
Akhirnya Jeremi di izinkan untuk pulang, mereka langsung membawanya dengan kursi roda. Sesampainya di rumah Jeremi nampak bosan, dia berjalan menggunakan tongkat dan pergi ke taman yang tak jauh dari rumahnya.
Di kursi taman, Jeremi duduk sambil melihat keramaian di sekitarnya. Terkadang dia nampak tersenyum melihat anak kecil yang sedang bermain dengan kedua orang tuanya.
Tapi hatinya nampak sedih, karena masa-masa bersama keluarga telah berakhir. Sekarang anaknya telah tumbuh dewasa meskipun tanpa figur seorang ibu. "Andai saja waktu bisa terulang kembali, ingin rasanya aku bermain bersama dengan kamu Riana dan membesarkan anak kita." Ucapnya sambil tersenyum.
Terlihat seorang wanita nampak duduk di samping Jeremi. "Sendirian saja mas!" Sapa nya.
Jeremi menoleh dan tersenyum. "Kamu...! Wanita yang ada di pemakamankan?" Tanya Jeremi.
Wanita tersebut nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Oh iya, kita belum kenalan! Nama saya Regina, siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Jeremi membalas dan menyebutkan namanya. Dia nampak tersenyum dan sesekali curi-curi pandang ke padanya. "Apakah kamu sudah menikah?" Tanya Jeremi.
"Iya, saya sudah menikah!" Jawab Regina.
Terlihat raut wajah Jeremi berubah, dia tersenyum semu dan memalingkan pandangannya.
__ADS_1
Regina tersenyum dan memperhatikan Jeremi. "Mas, kamu tahu aku sengaja ngikutin kamu loh!" Ucap Regina.
Jeremi nampak terkejut dan langsung menoleh ke arahnya. "Benarkah?" Tanya Jeremi tak percaya.
Regina menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, pertemuan di pemakaman itu membuatku teringat akan dirimu." Ucap Regina.
Jeremi tersenyum dan tersipu malu. "Ternyata jaman sekarang, bukan lelaki yang saja yang pandai menggombal. Malah wanita yang bisa mengukir kata." Ujarnya.
"Aku gak gombal kok, aku serius! Oh iya mas, apakah kamu sudah membaik!" Tanya Regina.
Mereka nampak asyik bercengkrama bersama. Hidup Jeremi yang hampa terasa terisi kembali dengan kehadiran Regina. Entah kenapa, Jeremi baru pertama kali bertemu sudah merasa nyaman dan cocok.
Regina nampak memesan baso tahu dan dia memesan 2 porsi. "Bang yang satu jangan pakai kentang dan pare nya tolong di banyakin." Ucap Regina.
Akhirnya pesanan mereka selesai dan makanan tersebut di berikan ke Jeremi. "Ini milik kamu, tidak pakai kentang dan pare nya banyak." Ucap Regina.
Jeremi terdiam, ucapan regina serasa terngiang-ngiang di telinga. Kata-kata itu mirip sekali dengan Riana yang selalu memberikan perhatian. "Dari mana kamu tahu, aku tidak suka kentang dan suka pare?" Tanya Jeremi sambil tertegun.
__ADS_1
"Eeem, cuma filing!" Jawabnya singkat.
Jeremi tersenyum dan langsung menyantap makanan tersebut. Rasanya masih sama, seperti waktu Riana dan jeremi pacaran. Tak terasa air matanya jatuh saat mengingat masa indahnya bersama Riana.
Regina yang menoleh nampak heran melihat Jeremi meneteskan air mata. "Apakah perkataan ku ada yang salah?" Tanya Regina.
"Tidak, hanya saja perlakuanmu mirip sekali dengan istriku." Ucap Jeremi.
"Istri, dimana dia sekarang?" Tanya Regina.
Jeremi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu dia di mana. Aku merasa menjadi suami yang gagal dan sekaligus menjadi ayah yang tak berguna untuk kedua anakku." Ujarnya.
Regina tersenyum dan memegang pundaknya. "Mas, di dunia ini tidak ada kegagalan. Aku yakin istrimu adalah orang yang paling beruntung mempunyai suami seperti dirimu. Dan begitupun juga dengan anak-anakmu." Tutur regina.
Jeremi tersenyum ketir dan meneteskan air matanya kembali. "Kamu belum mengenalku! Aku telah mengecewakan istriku, karena aku tidak bisa menjaga anakku. Dan istriku sampai sekarang tidak mau menemui ku, dan itu artinya aku telah gagal." Jawab Jeremi.
Regina bangkit dari tempat duduknya. "Tidak semua yang terlihat sama dengan dengan kenyataan. Istrimu pasti akan menemui mu, setelah tiba saatnya. Dan kamu tahu, dia pasti akan selalu menjaga cinta kalian karena dua sangat mencintaimu." Ucap Regina sambil meneteskan air mata.
__ADS_1