Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Patah Hati Juga Butuh Tenaga


__ADS_3

Daris POV


Ku pandangi anak-anak yang sedang makan. Mereka makan dengan lahap dan sesekali bercanda. Beda dengan diriku yang masih setia mengaduk-aduk makanan di piringku.


Raya datang dari arah dapur sambil membawa semangkuk sup ayam. Ia meletakan sup itu di depanku. Aku melihat ke arahnya.


"Ini, dimakan supnya! Patah hati juga butuh tenaga!" celetuk Raya dengan ekspresi yang datar, lalu ia kembali ke dapur entah mau mengambil apa. Dia menambahkan laukku dengan sup.


Raya sepertinya sama kecewanya seperti diriku. Bahkan saat mendengar kalau Merry menolak, Raya langsung menghubungi Merry untuk menanyakan bahkan membujuk Merry agar menerima lamaran ku. Namun, rupanya Merry teguh pada pendiriannya.


Aku melirik sup pemberian Raya, sepertinya nikmat. Aku mulai mencicipinya menggunakan sendok. Hah, hambar?? Tumben? Apa garam dan gula di dapur habis?


Aku melihat Raya yang masih berdiri di dapur, anak itu terlihat sedang memasukkan garam dan gula ke dalam panci yang isinya sup. Apa anak itu tadi lupa memberi garam dan gula?


"Ray!" panggilku padanya. Raya menoleh saat ku panggil.


"Hambar!!" ujar ku sambil mengangkat mangkuk sup milikku.


"Sengaja!" jawab Raya singkat, lalu kembali fokus pada supnya.


Aku ternganga, jadi aku sengaja diberi sup hambar oleh Raya? Wah, ini tidak patut dicontoh!! Bisa-bisanya Raya ya? Pasti ngambek nih anak!! Memang biasanya Raya seperti ini saat sedang ngambek padaku.


Terus kenapa ngambeknya ke aku? Yang nolak kan Merry?


Tapi ya udah lah aku makan saja sup hambar itu, nggak masalah kok! Benar kata Raya, patah hati juga butuh tenaga!


"Pa, kapan kita main sama Bunda lagi?" Aku terkejut saat mendengar Luham dengan semangatnya memanggil Merry bunda.


"Auntie Merry maksud kamu?" Aku sadar diri untuk tidak membahasakan Luham memanggil Merry bunda.


"Luham pengen manggil Bunda Pa! Emir aja boleh manggil Bunda, kenapa Luham nggak boleh?" jawab Luham dengan cemberut. Ya Tuhan, hatiku teriris mendengarnya.


Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihat bagaimana raut wajah Liam saat ada pembahasan tentang Merry di antara kami. Benar saja, Liam langsung terdiam dan murung.


"Kapan Pa?" tanya Luham lagi. Bahaya ini, kalau Luham masih bisa dikendalikan, tapi kalau sewaktu-waktu Emir yang meminta, wah wah bisa pusing tujuh keliling nih!


"Itu bukan Bundanya Luham, jadi manggil Auntie aja ya!!" Sumpah gila, bisa-bisanya aku ngomong gini ke Luham. Habisnya aku bingung harus ngomong gimana.


"Emir boleh manggil Auntie Merry Bunda!! Kenapa Luham nggak boleh??" bentak Luham kepadaku. Jujur aku terkejut.


"Cukup Luham!!" refleks aku ikut membentaknya.


Aku dapat melihat wajah terkejut Luham karena bentakanku barusan, bukan hanya Luham tapi Liam pun juga. Sedangkan Raya langsung datang dan membawa pergi Emir. Aku tahu pasti anak-anak terkejut. Aku tidak pernah membentak mereka sebelumnya. Mata Luham berkaca-kaca.


"Papa jahat!! Papa nggak sayang sama Luham!" Luham membentakku lagi, lalu berlari menuju kamarnya sembari menangis.


Setelah Luham hilang dari pandanganku, aku berganti melihat Liam. Anak itu hanya diam sambil menatapku dengan raut wajah yang masih terkejut. Lalu, di sepersekian detik ia pergi menyusul Luham.


Kini, tinggal aku sendirian di meja makan. Aku duduk lalu menghembuskan nafasku kasar.


"Kenapa jadi begini?" Aku mengacak rambutku frustasi.


*****

__ADS_1


Author POV


Di kediaman Merry.


"Auntie, apa boleh Chan memanggil Auntie Bunda?" Chan yang tumben bermanja-manja meletakkan kepalanya ke pangkuan Merry bertanya demikian yang membuat hati Merry mencelos.


Emir, Luham, dan Liam!! Merry langsung teringat pada mereka. Merry bengong memikirkan mereka.


"Auntie Auntie!" panggil Chan sembari menarik-narik rambut Merry yang diurai.


"Ha, apa Chan?" Merry jadi loading.


"Isshh," Chan mendengus sebal.


"Apa boleh kalau Chan memanggil Auntie Bunda?" tanya Chan lagi.


"Siapa yang ngajarin, Papi kamu?" Merry tertawa kecil, pasti ini biang keroknya Amar.


Chan langsung merubah posisinya duduk.


"Tidak Auntie! Chan ingin memanggil Auntie Bunda, seperti Emir!" jawab Chan dengan jujur.


Merry tergelak, ada apa dengan Chan ini. Dari kemarin malam saat datang ia berubah drastis sangat baik pada Merry. Bahkan, Chan tak segan-segan untuk bermanja-manja pada Merry.


Merry jadi bingung, boleh nggak ya? Gimana sih, kok tiba-tiba ada lagi yang mau manggil dia bunda?


"Boleh kan Auntie?" tanya Chan memelas.


