
"Ke taman aja yuk!" ujar Merry sambil menyetir.
"Mau mauu, ayo Bunda!" seru Luham dan Liam yang sedang duduk di kursi penumpang.
"Emil mau, Emil mau!" Emir juga ikut berteriak.
Dia duduk di kursi depan di samping kursi pengemudi.
"Oke, berangkat!" seru Merry sambil tertawa.
Hari Sabtu ini seperti janji sebelumnya, Merry akan mengajak anak-anak jalan-jalan. Namun, rencanya sebelumnya adalah hanya jalan-jalan di jalanan. Bukan pergi ke suatu tempat.
Tapi tiba-tiba tercetus ide untuk pergi ke taman. Ternyata anak-anak sangat bersemangat juga.
Mereka akan pergi ke teman tempat biasanya mereka pergi. Di taman itu, di sampingnya ada play ground. Jadi, Emir bisa bermain di sana.
Selain itu, ada penyewaan sepeda juga, jadi anak-anak bisa bersepeda di jalur yang telah disediakan.
Bisa duduk di kursi taman, atau pun menyewa tikar.
Merry lebih suka menyewa tikar, karena lebih nyaman duduk di bawah sambil meluruskan kakinya.
"Beli jajan dulu kan Bunda?" tanya Liam.
"Boleh, mau jajan apa?" tanya Merry.
Biasanya saat ke sana mereka mereka membawa bekal. Jadi ceritanya piknik di taman.
Namun, karena kali ini tidak membawa persiapan apapun, sepertinya mereka akan membawa saja.
"Mau siomay Bunda!" jawab Luham yang rindu dengan siomay.
Beberapa hari ini Abang siomay yang biasanya lewat di depan rumah tidak lewat. Katanya si Abang siomay sedang mantu.
"Iya, mau juga!" Liam ikut menimpali.
Lucu ya anak kembar. Keinginan mereka sering sama. Terkadang satu bersedih yang lainnya ikut bersedih. Bahkan, yang satu sakit, yang satunya menyusul sakit juga.
Sebagai ibu dari anak kembar, jika salah satunya sakit, Merry akan waspada jika yang satunya ikut sakit juga.
"Boleh boleh, nanti kita beli di Abang yang jualan di deket taman itu ya!" jawab Merry.
"Jualan kan Bun?" tanya Luham.
Merry tampak berpikir. "Bunda juga nggak tahu. Kita coba lihat aja nanti!"
"Tapi harusnya jualan sih. Biasanya kalau kita ke sana selalu ada kan? Pas kita cuma lewat aja juga ada kok!" sambung Merry.
"Semoga ada ya. Soalnya pengen banget!" Liam ikut menimpali.
"Abang siomaynya kapan sih lewatnya Bun?" tanya Liam. Sudah dua hari tidak lewat.
Merry tersenyum. Sudah langganan dan akrab sama Abang siomaynya.
"Belum tahu. Orang Bunda aja masih kondangan besok kan. Ya mungkin agak lama. Nanti kan pasti masih ada acara di rumah besannya sana juga Kak. Ngunduh mantu!" jawab Merry.
__ADS_1
Karena sudah akrab, jadi Merry juga diundang dalam acara pernikahan anak Abang siomaynya.
Luham dan Liam tahu mengangguk-angguk. Tidak paham betul, tapi mereka mengerti kalau orang punya acara pernikahan pasti lama juga.
"Emil mau es klim Bunda!" ucap Emir.
"Hm, kemarin kan udah makan es krim, Dek!" ujar Liam.
"Iya, besok-besok lagi ya. Masak setiap hari sih?" Luham ikut menimpali.
Good. Batin Merry sembari tersenyum.
Mereka memang kakak yang baik. Mereka bisa membantu Papa dan Bundanya dalam menjaga Emir.
Emir pasti juga seneng punya kakak kembar yang baik. Ya, walaupun terkadang usil. Apalagi Liam, dia yang paling usil kepada adiknya.
"Jadi tidak boleh?" tanya Emir dengan polos.
Emir juga terkadang nurut, terkadang tidak.
"Iya tidak boleh. Besok-besok lagi ya!" jawab Luham.
"Ya sudah!" jawab Emir pasrah.
Ini bukan kali pertama kakak-kakaknya melarang. Jadi, Emir pun sudah hafal.
**
"Ayo Liam, kita balapan!" teriak Luham sambil menyalip Liam.
