
Suasana hati Nadia jadi tak menentu. Rasa takut menyelimuti perasaannya. Angin kencang jelas terasa, sampai-sampai jendela yang terkunci terbuka. Nadia berjalan mendekati jendela dan terlihat bercak-bercak darah berada disana. "Darah siapa ini?" Pikirannya.
Nadia tak mau ambil pusing, Ia langsung menutup jendela. Disaat tubuhnya berbalik ke belakang, terlihat jejak kaki dengan darah menghampiri. "T...tolong...!" Teriaknya.
Jejak kaki tersebut semakin mendekat, Nadia menutup wajahnya dan terduduk di sudut ruangan. "Ampun...aku tidak bermaksud untuk membunuhmu." Teriaknya.
Nadia mulai mengintip, matanya membuka sedikit demi sedikit. Disaat mendapati semuanya aman, Nadia membuka matanya dan melihat seluruh ruangan. "Akhirnya, hantu itu pergi juga. Sebenarnya aku tidak takut, hanya saja..." Ucap Nadia terhenti saat mendapati darah menetes tepat di wajahnya.
"Darah..." Ucap Nadia sambil melihat keatas.
"Aaaaaahhhhh" Teriak Nadia dengan histeris sampai tak sadarkan diri. Entah apa yang dua lihat, tapi pastinya cukup menyeramkan.
...
Orang rumah yang mendengar semua itu, langsung berhamburan menghampiri Nadia. Dengan panik, mereka menghampiri Nadia. Jeremi membawanya ke atas ranjang dan Regina memberikan minyak angin kepadanya agar cepat sadar.
"Eeemmm" Ucap Nadia sambil membuka mata dengan perlahan.
__ADS_1
Mata Nadia mulai membulat saat melihat Regina dia menjerit. "Pergi...pergi..." Teriaknya.
"Hey, sadarlah! Ini aku Regina." Ucapnya sambil menepuk pipi Nadia.
Nadia tersadar dan menangis. Ia langsung memeluk regina dengan erat. "Aku takut...! Aku melihat hantu..." Lirih Nadia.
"Tenanglah! Tapi hantu apa? Masa jaman modern seperti ini masih ada hantu." Tanya Regina dengan raut wajah heran.
"Regina aku serius, aku tidak bohong. Hantu itu wajahnya hancur dan penuh dengan darah. Tapi sepertinya wajahnya mirip dengan Berin." Jawabnya.
Regina dan Jeremi termenung, mereka nampak saling menatap. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi melihat wajah Nadia yang panik mereka nampak mempercayainya.
Nadia menarik tangan Regina dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau tidur sendiri. Kamu mau kan, temani aku disini." Ucap Nadia dengan penuh harapan.
"Ya sudah, lebih baik kamu temani Nadia tidur disini. Kalau ada apa-apa, kamu panggil saja namaku!" Ucap Jeremi kepada Regina.
Regina menganggukkan kepalanya dan Jeremi pergi meninggalkan kamar Nadia. Fi luar Jeremi berpapasan dengan Ririn yang terlihat menguping dari balik pintu. "Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak masuk!" Tanya Jeremi.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya memastikan jika Nadia baik-baik saja!" Jawabnya.
"Sudahlah, aku mau istirahat." Ucap Jeremi sambil melenggang pergi.
Ririn nampak memandang kepergian Jeremi. Dia tersenyum sambil mengepal boneka yang di bungkus kain merah. "Ini baru permulaan!" Batinnya.
...
Di penjara...
Terlihat Benny masih tak percaya dengan apa yang telah dia lakukan. Dengan kedua tangannya, dia telah membunuh anak semata wayangnya. "Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku harus terpancing emosi waktu itu." Ucapnya dengan penuh penyesalan.
Air matanya mulai mengalir, gelapnya jeruji besi membuatnya semakin terpuruk. Rasa dingin, terasa menusuk di dadanya. "Kenapa malam ini terasa sunyi dan dingin?" Batinnya.
"Pah...!" Terdengar suara seseorang memanggil namanya.
"Siapa?" Teriak Benny sambil melihat sekeliling.
__ADS_1
Dengan suara samar dan jelas dia terus mencari. Suaranya terdengar familiar di telinganya. "Berin, anakku!" Ucapnya sambil melihat kanan kiri.
Gelap semua gelap, tak ada yang terlihat yang ada hanyalah kesunyian. "Mungkinkah ini semua karena halusinasi ku atau mungkin karena rasa bersalahku yang dalam. Sampai terjadi hal seperti ini." Batinnya sambil melipat tangan di dadanya.