
Happy Reading Guys 🖤
Cerita ini hanyalah fiktif belaka
---------------------------------------------------
"Apa kamu mau jadi ibu dari anak-anakku?"
Merry tergelak, apa maksudnya? Merry terlalu bodoh untuk memahami perkataan Daris barusan.
"Maksudnya apa ya Pak Daris, saya tidak memahami?" Dengan perasaan yang campur aduk Merry mencoba bertanya. Merry tidak mau langsung menyimpulkan makna perkataan singkat Daris barusan.
Daris tersenyum simpul pada Merry, walaupun raut gugupnya juga tidak bisa disembunyikan. Daris membuang nafasnya pelan.
"Apa kamu bersedia menjadi istri saya? Menjadi ibu dari anak-anak saya Merry?" ungkap Daris dengan kaku.
Merry terdiam mencoba mencerna ucapan Daris.
"Khem," Daris berdehem, lalu melanjutkan perkataannya lagi.
"Saya tahu ini sangat mengejutkan untuk kamu, tapi apa kamu bersedia menjadi istri saya Mer?" lanjut Daris.
Merry tersadar, lalu terkekeh. "Kesambet apa sih Pak Daris? Nggak lucu deh bercandanya! Mana udah petang gini mau Maghrib, serem!" tutur Merry seraya mengibaskan tangan kanannya di depan wajah.
"Saya serius Mer, saya tidak main-main!" sahut Daris dengan serius.
Merry terdiam lagi, ia mengalihkan tatapannya melihat yang lain.
Ada apa sih ini? batin Merry.
Merry tersenyum pada Daris, lalu berkata, "Saya harap ucapan Pak Daris ini memang benar adanya karena saya tidak suka dengan lelucon yang seperti ini dengan posisi Pak Daris adalah orang yang baru saya kenal!" Merry berkata dengan formal.
__ADS_1
"Lantas jika memang itu benar, apa yang membuat Pak Daris berkata demikian kepada saya?" lanjut Merry dengan serius. Tidak diragukan lagi jika menyangkut mengendalikan emosi dan ekspresi, Merry adalah jagonya.
Daris tersenyum, "Saya rasa kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anak saya, saya rasa kamu juga tulus menyayangi anak saya, dan saya melihat kalau anak-anak juga suka dengan kamu!"
Suka dari mana, Liam aja jutek banget sama aku! batin Merry.
"Mungkin saya juga lancang langsung bertanya seperti ini pada kamu tanpa bertanya terlebih dahulu kapan target kamu untuk menikah!" lanjut Daris sembari menertawakan dirinya sendiri.
"Tapi tidak ada salahnya kalau saya menyampaikan niat baik saya pada kamu!" sambung Daris.
Merry mengehela nafasnya dalam. Bohong bila hatinya tidak dag dig dug. Mimpi apa semalam tiba-tiba hari ini dilamar. Kenapa juga sebelumnya Daris tidak memberi kisi-kisi kalau ingin melamar, jadi setidaknya Merry punya bayangan harus menjawab apa dan bagaimana jika harus menghadapi hal semacam ini.
Ayo, santai Merry santai!! Kenapa juga gue harus terjebak dalam situasi yang seperti ini! batin Merry.
"Jadi alasan kuat Pak Daris bertanya demikian karena anak-anak?" tanya Merry yang membuat Daris terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Merry manggut-manggut. Sebelumnya Merry memang belum ada bayangan untuk menikah, tapi tentu pasti punya tolak ukur apakah dirinya harus menikah dengan pria itu atau tidak.
"Kenapa Bapak bisa begitu yakin kalau saya menyayangi anak Bapak dengan tulus?" tembak Merry yang membuat Daris gelagapan.
"Apa hanya karena Emir yang tiba-tiba memanggil saya Mama dan langsung nempel pada saya? Apa juga karena Luham yang baik pada saya? Terus apa karena Raya yang juga sangat mengidolakan saya?" lanjut Merry. Daris hanya mendengarkannya dengan diam.
"Saya tidak meng-iyakan perkataan Bapak kalau mungkin saya orang yang tepat karena saya baik pada anak-anak Bapak juga masih meraba-raba! Saya juga kurang percaya diri jika dibilang orang yang tepat karena jujur saya tidak mengerti bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Bapak! Apalagi, jika semua hanya karena anak-anak, tentu itu akan sulit bagi saya! Saya takut kalau ternyata kita tidak cocok, justru itu berdampak negatif bagi anak-anak!" tutur Merry panjang lebar.
