CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Keinginan Benny


__ADS_3

Terlihat Benny mendatangi kamar Ririn dan terlihat Ririn tengah memainkan handphonenya sambil duduk di tepi ranjang. Benny memanfaatkan kesempatan di saat Ririn lengah dan memeluknya dari belakang. "Aku merindukanmu sayang!" Ujar Benny.


Ririn terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. "Mas, ternyata kamu! Aku pikir siapa, kenapa kamu ngagetin aku kaya gitu." Ucap Ririn sambil mengelus dadanya.


"Aku rindu sana kamu sayang!" Jawab Benny sambil tersenyum.


Ririn tersenyum dan mendelikan matanya. "Gombal! Kamu harus ingat, kita sudah cerai." Ucapnya.


Benny mendekati Ririn dan menggenggam tangannya. "Iya aku juga tahu, makannya aku rindu. Bagaimana kalau kita rujuk kembali? Papah sekarang sudah meninggal, dan status kamu di sini gak jelas." Tanya Benny dengan meyakinkan.


"Tidak! Aku tidak mau rujuk sana kamu." Jawab Ririn.


"Loh, memangnya kenapa? Kita sama-sama sendiri, apalagi kamu sekarang tinggal di sini. Apa kata tetangga, jika mereka melihatmu yang tinggal dengan dua duda di dalam satu atap." Ujar Benny.


Ririn menghempaskan tangannya dan menjauh. "Sudahlah mas, biar ku pikir-pikir dulu. Tolong kasih aku waktu, untuk memikirkan jawabannya!" Jawab Ririn sambil berbalik.

__ADS_1


"Baiklah, aku tunggu jawabannya! Semoga saja, jawabannya sesuai dengan yang aku inginkan." Ujar Benny sambil tersenyum.


Disaat Benny bangkit dari ranjang, kakinya menginjak handphone Ririn yang terjatuh di lantai. Berin langsung mengambilnya dan terlihat banyak foto Jeremi di dalam handphone Ririn. "Ternyata ini alasan Ririn untuk memikirkan ajakan rujuk dariku!" Batin Benny sambil menggenggam handphonenya dengan erat.


Benny menghela nafas panjang dan memberikan handphone tersebut kepada Ririn. "Ini handphone kamu kan, lain kali jaga handphonenya baik-baik!" Ujar Benny sambil menyodorkan handphone tersebut.


Ririn langsung mengambil handphonenya dan cukup terkejut. "Semoga Benny tidak melihat isi handphonenya!" Batin Ririn dengan risau.


Benny keluar dari kamar Ririn dengan hati yang terbakar cemburu. Tapi dia tetap diam, karena ingin mendapatkan hatinya kembali. Disaat Benny berjalan, dia berpapasan dengan Sindy alias Jenny dan langsung menarik tangannya. "Ikut aku sebentar!" Ujar Benny.


"Om, lepaskan tangan aku!" Ucap Jenny dengan berontak.


Jenny berhenti berontak dan mengikuti Benny dari belakang menuju kamarnya. "Masuk!" Ucap Benny dengan nada ketus.


Jenny perlahan masuk ke dalam kamar Benny. Meskipun hatinya ragu, tapi dia lebih takut dengan tatapan mata Benny yang penuh amarah.

__ADS_1


Setelah Jenny masuk ke dalam, Benny langsung menutup pintunya dan menguncinya. Kunci tersebut langsung di ambil dan di masukkan ke dalam saku celananya.


Jenny yang melihat semua itu langsung panik dan berlari menuju pintu. "Kenapa pintunya di kunci, aku mau keluar!" Ujar Jenny.


Benny langsung mendorong tubuh Jenny ke atas ranjang. Benny menindihnya dari atas dan Jenny terus berontak. "Om, aku mohon jangan seperti ini!" Lirih Jenny sambil menangis.


"Sebaiknya kamu diam, dari pada kamu terus berontak dan kamu bisa saja membangun ular di dalam celanaku." Ucap Benny.


Jenny pun terdiam dan ketakutan. Benny melepaskan tangannya dari tangan Jenny. Dan dia turun dari tubuh Jenny. "Aku ingin kamu membantuku!" Ucap Benny dengan nada dingin.


"Ban..bantu apa Om?" Tanya Jenny sambil duduk di samping ranjang.


Benny melihat kearah Jenny dan tersenyum. "Tenang saja, meskipun aku sedikit butuh kehangatan dari perempuan tapi aku masih punya perasaan dan tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Kamu tahu, saat ini aku menginginkan Ririn untuk rujuk tapi dia menolaknya. Kamu tahu apa alasannya?" Tanya Benny.


Jenny menggelengkan kepalanya dengan pelan dan Benny pun tersenyum. "Itu semua karena papah mu! Aku tahu, Jeremi tidak pernah mencintai Ririn dan memilih untuk setia kepada almarhum Riana. Tapi aku ingin Ririn membenci Jeremi agar dia bisa menjauh." Ujar Benny.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jenny dengan nada pelan.


Benny melihat kearah Jenny dan memegang dagunya. "Kamu cantik dan cerdik! Aku ingin kamu mendekati Berin dan membuatnya sakit hati." Ucap Benny sambil tersenyum.


__ADS_2