Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Liam Mendadak Ceria


__ADS_3

"Ayo sayang pegang tangan Bunda!" ujar Merry sambil menggandeng tangan Emir.


Saat jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Merry menjemput Luham dan Liam yang sedang bermain futsal, lebih tepatnya berlatih.


Untuk makan siang, tadi pagi Merry juga sudah membawakan bekal untuk anak-anak.


Merry pergi ke tempat ini mengendarai mobil barunya hadiah pernikahan dari Mommy Tyas.


Sebenarnya Merry merasa hadiah ini terlalu mahal, tapi mau bagaimana lagi ini kan keinginan Mommy nya. Rejeki harus disyukuri.


"Emil nggak mau main fusal Bunda!" celoteh Emir yang sedang berjalan bergandengan dengan Bundanya karena mereka sudah sampai di tempat ditujuan dan sedang menuju tempat tunggu yang Merry sendiri belum tahu di mana lokasinya.


"Kenapa?" tanya Merry sambil terus berjalan dan melihat anak-anak di lapangan yang sepertinya sudah bersiap untuk pulang.


"Emil mau lenang ajah!" jawab Emir menggemaskan.


"Iya nggak papa, yang penting Emir jadi anak yang sholeh dan berbakti sama orang tua!!" jawab Merry.


Jujur ini kali pertama Merry ke sini, jadi masih ragu. Ternyata, di sebelah lapangan terdapat tempat seperti ruang tunggu yang di sana banyak ibu-ibu juga. Merry menyimpulkan bahwasanya ibu-ibu itu juga sedang menjemput anaknya sama seperti dirinya.


Merry melangkahkan kakinya bergabung dengan ibu-ibu yang ada di situ. Terkadang, muncul dalam pikirannya jika hidupnya memang sudah berubah.


Beberapa ibu-ibu yang melihat kehadiran Merry tersenyum menyapa pada Merry.


"Jemput anaknya ya Mbak?" tanya salah seorang ibu-ibu.


"Iya Bu, Ibu juga ya?" Merry memanggilnya ibu karena memang ibu-ibu itu terlihat lebih muda sedikit ketimbang Mommy Tyas.


"Cucu saya! Begini kalau sudah tua, yang diurusin Cucu!" jawab ibu itu.


"Saya belum pernah lihat Mbak ya?" tanya ibu yang lain.


"Saya baru pertama kali ke sini, biasanya yang jemput anak-anak, Papanya!" jawab Merry sambil tersenyum ramah. Sudah tidak ada bodyguard bodyguard an di sini, yang ada adalah Bunda dari Luham, Liam, dan Emir.


"Oh gitu ya Mbak!" ibu tersebut ber-oh ria.


"Nikah muda banget ya Mbak, masih muda gitu anaknya udah gede sepantaran anak saya? Atau jangan-jangan?" sahut ibu-ibu julid yang lain.


Merry hanya tersenyum, ia paham maksud ibu tersebut. Anak-anak yang berlatih futsal di sini memang hampir seumuran, jadi tak heran jika ibu-ibu itu bingung melihat Luham dan Liam yang yang sudah besar tapi Bundanya masih muda.


"Bunda!!" Teriak Luham sambil berlari ke arah Bundanya.


"Wah, Bunda tepat janji mau jemput kita!" seru Luham saat sampai di depan bundanya.


"Loh, jadi anaknya yang ini ya Bu?" tanya ibu-ibu penanya pertama yang sepertinya sedikit mengerti tentang Luham dan Liam.


"Iya Bu, saya ibu sambung mereka!" jawab Merry sambil tersenyum.


"Oh jadi gitu ya, aduh pasti Luham dan Liam seneng nih punya Mama baru yang cantik gini!" ujar Ibu tersebut sembari menggoda Luham.


"Seneng dong Memi, Bundanya Luham kan cantik!" jawab Luham dengan bahagia.

__ADS_1


Ternyata Luham memang sudah mengenal ibu tersebut dan memanggilnya Memi, meniru cara cucu ibu tersebut memanggil ibu tersebut.


"Liam pasti seneng juga dong?" tanya Memi.


Liam hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Tumben ih si Liam kalem begini, biasanya juga lebih pecicilan dari Luham! Lagi sakit ya?" ceplos Memi sambil mengecek suhu tubuh di dahi Liam.


Merry hanya bisa diam, jujur selama ini dia belum pernah melihat Liam lebih pecicilan dari Luham. Mungkin karena faktor Liam yang belum menerima Merry sepenuhnya.


"Ibu saya permisi dulu ya!" pamit Merry pada ibu-ibu tersebut.


"Oh iya, hati-hati ya!"


*****


Di dalam mobil, Merry terus kepikiran apakah dia memang tidak bisa menjadi ibu idaman untuk Liam?


Ini sudah seminggu Merry menjadi Bundanya, tapi tetap saja tidak ada kemajuan apapun. Belum lagi ketambahan saat masa pendekatan dirinya dengan Daris yang lumayan memerlukan waktu beberapa bulan dulu. Harusnya sih ada perkembangan, tapi ya sudahlah sabar saja.


"Tadi bekalnya Luham habis Bunda!" seru Luham yang duduk bersampingan dengan Liam. Sedangkan Emir duduk manis di kursi sebelah kursi kemudi, persis di sebelah Bundanya yang sedang menyetir.