"Please please!!" Chan mengantupkan kedua tangannya di depan dada memohon pada Merry.


Merry masih ingat betul hari itu Liam pernah memohon seperti ini pada dirinya agar tak menikah dengan ayahnya, tapi kali ini, ada lagi yang memohon seperti ini pada dirinya agar diperbolehkan memanggil bunda.


"Iya boleh, tapi cuma sekedar manggil aja ya!!" Merry memperbolehkan tapi juga mewanti-wanti agar ini hanya sekedar panggilan. Merry cukup takut kalau Chan nanti baper seperti anak-anak Daris.


"Maksudnya Auntie?" Anak kicik ini rupanya tidak mengerti maksud Merry.


"Maksudnya, panggilan Bunda itu sebagai pengganti panggilan Auntie! Sekedar pengganti panggilan Auntie!!" Merry menegaskan dengan cara yang dimengerti oleh Chan.


Masa iya Merry harus gamblang berkata, "Boleh manggil Bunda asal kamu nggak baper terus nyuruh Auntie nikah sama Bapakmu!" Heh, masa iya Merry menikah sama Amar. Masa iya juga Merry gamblang ngomong gitu. Entar kalau Chan menjawab, "Siapa juga yang nyuruh Auntie nikah sama Papiku, jangan GeEr deh Auntie!" Kan Merry jadi malu.


"Horee, makasih Auntie!!" Chan bersorak gembira, lalu nyosor mencium pipi Merry.


Merry memegangi pipi yang baru saja dicium oleh Chan, dia jadi teringat oleh Emir saat pertemuan mereka yang kedua kalinya dulu anak kicik itu tiba-tiba nyosor mencium pipi Merry.


Merry menyimpulkan jika saat mendengar Emir memanggilnya bunda saat melakukan video call dengan Amar dulu, Chan jadi ingin memanggilnya bunda juga.


Dan untuk masalah Chan yang tiba-tiba baik, ya Alhamdulillah dong! Memang seharusnya begitu, semakin bertambah usia seseorang harus semakin bertambah pula perubahan kebaikan pada dirinya. Karena semakin bertambah usia, maka semakin dekat pula dengan kematian.


Terus aja ada yang manggil gue Bunda, sekalian semua anak satu kompleks juga nggak papa! batin Merry sembari menggelengkan kepalanya pelan.


*****


Kembali ke kediaman Daris.

__ADS_1


Daris membuka pelan pintu kamar anak-anaknya. Di dalamnya, hanya terlihat Luham sendiri sedang duduk memunggungi Daris di meja belajarnya. Luham terlihat sedang memegang amplop putih sambil sesekali menyeka air matanya.


Daris menggeret kursi belajar milik Liam mendekatkannya dengan kursi Luham, lalu mendudukinya.


"Liam mana?" tanya Daris pelan. Kali ini Daris


akan meminta maaf pada anak-anaknya.


Luham hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Daris mengerutkan dahi, bukannya tadi Liam juga masuk ke kamar? Tapi ya sudahlah tidak papa!


Daris melihat amplop putih yang dipegang Liam. Amplop berukuran sedang dan tertera logo serta nama lembaga tempat Luham bersekolah.


"Apa itu Kak?" tanya Daris sambil mengambil amplop itu dari tangan Luham. Sedangkan Luham pasrah saja amplopnya diambil oleh Papanya.


Daris membuka amplop tersebut, lalu membaca surat yang ada di dalamnya.


"Ini beneran Kak?" tanya Daris dengan sumringah setelah membaca surat resmi dari tempat Luham bersekolah.


Luham mengangguk meng-iyakan pertanyaan papanya.


Isi surat tersebut adalah permohonan ijin kepada orang tua jika Luham diwakilkan oleh sekolah untuk ikut lomba menyanyi yang bertema ibu.


Luham memang pandai menyanyi, Daris senang mendengarnya. Daris sangat bersemangat mendukung anak-anaknya untuk menggapai prestasi.


"Luham mau Papa dan Auntie Merry bisa datang untuk mendukung Luham!" ucap Luham pelan, lalu air matanya kembali menetes.


"Luham tahu kalau Mama nggak akan datang, Mama jauh di sana! Jadi Luham mau Auntie Merry yang datang!" Hati Daris mencelos saat mendengarnya.


"Luham mau punya orang tua yang lengkap Pa! Luham pasti sangat bersemangat kalau ada Papa dan Auntie Merry yang mendukung Luham!" Siapa yang tak bahagia saat punya orang tua yang lengkap? Ada bapak dan ada ibu!


"Papa minta maaf kalau Papa udah bentak kamu tadi ya?" Daris membalas perkataan Luham dengan permintaan maaf karena dia telah membentak Luham tadi.


Luham hanya diam saja.


"Hey, sini-sini, anak papa yang sholeh nggak boleh gitu dong!" Daris membalikkan tubuh Luham untuk menghadap dirinya.


"Maafin Papa ya!!" ucap Daris tulus sembari mengusap lembut rambut Luham.


Luham yang pada dasarnya memang anak baik mengangguk, memaafkan papanya.


"Tapi Papa janji ya saat Luham lomba nanti, Papa dan Auntie Merry datang!"pinta Luham dengan serius.


Daris memejamkan matanya sejenak, ini PR yang berat bagi Daris.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada Liam yang mendengar ucapan mereka dari pinggir pintu karena memang pintunya tidak ditutup oleh Daris.


Liam terdiam dan entah apa yang ada di pikirannya.


 


Stay safe, stay healthy ya guys 🖤


Makasih udah dukung Author 🤗

__ADS_1


Luv Luv untuk kalian semua🖤🖤


__ADS_2