
Jerry tersenyum dan menghampiri, dia mendekati telinga Laras. "Hukumannya kamu harus melayaniku sampai aku puas dan sebagai hadiahnya kamu akan bahagia dan tak bisa berkata-kata." Bisik Jerry.
Laras yang mendengar ucapan Jerry nampak merinding dan pipinya mulai memerah. "Ah, apaan sih! Kok ujungnya kesitu lagi." Ucap Laras sambil mendorong tubuh Jerry.
"Lalu aku harus apa, sekarang yang ada di kepalaku hanya ada bayangan dirimu dan desahan nafas mu." Ucap Jerry sambil tersenyum.
"Mas!" Teriak Laras dengan nada kesal.
"Iya, iya! Aku tidak akan bercanda lagi." Ucap Jerry sambil menggenggam tangannya.
Laras tersenyum dan memeluk Jerry. "Terima kasih mas, aku sangat mencintaimu!" Ucap Laras sambil membenamkan wajahnya di dada atletis Jerry.
"Iya sayang, aku janji setelah hari ini tidak akan ada lagi air mata yang keluar dari kelopak matamu kecuali air mata kebahagiaan." Ucap Jerry sambil memeluk Laras dengan erat.
...
Di tempat lain...
Terlihat Ririn tengah terbaring di atas ranjang, tubuhnya serasa lemas dan kepalanya pusing. Berin anaknya nampak khawatir dan menghampiri Ririn. "Mah, mamah sakit!" Ujarnya.
__ADS_1
"Mamah tidak apa-apa, mamah hanya kurang tidur saja!" Ucap Ririn sambil tersenyum.
"Tidak mungkin mah, wajah mamah terlihat pucat!" Ucap Berin sambil terus menatap wajahnya.
"Tidak apa-apa sayang, lebih baik kamu kerja!" Ucap Ririn sambil memegang pipinya.
"Tapi mah..." Ucap Berin terhenti.
"Pergi nak, mamah baik-baik saja!" Ucap Ririn mencoba meyakinkan.
"Baiklah, aku pergi dulu mah!" Ucap Berin sambil mengecup kening Ririn.
Ririn akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter dan memeriksakan keadaannya. Dengan tubuh yang lemas Ririn berjalan dan memesan taksi online. Setelah taksi tiba, Ririn langsung masuk ke mobil dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.
20 menit telah berlalu, Ririn akhirnya sampai dan membayar taksi tersebut. Setelah selesai Ririn langsung masuk ke dalam dan mengambil antrian. Tidak menunggu waktu lama, akhirnya nomernya di panggil. Ririn masuk ke dalam dan tersenyum parau. "Siang dok!" Sapa Ririn.
"Siang Bu, apa keluhan anda!" Ucap dokter yang terlihat ramah.
Ririn duduk dan menceritakan keluhannya, dokter tersebut nampak tersenyum dan melihat kearah Ririn. "Apa ibu sudah menikah?" Tanyanya.
__ADS_1
"Menikah! Su... sudah!" Ucap Ririn dengan terbata-bata.
"Ibu tidak perlu cemas kalau begitu, coba ibu berbaring biar saya pastikan kembali." Ucap dokter tersebut.
Ririn langsung berbaring dan dokter memeriksanya, Ririn nampak ketakutan melihat dokter melakukan USG ke bagian perutnya. "Selamat Bu, anda hamil dan usia kandungannya baru menginjak 4 minggu." Ucap dokter tersebut.
Ririn nampak terkejut, matanya membulat mendengar kabar buruk tersebut. "Apa dok, saya hamil?" Tanya Ririn dengan penuh keraguan.
"Iya Bu, sepertinya anda tidak menginginkan bayi dalam kandungan anda." Ucap Dokter tersebut.
"Iya dok, saya tidak menginginkan anak ini karena suami saya tidak menginginkan seorang anak dalam pernikahan kita." Ucap Ririn dengan tipu muslihatnya.
"Lucu!" Ucap Dokter tersebut sambil tersenyum kearah Ririn.
"Apanya yang lucu, dok?" Tanya Ririn sambil mengerutkan keningnya.
"Baru kali ini saya mendapatkan pasien seperti anda, banyak orang yang bahagia mendengar kehamilannya tapi anda malah sebaliknya." Ujar dokter tersebut sambil menulis resep obat.
Ririn terdiam dan tak berkata apapun lagi, dokter menyerahkan resep obat untuk menjaga kesehatan bayi dalam kandungannya. "Ini adalah resep obat untuk bayi dalam kandungan anda, dan sebagainya anda menjaga bayi ini dengan baik. Jangan sampai bayi ini menderita karena ulah kedua orang tuanya yang tidak bertanggung jawab." Ucap Dokter tersebut sambil tersenyum.
__ADS_1
Ririn mengambil resep obat tersebut dan langsung pergi meninggalkan ruangan Dokter. "Dokter sialan, beraninya dia meledekku! Lagi pula aku tidak menginginkan bayi dari tua bangka itu, aku jijik menyebut namanya." Ucap Ririn sambil mengepalkan tangannya.