CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Menjadi-jadi


__ADS_3

Regina tersenyum dan mengelus rambut Rama. "Apakah kamu pernah mendengar cerita tentang ibunya Jenny?" Tanya Regina.


Rama menganggukkan kepalanya dan bangkit dari tempat duduknya. "Iya! Cerita keluarga yang memilukan. Aku mengenal Jenny dari remaja saat bersama Sarah mamah angkatnya." Jawab Rama.


Regina menatap Rama dengan lekat. Rama melanjutkan kembali ceritanya. "Hidup jenny benar-benar menderita. Tante Sarah selalu berlaku kasar dan memaksa Jenny untuk melakukan apa yang dia inginkan." Ucap kembali sambil meneteskan air mata.


Regina bangkit dan menghapus air mata Rama. "Setelah gelap terbitlah terang! Pepatah itulah yang pantas untuk hubungan kalian berdua." Ucapnya.


"Iya, aku sangat mencintai Jenny. Bahkan melebihi nyawaku sendiri."


Regina bahagia mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rama. Sontak Regina langsung memeluknya dan menangis di pelukan Rama. "Terima kasih, karena kamu telah menjaga Jenny anakku!" Ucapnya.


Rama terkejut mendengar semua itu dan melepaskan pelukannya. "Apa aku tidak salah dengar?" Tanyanya dengan nada tak percaya.


"Iya, itulah yang ingin mama bicarakan. Jenny anak mama dan kami terpisah karena banyak orang yang membenci keluarga kecil kami. Banyak orang iri melihat kebahagiaan kami dan akhirnya mereka gelap mata dan melakukan percobaan pembunuhan."


Rama nampak masih tak percaya dan menggelengkan kepalanya. "Jadi mama selama ini..." Ucap Rama terhenti.


"Iya, mama selama ini merahasiakan semuanya. Mama dan papamu bukanlah pasangan. Kami menikah hanya ingin menyembunyikan semuanya. Wajah ini memang wajah mamamu dan Mas Irwan ingin kamu mengenal mamamu." Tutur Regina.

__ADS_1


Rama menangis dan merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Jadi akulah orang yang menjadi alasan penderitaan Jenny. Akulah yang memisahkan kalian." Ucapnya.


"Bukan sayang, bukan kamu. Tapi takdir yang menuntun kita ke jalan yang benar. Mama sayang sama kamu, tapi mana tidak bisa menerima papa karena mama masih berstatus istri Jeremi." Jawab Regina sambil mengelus rambut Rama.


Rama memeluk regina dan menangis di pelukannya. "Ma, terima kasih karena selama ini mama menyayangiku sampai aku merasa mama benar-benar mamaku. Aku janji ma, aku akan membalas semua kebaikan mama terhadap jenny. Jenny akan menjadi ratu satu-satunya di hatiku dan aku janji tidak akan ada air mata yang keluar darinya selain air mata kebahagiaan." Ucapnya.


Regina tersenyum dan mengecup keningnya. "Iya sayang, mama percaya!" Ucapnya.


Tok...Tok...


Terdengar suara ketukan pintu yang merusak kebahagiaan mereka. Rama menghapus air matanya dan membuka pintu. Matanya membulat saat melihat Irwan ada di hadapannya. "Papa..!" Ucapnya.


"Enggak mas, aku gak mau!" Pekik Regina.


"Ikut aku!" Teriaknya sambil terus menarik tangan regina.


Rama yang melihat perlakuan kasar dari Irwan langsung mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. "Apa yang papa lakukan, kasian mama?" Tanyanya dengan nada kesal.


"Brengsek!" Ucap Irwan sambil bangkit dan menampar wajah Rama.

__ADS_1


Plakk...


Tamparan keras mendarat di pipi Rama dengan keras. Air mata mulai mengalir dari matanya. "Papa!" Ucap Rama dengan nada kecewa.


"Kenapa? Kamu tidak suka!"


"Aku kecewa sama papa! Papa yang sekarang sudah berubah." Ujar Rama.


Regina langsung mendekati Rama dan memeluknya. Naluri seorang ibu keluar dan hatinya sakit. "Apa kamu gila mas? Aku aja yang bukan ibu kandungnya tidak pernah melakukan ini sama Rama, tapi kamu..." Ucapnya sambil menunjukkan jarinya.


Irwan langsung mengepal tangan Regina dengan keras. "Berani kamu, sekarang kamu ikut aku!" Teriak Irwan.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengikuti keinginan kamu."


Irwan tersenyum dan langsung menarik tangan regina. Rama yang membantu malah di didorong dan kepalanya terbentur sampai tak sadarkan diri. "Hentikan mas, Rama pingsan!" Ucap Regina.


"Kamu tidak perlu khawatir, Rama baik-baik saja!" Jawabnya.


Regina kesal dan langsung menepiskan tangannya. "Kamu benar-benar egois! Cobalah buka hati kamu, dia anakmu." Teriaknya.

__ADS_1


"Aku tahu dia anakku, jadi kami tidak perlu ikut campur. Yang terpenting sekarang adalah tentang kita bukan orang lain." Teriak Irwan dengan mata yang merah.


__ADS_2