Dia juga tidak yakin apakah perkataannya barusan adalah jawaban yang tepat. Namun, bukankah dia harus mencari kecocokan terlebih dahulu dengan Daris karena dia juga akan menjalankan rumah tangga dengan Daris! Jadi, tidak semata-mata menikah karena anak-anak dan nantinya hanya seperti baby sitter bagi mereka.
Tidak bisa dipungkiri, Daris juga menyetujui perkataan Merry. Daris memang semata-mata menyampaikan niat baiknya pada Merry karena anak-anak.
Padahal dirinya sudah pernah gagal dalam berumah tangga, tapi saat melihat kedekatan Merry dengan anak-anak yang sebelumnya langka terjadi pada anak-anaknya membuat Daris tak berpikir panjang untuk menentukan keputusannya.
Dia tidak bercermin dari kegagalannya di masa lalu. Bukankah dulu malah sudah punya tiga anak, tapi tetap saja pisah.
__ADS_1
Daris bertemu Merry merasa mendapat wanita yang tepat untuk anak-anaknya. Merasa mendapat apa yang ia cari selama ini. Asal anaknya nyaman Daris akan melakukan apapun itu.
Namun, mendengar pertanyaan Merry bagaimana mungkin dia percaya begitu saja jika Merry tulus pada anak-anaknya membuat hatinya terbesit keraguan apakah memang Merry ini benar-benar wanita yang tepat.
Daris hanya terdiam dengan segala pikirannya sembari memahami perkataan Merry.
"Bapak ragu kan setelah mendengarkan semuanya?" tanya Merry seraya terkekeh kecil. Wanita tangguh itu berhasil mengaduk-aduk hati Daris.
Daris tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Salut juga Daris pada wanita di depannya ini, tidak mudah baper saat dilamar, dan berani mengungkapkan pendapatnya. Walaupun terbesit keraguan di hati Daris, tapi Merry yang seperti itu mendapat point plus bagi Daris.
Hal itu menandakan bahwa Daris bukan menyerah begitu saja, dia paham jika saat ini Merry menolak dirinya secara halus. Daris akan memberikan waktu untuk Merry sembari meyakinkan dirinya sendiri jika Merry memang wanita yang tepat menjadi ibu dari anak-anaknya.
Bukan hanya ibu dari anak-anaknya, tapi juga istri baginya. Menjadi sepasang suami istri selamanya dan berharap menjadi pernikahan yang terakhir bagi mereka, khususnya Daris yang pernah gagal dalam berumah tangga.
"Kamu benar Mer, saya ternyata ragu tapi bukan berarti saya menyerah! Saya akan memberi waktu untuk kamu meyakinkan diri kamu dan khususnya juga bagi saya untuk benar-benar menyakinkan kalau kamu memang yang tepat! Jadi, izinkan saya untuk mengenal kamu lebih dalam!" ujar Daris yang merasa jika keputusan seperti ini adalah keputusan yang tepat untuk mereka.
Merry terkesiap, apa itu artinya walaupun Merry menolak lamaran Daris tapi dia harus memberi kesempatan untuk mereka bisa dekat dan mengenal satu sama lain. Ini bukan kali pertama bagi Merry ditawari untuk mengenal lebih dekat dengan lelaki lain. Lalu, apakah kali ini dia juga harus menolak ajakan Daris?
Namun, Merry merasa ada yang berbeda dengan Daris, apalagi dengan anak-anaknya, sangat menarik bagi Merry. Ya, walaupun Merry tadi menolak lamarannya sih.
"Hanya sekedar mengenal tidak masalah Pak, menjalin silaturahmi!" Akhirnya Merry mengizinkan Daris untuk mengenalnya lebih dalam, lebih tepatnya saling mengenal. Percayalah ini bukan pacaran, hanya saling mengenal saja.
Jika menurut Daris ini adalah kesempatan untuk meyakinkan diri mereka masing-masing apakah lanjut menikah atau tidak, lain bagi Merry, dia tidak berharap lebih dalam hal ini.
Mungkin terdengar bodoh dilamar kok malah nolak mintanya mengenal dulu, padahal kan sudah enak diberi kepastian. Tapi menurut pemikiran Merry ini bukan permasalahan yang mudah, mengingat Merry hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup dan mengingat juga Daris yang pernah gagal dalam berumah tangga, Merry tidak ingin hal tersebut terulang kembali, kasihan anak-anak.
Merry juga tidak yakin apakah dia bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya Daris. Jadi, tidak ada salahnya berpikir terlebih dahulu.
"Terimakasih Mer!" ucap Daris seraya tersenyum manis.
Heh, jadi beda deh suasananya. Mau manggil apa nih ke Daris "Pak Pacar?" hiss masa begitu, ya enggak lah orang nggak pacaran. Jadi canggung nih! batin Merry.
__ADS_1