Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Ungkapan Sayang Liam


__ADS_3

"Bunda!" panggil Liam dengan ragu.


"Iya Sayang, ini Bunda. Kakak mau apa?" Girang sekali dipanggil Bunda oleh Liam. Sering juga sih dipanggil Bunda oleh Liam. Namun, setiap dipanggil itu memberikan sensasi yang berbeda.


Liam menggeleng. "Liam cuma pengen tiduran!" Ya Tuhan, anak tampannya itu berbicara kalimat yang cukup panjang untuknya.


"Ayo Bunda antar ke kamar!"


"Nggak mau di kamar, Liam maunya di sofa depan tv aja!"


Merry tersenyum. Apapun anak tampan. Apapun untuk kamu, asalkan kamu lekas sehat.


"Oke Kak, ayo Bunda antar!"


"Tapi ditemenin sama Bunda kan?"


Nyes. Anak tampannya itu minta ditemani. Demi apa? Ingin rasanya Merry teriak, melompat, dan guling-guling di lantai saat ini juga. Daris, anak kita Daris!


"Pasti dong Kak. Sekarang tugasnya Bunda adalah menemani Kakak. Yuk, ke ruang tv!" ajak Merry.


Liam tersenyum padanya.


Mendapat senyuman dari Liam, rasanya mengalahkan saat mendapat senyuman dari Daris. Daris, sorry ya hehe!


Saat mereka sudah rebahan di sofa, Liam kembali memeluk Merry dengan erat. Liam seperti enggak melepaskan.


"Bunda!" panggil Liam lirih.


"Iya Sayang?"


"Bunda Sayang sama Luham dan Emir?" tanyanya pada Merry. Ya, walaupun Liam yang paling tidak peduli dengan Merry. Namun, diam-diam Merry juga mengamati bagaimana Liam yang sebenarnya.


Merry menebak sebenarnya Liam ingin bertanya apakah Merry sayang dia atau tidak. Namun, karena Liam gengsi, jadi dia menanyakan tentang Luham dan Emir.


"Tentu dong. Bunda sayang Luham, Emir, dan Liam juga! Bunda sayang kalian semua!" jawab Merry dan berhasil membuat Liam tersenyum.


Sepertinya Liam puas dengan jawaban yang didapat dari bundanya itu. Liam semakin mengeratkan pelukannya pada bundanya.


Merry mengusap-usap lembut kepala Liam. Mendapat usapan seperti itu, Liam semakin menyamakan posisinya di pelukan Sang Bunda.

__ADS_1


Liam terdiam dan menikmati usapan dari bundanya.


"Alhamdulillah, sudah tidak demam ya Kak. Kakak bagaimana, sudah enakan?" tanya Merry.


Liam mengangguk di dalam pelukan Bundanya.


Merry tersenyum dan mengecup pucuk kepala anaknya.


Mendapat kecupan dari Bundanya, Liam mendongak melihat wajah Bundanya. Dia tersenyum pada Bundanya.


"Ada apa Kak?" tanya Merry dengan lembut.


Liam hanya terdiam sambil tetap mengamati wajah Bundanya.


"Liam minta maaf ya Bunda. Liam selalu membuat Bunda bersedih. Liam sayang Bunda!" ucap Liam dengan lugas, lalu segera menyembunyikan wajahnya di dada Bundanya lagi. Entah mungkin malu setelah menyampaikan hal ini pada Bundanya.


Bibir Merry tak bisa berhenti tersenyum. Bahagia rasanya. Bahkan, air mata bahagianya berhasil lolos begitu saja.


Apakah ini buah dari kesabarannya selama ini? Terima kasih Tuhan. Merry berjanji tidak akan menyia-nyiakan keluarganya ini.


"Bunda jangan pergi ya. Jangan tinggalin Liam!" ucap Liam lagi.


Merry mengecup berulangkali pucuk kepala anaknya.


"Selama Bunda masih bernapas, Bunda tidak akan meninggalkan kalian!" jawab Merry. Bagi Merry, keluarga adalah harta. Mereka adalah harta dan berlian milik Merry.


Merry rela bertaruh apapun demi keluarganya, apalagi anak-anaknya.


"Bunda, sebenarnya Liam bahagia bisa punya Bunda. Setiap hari ada Bunda di rumah, Liam sangat bahagia!"


