CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Suntikan


__ADS_3

Sindy nampak menyunggingkan senyumnya, terlihat matanya mendelik dan air mata pun jatuh. "Kemana saja mamah selama ini? Mamah tahu, aku selalu ingin mendapatkan kasih sayang darimu sampai aku menghalalkan segala cara agar bisa membuatmu menyayangiku. Tapi betapa sedihnya hati ini, bukannya pujian yang mamah lontarkan tapi caci dan maki yang selalu aku dapatkan." Ujar Sindy.


Sarah tersenyum dan menatap wajah Sindy yang tengah menghapus air matanya. "Kamu pikir dengan semua yang kamu lakukan bisa menyembuhkan luka yang telah lama berbekas. Selama ini, aku melihatmu bagaikan duri di mataku. Aku mengeluarkan cacian hanya untuk meringankan rasa sakit ku." Jawab Sarah dengan senyuman di wajahnya.


Semua orang tertegun, mereka merasa heran dengan sikap Sarah yang terus berubah-ubah. Mata Sarah nampak memerah dan tangannya perlahan mulai meraih saku bajunya. Dia nampak mengeluarkan suntikan dan dia langsung mengarahkan ke arah Sindy. "Lebih baik kamu mati saja bersamaku!" Teriak Sarah.


Semua orang terkejut dan Sindy hanya bisa membulatkan matanya melihat suntikan yang mendekatinya. Pak Candra yang ada di sampingnya langsung mendorong tubuh Sindy dan suntikan pun mendarat di kaki pak Candra. "Aaaagggh!" Rintih Pak Candra.


Sarah tersenyum dan Jeremi langsung menamparnya. "Apa yang kamu lakukan? Kamu benar-benar bermuka dua!" Teriak Jeremi sambil melayangkan tamparan di pipi Kanannya.


"Ha...ha...ha..." Terdengar senyuman Sarah yang terdengar sedikit merinding. "Aku tidak akan pernah membuat hidup kalian bahagia dan kalian ingatlah, di antara kalian ada musuh yang akan lebih kejam dari diriku. Dan suntikan itu adalah suntikan mati!" Ujar Sarah sambil berdiri.

__ADS_1


Tubuhnya berputar dengan bahagia dan menyuntikkan cairan yang sama ke tubuhnya. "Lebih baik aku mati, dari pada harus membusuk di penjara." Ujarnya.


Dengan seketika tubuh Sarah ambruk dan begitupun dengan Pak Candra. Jerry dan Jeremi langsung membawa Pak Candra ke rumah sakit. Sindy dan Laras hanya bisa menangis melihat semua itu.


Beberapa menit kemudian...


Akhirnya ambulans datang dan langsung membawa Pak Candra. Jeremi beserta keluarga masuk ke ambulans tersebut untuk menemani Pak Candra. Ambulans melaju dengan cukup kencang, dan dokter yang ada di sana memberikan pertolongan dengan sigap. Dia nampak menyuntikkan beberapa cairan obat ke tangan Pak Candra.


"Iya pah, aku pasti akan menjaga anak-anakku dengan sebaik-baiknya. Papah harus kuat, bertahanlah demi kami!" Ujar Jeremi sambil meneteskan air matanya.


Pak Candra tersenyum dan meraih tangan Jerry. "Nak, akurlah dengan adikmu! Kakek sangat menyayangimu dan Sindy jangan menyalakan dirimu sendiri, kakek sayang sama kalian. Kakek ingin kalian bersatu menjadi keluarga yang kuat dan tegar." Ujarnya kembali.

__ADS_1


"Tolong kakek jangan bicara seperti itu, aku yakin kakek pasti kuat!" Ucap Jerry sambil menangis di genggaman tangan Pak Candra.


Pak Candra tersenyum dan tubuhnya mulai melemas. "Semoga kalian selalu bahagia!" Ujarnya sambil menutup mata.


Tangisan pun pecah, Pak Candra menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. Jeremi dan Jerry langsung memeluk tubuh Pak Candra. "Papah jangan tinggalkan aku, aku tidak sanggup berpisah denganmu." Ujar Jeremi sambil menggoyangkan tubuh Pak Candra.


"Kakek...!" Teriak Sindy dan Jerry dengan histeris.


Dokter mengelus rambut Jeremi. "Bersabarlah, Allah lebih menyayangi Pak Candra." Ujarnya.


Akhirnya ambulans putar arah dan melaju menuju kediaman Pak Candra. Luka lama terbuka kembali, kepergian Pak Candra membuat Jeremi terpuruk. 2 orang yang sangat dia sayangi telah meninggalkannya, kakinya serasa tidak sanggup lagi untuk melangkah. Penglihatan mulai kabur dan gelap, tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2