar Daris yang duduk berdampingan dengan Merry.


Merry yang sebelumnya fokus melihat anak-anak sembari tersenyum, langsung mengalihkan pandangannya ke Daris sejenak, tapi setelah itu Merry kembali mengarahkan fokusnya pada anak-anak.


Senyum Merry tetap mengembang, lalu dia mengangguk.


"Saya memang senang saat melihat orang lain bisa bahagia!" lanjut Merry.


"Habis ini makan siang di resto depan ya Mer!" tawar Daris.


"Ngikut aja Pak!" Merry tidak pernah masalah dengan yang namanya makan apa dan makan di mana, asalkan makanan itu halal, bersih, dan sehat.


Ketiga anak Pak Daris berlari menuju Merry dan Daris.


"Pa ayo lihat singa Pa!" ajak Luham.


"Ayo liat Cinga Papa!" Eh, si kecil Emir malah ikut-ikut.


Daris dan Merry berpandangan sejenak, lalu, "Harus ditemani Pak kalau lihat binatang buas gitu, bahaya!" ujar Merry.


"Kamu mau ikut nggak?" tanya Daris.


"Nggak usah, saya tunggu di sini saja!" Merry ingin duduk di sini saja, lagian tempat singa nya ada di samping kanan. Duduk dari sini pun terlihat kandang singa nya.


Hanya saja, anak-anak tadi menurut kalau mau lihat singa harus sama Papa. Jadi, saat mereka ingin melihat singa ya tentu mengajak papanya.


"Ya udah, ayo!" ajak Daris pada anak-anaknya. Daris lalu menggendong Emir.


"Liam nggak ikut Pa, mau duduk aja di sini!" ucap Liam.


Daris mengangguk, "Ya sudah tidak papa!"

__ADS_1


Setelah di tempat itu hanya ada Merry dan Liam.


"Kenapa nggak ikut Kak, capek ya?" tanya Merry dengan lembut.


Liam menggeleng. Ternyata tidak lelah, mungkin dia tidak berminat melihatnya.


"Apa Auntie akan menikah dengan Papa?" pertanyaan itu lolos dari mulut Liam.


Merry langsung menoleh pada Liam. Merry juga langsung mengembangkan senyumnya.


"Emang boleh Kak?" Merry justru menjawabnya dengan pertanyaan.


"Jadi Auntie benar-benar akan menikah dengan Papa?" Liam langsung bertanya dengan serius pada Merry.


Merry bingung mau menjawab apa.


"Liam mohon Auntie jangan menikah dengan Papa!" lanjut Liam memohon pada Merry.


Hati Merry mencelos, rupanya anak ini tidak mengharapkan dirinya menjadi ibunya.


"Liam hanya mau Mama! Bukan yang lain!" lanjut Liam dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mama Liam cuma satu, Mama Ambar!" lanjut Liam.


Merry menanggapinya dengan kepala dingin, "Mama Liam memang hanya satu dan orang yang telah melahirkan Liam memang hanya satu, tapi apa Liam sama sekali tidak memperbolehkan orang baru untuk masuk di kehidupan Liam dan Papa?" tanya Merry dengan hati-hati.


"Tidak Auntie, Liam akan bersedih jika ada orang yang merebut posisi Mama!" jawab Liam dengan sedih.


Hati Merry langsung perih. Ternyata ini alasan selama ini Liam judes, cuek, dan tidak mengharapkan keberadaannya. Ia hanya ingin Mamanya, Mama kandungnya.


"Termasuk Auntie?" tanya Merry lagi.


"Iya," jawab Liam singkat. Liam langsung merubah posisinya menghadap Merry.


"Gara-gara Auntie Luham mengingkari janji pada Liam, kita punya janji nggak akan membiarkan ada yang menggantikan Mama, tapi gara-gara Auntie Luham jadi pengen punya Mama baru! Gara-gara Auntie Emir apa-apa jadi Bunda Bunda terus, dia melupakan Mama!! Gara-gara Auntie Papa jadi nggak sayang lagi sama Liam! Papa lebih sayang sama Auntie! Gara-gara Auntie tante Raya apapun itu bercerita tentang Auntie terus! Liam nggak mau!!!" Liam menangis sesenggukan.


Hati Merry semakin perih, benarkah sejak kehadirannya telah merubah kehidupan mereka dan menyakiti hati anak kecil di depannya ini?


Air mata Merry menetes tanpa sengaja. Jujur, Merry tidak ingin menyakiti hati siapa pun, apalagi hati anak kecil seperti Liam.


Menyakiti hati Liam yang hanya merindukan, menginginkan, dan mengharapkan Mamanya, bukan wanita lain.


"Liam tidak ingin Mama baru Auntie! Liam hanya mau Mama! Mama Ambar!!" Liam terus saja menangis.


"Liam juga tidak mau punya Mama Auntie! Auntie telah merubah Papa, Luham, Emir, dan Tante Raya hiks hiks!" Liam terus saja mengucapkan penolakannya.


Dengan perasaan yang perih, Merry mengangguk. Baiklah, sepertinya Merry tahu apa keputusannya.


"Liam jangan nangis ya, maafkan Auntie!" Merry menghapus air matanya, lalu mengusap pelan punggung Liam memberi ketenangan.


"Maafkan Auntie!" ucap Merry sekali lagi.


----------------------------


Makasih buat kalian yang tetap setia membaca karya Author yang masih amatiran ini 🥺


Jangan lupa like, komen, vote, dan jadikan favorit yaa🖤

__ADS_1


Stay safe, stay healthy!!


__ADS_2