"Bagus dong, Bunda jadi seneng!" jawab Merry dengan sumringah, melupakan segala kegalauannya barusan.


"Punya Kak Liam gimana?" tanya Merry sambil melihat Liam dari spion.


Liam terlihat bingung ingin menjawab apa.


"Punya Liam juga habis, kan yang menghabiskan aku! UPS!" Luham langsung menutup mulut saat tak sengaja membocorkan rahasia Liam.


"Eh eng... enggak Bunda!" Luham segera meralat ucapannya.


Senyum sumringah di wajah Merry mendadak hilang, jujur kecewa tapi mau bagaimana lagi?


Merry berusaha untuk tersenyum lagi, "Nggak papa kok!" ujar Merry berusaha tidak mengapa.


"Berarti Kak Liam belum makan dong? Kak Liam lapar banget berarti sekarang?" tanya Merry dengan gelisah sambil sejenak menoleh ke belakang ke arah Liam.


"Enggak kok, Liam nggak laper!" bohong Liam. Padahal, cacing-cacing dalam perutnya sudah meronta-ronta.


"Tadi Bunda udah masak banyak, dari rumah langsung makan ya?" tanya Merry yang sebenarnya lebih cenderung ke perintah.


"Yes, makan lagi dong!" seru Luham dengan bahagia.


"Iya, makan lagi nanti ya!" jawab Merry sambil tersenyum.


Di dalam mobil, Emir berceloteh ria bersahutan dengan Luham. Merry sesekali ikut menimpali celotehan mereka. Berbeda dengan Liam yang hanya diam saja. Liam terlihat sibuk bermain handphonenya.


Tiba-tiba, Liam membulatkan bola matanya sambil berteriak, lalu disambung dengan tawa yang keras.


"Ada apa sayang?" tanya Merry yang terkejut. Tidak hanya Merry, tapi Luham dan Emir juga terkejut.

__ADS_1


Liam memandang Merry dengan mata berbinar. Bahkan, Merry belum pernah melihat Liam sebahagia ini.


Melihat moment langka seperti ini, tentu Merry ikut tersenyum bahagia saat melihat raut wajah Liam yang sangat bahagia.


"Mama Mama!!" ujar Liam pada Merry.


Merry yang semula tersenyum bahagia langsung mengerutkan dahinya karena bingung apa maksud Liam.


Liam beralih menatap Luham.


"Mama akan datang ke Indonesia, Mama akan menemui kita!" ujar Liam dengan penuh semangat dan bahagia.


Tak dapat dipungkiri, Luham pun juga sama bahagianya seperti Liam.


"Serius? Kapan?" tanya Luham dengan semangat.


"Lusa!!" jawab Liam yang semakin bersemangat.


Senyum Merry hilang seketika. Merry memang bahagia jika anak-anaknya akan bertemu Mamanya. Namun, melihat raut kebahagiaan anak-anaknya yang berbeda dari biasanya membuat rasa percaya diri Merry pudar.


Apakah selama ini Merry tak cukup memberikan kebahagiaan untuk mereka?


"Ini Mama ngechat aku!" ucap Liam sambil menunjukkan chat nya dengan Ambar barusan.


Luham dan Liam sibuk dengan mamanya.


Ini baru pertama kalinya Merry melihat Liam seceria itu. Liam yang biasanya pemurung saat bersama dirinya, langsung berubah ceria seketika.


Merry tersenyum pahit. Di dalam mobil ini, seolah-olah ia terlupakan. Hanya Emir yang tetap setia pada dirinya.


Tak mengapa, walaupun dadanya terasa sesak, tapi Merry bahagia. Apalagi saat melihat Liam ceria dan Luham yang semakin bertambah ceria, ingin rasanya Merry terus melihat mereka seperti itu.


Merry terus melanjukan mobilnya membelah jalanan ramai sore ini. Sesekali ia melihat kebahagiaan anak-anaknya melalui kaca spion. Merry sama sekali tak ingin menganggu mereka.


Lusa, Mama mereka akan datang, itu artinya Merry juga akan bertemu dengan Mama dari anak-anaknya, mantan istri suaminya.


"Hahaha, nanti kita pergi berlima sama Mama, Papa, dan Emir ya! Kita ajak Mama keliling kota, pasti seru!!" seru Liam kepada Luham.


"Eh, tapi pasti Grace ikut!! sahut Luham yang mengingat jika mereka juga punya adik perempuan bernama Grace yang masih berusia satu tahu setengah. Anak mamanya bersama suami barunya.


"Oh iya ya, ya sudah berarti kita pergi berenam saja!" ucap Liam karena bagaimanapun Grace juga adek nya.


"Pasti seru!!" seru Liam yang sedari tadi bersemangat.


"Pasti dong!!" sahut Luham.


Ya Allah, kuatkan hati hamba-Mu ini, hamba tahu ini memang konsekuensi dari pernikahan hamba, tapi hamba mohon kuatkan hati hamba Ya Allah! doa Merry dalam hati sambil menahan perih di dadanya.


Merry menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Bibirnya ia paksakan untuk tersenyum. Kebahagiaan anak-anaknya adalah kebahagiaannya.


 

__ADS_1


Makasih buat yang udah baca ya ❤️❤️


Jangan lupa selalu jaga diri dan jaga kesehatan!!


__ADS_2