Hari ini taman ramai. Tapi tidak seramai saat hari Minggu.
"Siapa takut!" seru Liam sambil mengayuh pedal dengan cepat.
Namun, tiba-tiba.
"Aw," Liam terjatuh dari sepeda.
Luham yang melihatnya pun langsung berhenti. Dia bergegas turun dari sepeda dan membantu Liam.
"Kaki kamu luka, Liam!" ujar Luham dengan panik saat melihat lutut kanan saudara kembarnya yang berdarah.
"Ish, perih!" Liam meringis kesakitan sambil mengipasi lututnya dengan tangan.
"Coba aku lihat, ada yang luka lagi nggak?" Luham memeriksa keadaan saudara kembarnya.
"Sikunya luka juga!" ucap Luham saat melihat siku kanan saudara kembarnya juga luka.
Semua lukanya di sebelah kanan karena Liam terjatuh di posisi kanan.
Liam melihat sikunya sendiri.
"Nggak perih yang ini. Mungkin karena lukanya sedikit!" ucap Liam.
"Iya, tapi pasti nanti sakit!" ujar Liam
__ADS_1
"Ayo, ke Bunda!" ajak Luham sambil membantu Liam berdiri.
"Aw aw." Kaki Liam sakit digunakan untuk berjalan. Mungkin karena lukanya cukup dalam dan posisinya ada di lutut.
Karena Luham dan Liam sama besarnya, jadi Luham tidak mampu menumpu beban Liam. Mereka terjatuh bersama.
"Sini sini, biar Kakak bantuin!" Tiba-tiba datanglah seorang pemuda untuk membantu mereka.
Dia adalah Erga.
"Ayo, Kakak gendong di belakang!" ucap Erga sambil bersiap menggendong Liam di punggung.
"Iya, minta tolong ya Kak!" ucap Luham.
"Bunda kita ada di tempat Playground. Aku mau mengembalikan sepedanya dulu!" Entah mengapa Luham begitu percaya dengan Erga. Luham juga sangat membutuhkan bantuan untuk saudara kembarnya itu.
Kalau saja Luham kuat menggendong Liam, pasti dia yang akan menggendongnya sendiri.
"Iya, biar Kakak antar!" jawab Erga. Lalu menggendong Liam.
Setibanya di Playground.
Merry yang melihat Liam digendong oleh seorang pemuda langsung berjalan mendekat. Dia mengamati dengan betul.
Liam?? Itu Erga juga kan? Batin Merry.
"Kak, kenapa?" seru Merry. Emir juga mengikuti bundanya dari belakang.
"Jatuh, Bunda!" jawab Liam sambil meringis.
Erga menurunkan Liam dengan perlahan. Dan membantu Liam untuk duduk.
"Jatuh di mana?" tanya Merry sambil memeriksa lutut dan siku Liam. Tidak hanya berhenti di situ, dia juga memeriksa seluruh keadaan anaknya. Takut ada luka lain yang belum diketahui. Termasuk di kepala juga.
"Di sana. Tadi kebut-kebutan. Liam kok yang salah!" Liam menyadari dan mengakui kesalahannya.
"Ini Bu, diobati dulu!" Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang datang dengan membawa obat.
Ibu-ibu itu juga berada di Playground untuk menjaga anaknya. Tadi juga berbincang-bincang dengan Merry.
Tanpa berlama-lama, akhirnya Merry langsung mengobati luka Liam.
"Maaf ya, Bunda. Tadi kebut-kebutan!" ujar Luham merasa bersalah setelah ia datang dari mengembalikan sepedanya.
"Iya, lain kali jangan kebut-kebutan lagi ya. Bahaya buat diri sendiri, selain itu bahaya buat orang lain juga. Harus lebih hati-hati ya!" ucap Merry sambil terus mengobati kaki Liam.
Setelah semuanya selesai.
"Makasih ya, Bu!" ucap Merry sambil mengembalikan obatnya.
Sedari tadi, Erga yang juga berada di situ terdiam melihat interaksi antara ibu dan anak.
Ada anak kembar dan satu anak kecil. Mereka tampak menyayangi. Apalagi anak yang paling kecil juga terus duduk di samping Liam dan berkata, "Kakak tidak boleh nangis ya!"
Dia juga mengusap-usap pundak kakaknya. Mungkin berusaha memberikan ketenangan.
__ADS_1
Entah apa yang ada di pikiran Erga kala itu. Ia hanya diam dan mengamati dengan seksama.