Merry merasa dia adalah wanita paling beruntung di muka bumi ini. Dikelilingi empat lelaki yang sangat menyayanginya.


"Bunda jangan pergi ya!"


Merry tahu sebenarnya banyak yang ingin disampaikan oleh Liam, tapi dia bingung bagaimana cara mengungkapkan.


Kalimat "Bunda jangan pergi" itu menegaskan bahwa dia, bahkan mereka tidak ingin kehilangan Merry. Dari banyaknya kata yang ingin diungkapkan, pada akhirnya mereka hanya ingin Bunda jangan pergi walaupun dalam keadaan apapun. Tetaplah bersama kami untuk melewati semuanya. Kita semua di sini butuh Bunda dan akan selalu membutuhkan Bunda. Selamanya.


"Bunda itu tahu sebenarnya Liam itu sayang Bunda kan? Hanya saja Liam malu! Benar kan?" tanya Merry dan disambut anggukan oleh Liam.

__ADS_1


"Sekarang Liam tidak usah malu lagi. Bunda ini kan Bundanya Liam. Iya kan?" ucapnya lagi.


"Ini Bundanya Liam loh. Ibunya Liam. Liam pasti tahu bagaimana biasanya ibu dan anak saling berbicara dan berinteraksi!"


"Iya Bunda, sekarang Liam tidak akan malu lagi Bunda. Liam mau seperti Luham dan Emir yang suka!" jawab Liam. Rasanya nyaman sekali bisa memeluk Bundanya. Sebenarnya diam-diam Liam suka memperhatikan saat Luham dan Emir bermanja-manja pada Bundanya.


Mereka dengan mudahnya memeluk, minta gendong, mencium, minta suapi, dan merengek pada Bunda. Sedangkan Liam malu untuk seperti itu. Dulu dia terang-terangan menolak Bunda. Padahal, seiring berjalannya waktu dia nyaman dengan Bunda. Bahkan, dia selalu iri pada Luham dan Emir.


Namun, sekarang tidak lagi. Liam tidak akan malu dan gengsi. Liam bisa memanggil Bunda dengan lantang tanpa malu dan gengsi lagi. Tidak perlu sembunyi-sembunyi saat ingin melafalkan panggilan Bunda.


Liam juga tidak perlu sembunyi-sembunyi di balik dinding untuk melihat Bundanya yang sedang memasak di dapur dan dibantu oleh Luham dan Liam.


Liam tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk mengecup pipi Bundanya saat malam hari saat Bundanya tidur di kamarnya tanpa khawatir Bundanya terbangun dan dia tertangkap basah.


Liam tidak perlu secara diam-diam memuji masakan Bundanya dalam hati. Sekarang dia bisa memuji masakan Bundanya secara langsung di depan Bundanya.


Liam tidak perlu secara diam-diam mengagumi bekal yang diberikan oleh Bundanya saat di sekolah. Dia bisa setiap hari memuji dan meminta Bundanya untuk selalu membawakan bekal untuknya.


Liam tidak perlu secara diam-diam mengintip Bundanya yang sedang bersedih, lalu ikut bersedih juga. Sekarang, jika Bundanya bersedih, Liam akan berlari ke arah Bundanya, memeluknya, dan membuat Bundanya tersenyum lagi.


Liam juga tidak perlu menahan lagi jika ia ingin bercerita bagaimana kesehariannya saat di sekolah dan bersama teman-temannya.


Liam ingin bercerita tentang hal lucu ataupun konyol agar Bundanya bisa tertawa.


Sebenarnya, banyak sekali yang ingin ia ceritakan kepada Bunda. Tapi Liam memilih menahan karena malu dan gengsi.


Liam juga ingin menunjukkan pada semua jika Liam punya Bunda yang sangat cantik.


Jika sebelumnya Liam adalah orang yang suka menyakiti Bunda, sekarang Liam akan menjadi orang yang akan melindungi Bunda. Jika ada yang berani menyakiti atau mengganggu Bunda, maka orang itu harus berhadapan dengan Liam.


Bundanya yang cantik dan baik ini harus selalu aman. Liam berjanji itu.


"I love you Bunda!" ucap Liam.


Merry tersenyum.


"I love you too Sayang!" jawab Merry.


Liam mendongak, lalu mengecup pipi Bundanya.

__ADS_1


__ADS_2