
Ririn menyesali segalanya, Ia sadar kalau dirinya telah di jebak oleh Nadia. Sekarang hidupnya menjadi tidak karuan, pernikahannya adalah sebuah kebodohan. Ia membersihkan tubuhnya dan setelah selesai langsung meraih pakaian yang sudah di siapkan di atas ranjang.
Setelah pakaian pelayan dengan warna hitam putih. Dengan hati yang kecewa, Ia berjalan keluar dari kamarnya. Semua wanita yang ada di sana nampak menatapnya sambil berbisik. Ririn tak menghiraukan, dunianya berasa sudah mati karena mendapatkan tipuan hanya dalam satu malam.
Dari kejauhan, seorang wanita cantik dengan menggunakan dress yang indah nampak tersenyum dan menghampiri. "Jadi kami istri barunya Rendra?" Tanyanya dengan nada dingin.
Ririn tak menjawab, Ia hanya termenung. Wanita itu nampak kesal dan langsung memberikan tamparan yang cukup keras di pipi Ririn.
Plakk...
"Dasar wanita tak tahu diri! Saya bertanya sama kamu." Teriak wanita itu kesal.
Ririn tersungkur ke lantai dan bangkit sambil memegang pipinya. "Maaf mbak, saya tidak mendengarnya. Pikiran saya sedang tidak karuan." Jawabnya polos.
Wanita itu menyunggingkan senyum. "Heh..! Dasar wanita murahan, saya tahu kamu kesini karena tergiur akan tawaran kecantikan gratis." Tuturnya sinis.
"Iya, awalnya memang seperti itu. Tapi sekarang saya sudah tidak yakin." Jawab Ririn kembali.
Wanita itu menarik tangan Ririn dan mengajaknya duduk. "Maaf jika saya kasar. Saya hanya tidak senang, melihat orang yang semena-mena." Ucapnya dengan lembut.
"Mbak..! Saya mohon, bawa saya keluar dari tempat ini. Saya di jebak....!" Rintihnya dengan air mata.
__ADS_1
"Tidak bisa! Setiap wanita yang dikirim ke sini, sudah tidak bisa keluar. Bahkan dengan kematian, jenazahnya akan di kubur di tempat ini." Tegasnya.
Ririn menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, lalu apa yang harus saya lakukan. Setiap hari saya akan merasakan cambukan dan luka. hiks...hiks...!" Ucapnya sambil menangis.
Semua wanita yang mencibirnya langsung menghampiri dan memeluk Ririn. Mereka mempunyai nasib yang sama. Kecuali Dewi, wanita yang menampar Ririn barusan.
Dewi adalah ratu di istana perempuan. Entah berapa banyak wanita yang ada di sana. Ia adalah kesayangan Rendra. Tubuhnya yang seksi dan unik menjadi daya tarik tersendiri. Dewi tidak pernah melakukan pekerjaan seperti yang lainnya, Ia hanya bertugas untuk merawat diri dan mengatur istana wanita.
Dewi melenggang pergi melihat wanita lain yang ikut menangis. Di hatinya, tak ada sedikitpun rasa iba ataupun prihatin. Yang ada di hatinya hanyalah kekuasaan, harta dan kecantikan. Ia tak suka, jika ada wanita lain yang menyinggung perasaannya.
Ririn memeluk mereka dan menangis di pelukannya. "Apa yang harus saya lakukan sekarang?" Tanyanya kepada mereka.
"Sekarang kamu hanya tinggal nurutnya saja! Jika Rendra mendapatkan semua yang Ia inginkan maka surga yang akan kita dapatkan. Dan jika kita menolak maka neraka yang kita rasakan." Ucap salah satu wanita.
"Dewi...!" Ucap Ririn.
"Iya, wanita yang barusan menampar kamu. Dia adalah kesayangan Rendra. Entah apa yang di perbuat nya, Rendra selalu membuatnya bahagia." Jawab wanita lain.
"Kenalin, namaku Lala!" Ucap seorang wanita cantik dengan rambut sebahu.
Ririn membalas jabatan tangannya. "Nama saya Ririn. Saya di jebak oleh teman saya sendiri." Tuturnya.
__ADS_1
"Rin, sekarang tidak ada cara lain. Dari pada kami disiksa setiap hari. Lebih baik kamu nurut saja, buatlah Rendra mencintaimu." Ucap Lala.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ririn bingung.
"Wajah kamu cantik dari sananya. Rendra sangat menyukai wanita yang benar-benar asli tanpa operasi wajah. Ia hanya memandang jijik wanita yang merubah wajahnya." Ucap Lala.
Ririn menganggukkan kepalanya. "Kami harus nurut, harus membuatnya senang. Jika hatinya bahagia dan nyaman. Kamu akan bisa menggeser posisi Dewi di hatinya. Dan kamu bisa hidup tenang dengan cintanya." Ujarnya Lala kembali.
Ririn mengerti dengan maksud Lala. "Kalau begitu, kita jalani permainan ini. Nasi sudah menjadi bubur, tidak seharusnya aku menangis seperti ini." Batinnya sambil menghapus air matanya.
...
Di tempat lain...
Terlihat Nadia sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Hati berbunga-bunga, karena Ririn saingannya sudah pergi. "Sekarang tinggal Regina. Mumpung Jerry, Laras dan Jenny belum kembali. Aku harus segera mengatur siasat." Batinnya.
Nadia bangkit dan keluar dari kamarnya. Terlihat Regina tengah duduk di sofa sambil membaca majalah. "Enak banget nasib kamu yah! Tanpa melakukan apapun, kamu hidup bagaikan nyonya besar di tempat ini." Ucapnya sambil menghampiri.
Nadia duduk di samping Regina dan merebut majalah yang Ia baca. "Semua ini milikku, kamu harus sadar diri. Jika di rumah ini, sudah tidak ada artinya lagi. Kamu hanyalah benalu di tempat ini." Tuturnya dingin.
Regina menyunggingkan senyuman. "Apa bedanya, kamu sama aku? Suami kamu sudah pergi dari rumah ini dan statusmu sekarang telah diragukan." Sindirnya.
__ADS_1
Nadia geram. "Dasar pelakor, asal kamu tahu saja. Aku kesini hanya untuk Jeremi, dan untuk menjadi nyonya di tempat ini." Ucap Nadia sambil menjambak rambut Regina.
Regina membalas dan menampar wajah Nadia. Ia begitu kesal dengan tingkah lakunya. Jelas-jelas Regina adalah Riana yang tidak Nadia ketahui. Tapi sayang, jati dirinya tidak bisa di bongkar untuk saat ini.