
"Maafkan aku mas, aku telah salah menilai kamu!" Ucap Ririn sambil memeluk Benny.
Benny pun akhirnya bisa tersenyum dan merasa lega, dia mengajak Ririn ke rumah sakit untuk melihat mereka.
Di tempat lain...
Terlihat Jerry tengah melajukan mobilnya, dia masih penasaran dengan apa yang menimpa keluarga mereka kemarin malam. Dia menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir di daerah pemakaman. Dia menemui makam mamahnya dan ingin membagi cerita dengannya.
Akhirnya Jerry sampai dan memeluk nisan Riana. "Mah, aku merindukanmu!" Gumam Jerry sambil meneteskan air matanya.
Terdengar suara wanita menangis tersedu-sedu di dekatnya. Jerry melihat sekeliling mencari keberadaan suara tersebut. Terlihat seorang wanita di dekatnya sedang menangis di depan makam dan suaranya terdengar tidak asing bagi Jerry.
Jerry langsung berjalan menghampiri dan menepuk bahu wanita itu. "Mbak!" Ucap Jerry.
Wanita itu menoleh sambil menghapus air matanya. "Iya, mas ada apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Laras, kamu lagi ngapain disini?" Tanya Jerry dengan nada terkejut.
"Maaf mas, siapa yah!" Ucapnya sambil mengingat-ingat suaranya kembali.
"Aku Jerry, yang waktu itu menabrak kamu!" Ucap Jerry sambil berjongkok di sampingnya.
"Ooh, mas Jerry! Sedang apa mas disini?" Tanya Laras sambil tersenyum.
"Saya sedang mengunjungi mamah saya!" Jawab Jerry.
"Aku tidak apa-apa mas, aku hanya rindu kepada kedua orang tuaku!" Ucap Laras sambil tersenyum.
"Kamu jangan berbohong sama aku, kamu terlihat sedang sedih. Tolonglah ceritakan sama aku, aku bisa menjadi pendengar yang baik!" Ucap Jerry sambil terus menatap wajah Laras.
Laras pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia berjalan pergi meninggalkan Jerry, Jerry yang merasa heran langsung mengikuti Laras dari belakang.
__ADS_1
Terlihat Laras dihadang oleh wanita dan lelaki yang sudah cukup berumur. Mereka langsung menampar Laras dan sampai membuatnya terjatuh, Jerry langsung berlari menghampirinya. "Kenapa kalian menampar Laras?" Tanya Jerry dengan tatapan tajam.
Terlihat kedua orang itu nampak tercengang dengan ketampanan dan kegagalan Jerry. Mereka saling menyikut dan terus menatap wajahnya. "Kamu siapa, kamu tidak usah ikut campur!" Ucap lelaki itu dengan nada tinggi.
Jerry langsung membantu Laras yang tengah terjatuh dan menangis. "Tenanglah, aku ada disini bersamamu!" Ucap Jerry sambil merangkulnya.
"Kalian yang siapa, kenapa kalian memukul Laras?" Tanya Jerry dengan nada kesal.
"Kami adalah paman dan bibinya, dia anak tidak tahu diri. Kami membesarkannya tapi dia tidak mau balas Budi." Ucap pamannya sambil menunjukkan jarinya ke arah Laras.
"Paman aku tidak mau melayani lelaki itu, aku janji akan membayar semua jasa paman!" Ucap Laras sambil menangis.
"Kamu membayarnya dengan apa, gadis buta seperti kamu apa bisa di banggakan. Untuk melihat saja tidak bisa, apalagi untuk mencari uang!" Ucap bibinya dengan nada ketus.
"Bibi aku punya tabungan di kamar, kali aja itu bisa membantu membayar utang paman dan bibi." Ucap Laras sambil terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Tabungan kamu mana cukup, mungkin itu hanya recehan. Sebaiknya kamu melayaninya dengan baik, lagi pula itu hanya satu malam. Seharusnya kamu bersyukur pak Bondan mau melunasi hutang kami dengan tubuh kamu. Itu tandanya kamu masih bisa cari uang dengan mudah meskipun mata kamu buta!" Ucap bibinya sambil menyunggingkan bibirnya.