
Ririn langsung bergegas pergi ke rumah sakit, setelah mendengar telpon dari Pak Broto. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hati dan pikirannya terus tertuju kepada berin anak semata wayangnya.
30 menit telah berlalu, Ririn akhirnya sampai di depan rumah sakit. Ia langsung memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke rumah sakit. Ririn dengan langkah kaki yang tergesa-gesa terus berjalan, langkahnya terhenti saat melihat Pak Broto tengah duduk di depan ruangan Berin.
"Mas Broto!" Ucap Ririn sambil menghampiri.
Pak Broto langsung menoleh ke arah suara, dan tersenyum menyambut kedatangan Ririn. "Rin!" Sapanya.
Ririn langsung menghampiri dengan tatapan sendu. "Mas, bagaimana keadaan Berin?" Tanyanya sambil melihat kearah Pak Broto.
"Tenanglah Rin, anakmu baik-baik saja. Untung saja aku nemuin dia, kalau tidak aku sudah..." Ucap Pak Broto terhenti saat pelukan mendarat di tubuhnya.
"Terima kasih mas, ini sudah kedua kalinya kamu nolongin aku!" Ucap Ririn sambil menangis.
__ADS_1
Pak Broto nampak tersenyum, ia membalas pelukannya Ririn. "Sayang, kamu tahukan aku selalu mengharapkanmu! Aku telah menganggap Berin sebagai anakku sendiri." Ucap Pak Broto sambil mengelus rambut Ririn.
Ririn melepaskan pelukannya dan menatap kearah Pak Broto. "Aku bersedia mas!" Ucap Ririn terhenti.
"Bersedia apa?" Tanya Pak Broto sambil mengerutkan keningnya.
"Aku bersedia menjadi istrimu, dan aku siap untuk di madu." Ujar Ririn.
"Benarkah, apakah kamu serius?" Tanya Pak Broto sambil melihat kearah Ririn.
Ririn melepaskan pelukannya dan tersenyum. Ia menyetujui keinginan Pak Broto, dan mereka langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Pak Broto melajukan mobilnya menuju hotel.
Di dalam mobil...
__ADS_1
Ririn terus menatap wajah Pak Broto, ia tak menyangka jika Pak Broto yang akan bersanding di sampingnya setelah Benny. Meskipun usianya jauh berbeda, tapi Ririn melakukan semua ini demi anaknya. Ia ingin Berin bahagia, dan mendapatkan semua keinginannya dengan mudah.
Ririn tahu, Pak Broto bukanlah lelaki setia. Tapi apalah daya, kehidupannya yang keras memaksanya untuk melakukan semua itu. Ia berprinsip jika hidupnya harus selalu di atas, meskipun itu akan bertolak belakang dengan keinginannya.
30 menit kemudian...
Akhirnya mereka sampai di depan hotel, Ririn keluar dari mobil sambil bergandengan tangan. Pak Broto langsung mengajaknya ke kamar yang sudah dia pesan sebelumnya. Pak Broto nampak seperti binatang yang haus akan ****, dia langsung mengurung Ririn dalam pelukannya.
Ririn tak melawan, dia hanya menikmati setiap k*****n Pak Broto. Dia nampak memejamkan matanya menikmati setiap sentuhannya. Pak Broto langsung melempar tubuh Ririn ke atas ranjang dan dia langsung melakukan aksinya.
Ririn tak memberontak, dia hanya menikmati semua aksi lelaki tua itu. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi aksinya melebihi anak muda.
Beberapa jam berlalu, Ririn nampak kelelahan meladeni nafsu birahi Pak Broto yang besar. Matanya terpejam dan tak terasa waktu sudah menjelang pagi. Cahaya matahari masuk, melalui cela jendela. Matanya mulai terbuka, tubuh Ririn masih terasa sakit karena sisa semalam. Dia mencoba bangkit, dan bercermin di depan kaca. Terlihat bekas c****g di lehernya, dia mencari keberadaan Pak Broto tapi tak di temukan.
__ADS_1
Ririn langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Ririn keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya kembali. Mata Ririn tertuju pada secarik kertas yang ada di atas ranjang. "Surat apa ini? Dan dari siapa?" Tanyanya sambil melihat surat tersebut.