
Tok tok tok
Daris mengetuk kamar anaknya.
"Masuk, Bunda!" teriak Liam dari dalam.
Mereka mengira jika yang mengetuk pintu adalah bundanya.
Ceklek
Tentu saja mereka melihat siapa yang muncul dari balik pintu.
Saat mengetahui yang muncul adalah papanya. Mereka terdiam dan kembali kepada aktivitas mereka.
Setelah Daris berada di dalam, dia kembali menutup pintu itu.
Daris berjalan mendekat ke ranjang mereka.
Liam sedang bermain game di handphone, sedangkan Luham membaca komik.
"Nanti weekend kita jalan-jalan ya?" tawar Daris.
Daris tidak mau berbasa-basi. Mereka sedang marah, berbasa-basi pun percuma, mereka tidak akan menggubris.
Lebih baik langsung berbicara inti dari apa yang ingin ia katakan.
Mereka sejenak melihat papanya.
"Pasti akan batal lagi!" jawab Luham.
Sedangkan Liam hanya melihat papanya saja.
"Enggak, kali ini Papa janji nggak akan batal. Kita pasti pergi. Papa akan meluangkan waktu yang banyak buat kita bisa jalan-jalan?" jawab Daris berusaha menyakinkan anaknya.
Daris aku berusaha untuk meluangkan waktunya.
Mereka tidak terlalu bersemangat. Mungkin mereka takut kecewa seperti yang sebelumnya.
"Kalian mau pergi kemana?" tanya Daris dengan semangat.
Luham dan Liam berpandangan sejenak.
"Ngomong aja gapapa, Papa janji pasti apa yang kalian mau bakalan Papa turutin!" ucap Daris kembali meyakinkan anak-anak.
__ADS_1
Respon yang diberikan oleh anak-anak sangat berbeda dengan sebelumnya.
Ya, ini salah Daris yang terlalu sering mengecewakan Liam dan Luham.
Bahkan, sebetulnya bukan hanya Luham dan Liam yang mereka kecewakan. Ada Emir yang juga Daris kecewakan.
"Sebelumnya kita pengen ke Zoo dan Timezone. Tapi karena Papa sibuk ya udah kita ajak Papa ke taman aja gapapa. Walaupun akhirnya nggak jadi!" jelas Luham dengan kecewa.
Daris sedih mendengarnya. Sebenarnya itu tidaklah sulit jika dipikirkan. Hanya membutuhkan waktu satu hari saja.
Tapi kenapa waktu satu hari itu sulit diwujudkan dan membuat mereka kecewa.
"Ya sudah, nanti weekend kita ke sana ya!" jawab Daris yang menyanggupi permintaan anaknya.
Luham menggeleng.
"Enggak Pa. Sekarang kita udah nggak pengen itu lagi?" tolak Luham.
Daris mengernyitkan dahinya.
"Lalu?" tanyanya.
"Kami ingin Papa melihat kami bertanding futsal hari Minggu nanti!" Kali ini Liam yang menjawab.
Daris benar-benar sadar jika dia tidak pernah punya waktu untuk anaknya. Daris bahkan tidak tahu hal apa saja yang sudah dilewati dan akan dilewati oleh anak-anaknya.
Daris tersenyum pahit.
"Kami pengen Papa, Bunda, dan Emir nanti hadir!" Luham ikut menimpali.
"Kami hanya ingin itu kok Pa. Pertandingannya hari Minggu, jam tiga sore. Sebentar saja. Itu tidak membutuhkan waktu yang lama!" lanjut Luham.
Hati Daris terasa teriris saat Luham mengatakan tidak membutuhkan waktu yang lama.
Mungkin mereka berpikir jika Papanya tidak mungkin mau melihat mereka bermain futsal.
Daris tersenyum sembari mengangguk.
"Bunda sudah tahu?" tanya Daris.
Mereka mengangguk.
"Kan Bunda yang setiap hari menyiapkan bekal air minum untuk kami kalau mau berangkat latihan!" jawab Liam.
__ADS_1
Kenapa Merry tidak cerita ke aku? Batin Daris.
Namun, seketika ia langsung teringat. Waktu itu Merry pernah cerita kalau anak-anak sibuk berlatih futsal karena mau bertanding.
Namun, hanya sebatas itu saja obrolan mereka terkait futsal. Karena saat itu Daris hanya menjawab dengan ber-oh ria. Dia juga tidak lanjut bertanya kapan pertandingan itu dilakukan.
Dan setelah itu Daris lupa karena dia pergi ke luar kota.
Daris memejamkan mata menyesal barusan sempat berprasangka buruk kepada istrinya.
"Papa bisa?" tanya Luham dengan ragu.
"Tidak juga nggak papa kok Pa. Kami tidak ingin mengganggu Papa!" sahut Luham dengan cepat.
Daris sedih mendengar jawaban itu.
Daris mengusap kepala anaknya bergantian.
"Papa bisa. Papa bakalan datang!" jawab Daris sambil tersenyum.
Rasa penyesalan masih menyelimuti hatinya.
Luham dan Liam langsung tersenyum.
"Beneran Pa?" tanya Liam. Mereka tampak sumringah.
Daris mengangguk dengan bersemangat dan juga tersenyum.
"Tapi Papa janji harus datang ya!" ucap Liam memperingati Papanya.
"Papa pasti datang. Janji!" jawab Daris dengan sungguh-sungguh.
Kali ini dia tidak akan mengingkari janjinya. Selain Daris ingin mencoba menjadi ayah yang baik, Daris tidak ingin mengecewakan mereka, dan Daris tidak ingin menganggu konsentrasi mereka karena Daris tidak menepati janjinya.
Daris akan datang untuk mendukung anak-anaknya.
"Betulan ya Pa?" Luham kembali memperingatkan. Seolah-olah mereka takut Papanya ingkar janji lagi.
"Iya, janji ini Papa. Papa pasti datang. Pastii!" Daris sangat meyakinkan anak-anaknya.
"Yee, makasih Pa!" Mereka bersorak gembira sambil memeluk Papanya.
Merry yang ternyata berada di pinggir pintu tersenyum lebar.
__ADS_1
Jika seperti ini kan enak dilihat. Rukun dan tidak ada pertengkaran seperti tadi.