
Regina berjalan menuju lemari kayu yang terlihat usang. Regina membuka dan melihat beberapa file yang ada di sana. Dibalik file-file rumah sakit, terlihat buku yang berukuran sedang dengan sampul coklat yang terbuat dari kulit. "Buku apa ini?" Ucapnya sambil melihat-lihat.
Regina penasaran dan membuka buku tersebut. Ternyata buku itu adalah diary milik Irwan. Diawal buku terlihat jelas foto pernikahannya dengan Jeremi yang sudah di coret-coret. "Apa maksud dari semua ini?"
Regina memberanikan diri untuk membaca. "Januari tahun 1999 adalah awal dari hubungan kami. Bangkitnya Riana dari kubur adalah awal dari hidupku yang baru. Memang sih, semua ini adalah rencana ku tapi aku tetap sedih melihat wajah Riana yang sekarat!" Ucap Regina berhenti membaca.
Regina nampak menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka, semua ini adalah siasat Irwan untuk memisahkan aku dengan Jeremi." Ucapnya dengan nada tak percaya.
Di tempat lain...
Rama terus berusaha mendongkrak pintu dengan linggis. Akhirnya pintu pun roboh dan terbuka. Rama bergegas masuk dan menghampiri Regina. "Mamah!" Ucapnya.
Regina bangkit dan menyembunyikan diary tersebut. "Sebaiknya Rama tidak mengetahui semua ini!" Batinnya.
"Mah! Ayo kita pergi, sebelum papah kembali. Aku tidak bisa menolong mamah, jika papah ada di sini." Ajak Rama.
"Iya!" Ucapnya sambil mengangguk.
Regina dan Rama pergi dari ruangan tersebut. Tak lupa, dia juga membawa buku diary yang baru saja dia temukan. Mereka berjalan dengan hati-hati, setelah merasa aman mereka pergi meninggalkan rumah tersebut.
Rama memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia juga mencari jalan lain untuk menghindari berpapasan dengan Irwan. "Kita mau kemana?" Tanya Regina.
__ADS_1
"Kita harus pergi sejauh mungkin, aku tidak mau terjadi apa-apa sama mamah." Ucap Rama.
"Tapi kemana?" Tanya Regina penasaran.
"Mamah tenang saja, aku akan membawa mamah dengan kebahagiaan." Ucapnya sambil menoleh.
Regina tak bertanya lagi, dia percaya kepada Rama. Saling lelahnya, Regina tertidur dengan pulas.
Rama menoleh dan menatap wajah Regina yang berlinang air mata. "Mah, maafkan aku! Aku janji sesudah ini, hanya ada senyuman yang akan terpancar dari wajahmu." Ucapnya sambil menghapus air mata Regina.
Setelah satu jam menyetir, akhirnya Rama menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang berukuran cukup besar. Rumah dengan dekorasi yang cukup unik. Rama tersenyum dan membangunkan Regina dari tidurnya. "Mah, mah bangun! Kita sudah sampai." Ucapnya.
"Ini adalah tempat yang aman untuk mamah. Ayo kita masuk!" Ajak Rama.
Regina tersenyum dan keluar dari mobil. Dia nampak melihat sekeliling yang penuh dengan pepohonan. "Ram!" Ucap Regina.
"Mamah percaya kan sama aku?" Tanya Rama.
Regina mengangguk dan mereka berjalan kembali. Rumah yang nampak seram bila di pandang dari luar. Tapi di dalam, terlihat banyak kenyamanan. "Rumahnya indah! Ucap Regina.
"Iya, rumah ini adalah peninggalan mamah. Rumah yang dulu dan tersimpan banyak kebahagiaan." Ucap Rama sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tap...!" Ucap Regina terhenti.
"Tidak tapi, rumah ini telah di jual. Dan aku membelinya tanpa sepengetahuan papah." Jawab Rama.
Mereka membuka pintu dan terlihat dua orang yang nampak tua dan banyak keriput di seluruh tubuhnya. "Siapa kakek dan nenek ini?" Tanya Regina.
"Mereka adalah kakek dan nenek angkat. Aku bisa sukses karena mereka." Ucap Rama.
"Rama!" Ucap kakek sambil tersenyum.
Mereka saling berpelukan, terlihat mereka berdua benar-benar sangat menyayangi Rama. Rama mencium kening keduanya. "Maaf yah mah, pah aku jarang kesini." Ucapnya.
"Iya, sayang tidak apa-apa. Bagaimana hubunganmu dengan Irwan? Apakah sudah membaik?" Tanya nenek tersebut.
Rama nampak gelagapan dan menoleh ke arah Regina. "Su.. sudah!" Jawabnya dengan senyuman.
"Syukurlah kami senang mendengarnya!" Jawab kakek.
"Oh iya, ini adalah mamah angkat ku. Dan besok akan ada laki-laki yang akan kemari dan biarkan mereka berdua. Nanti akan kuberikan fotonya!" Ujar Rama.
Nenek dan kakek mengangguk. Dan terlihat wajah penasaran mulai terlihat dari Regina. "Siapa laki-laki yang kamu maksud?" Tanyanya.
__ADS_1