CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Rencana Ririn


__ADS_3

"Kamu tenang saja, Laras bersamaku dan dia tidak akan pernah mengganggu hubunganmu dengan Jerry. Dan aku ingin berkas itu di bakar sekarang juga." Ucap Berin di balik telpon.


Sindy tersenyum dan keluar dari mobil. Dia berjalan menuju tempat pembakaran sampah. yang sedang menyala. "Kamu lihat sendiri!" Ucap Sindy sambil melempar kertas itu ke dalam api.


Berin tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia langsung menutup telponnya. Terlihat berin tengah panik, dia tidak ingin kalau usahanya di sita oleh negara. "Aku harus mencari cara, untuk bisa mengamankan perusahaanku." Gumam Berin raut wajah cemas.


Ririn nampak datang menghampiri, dia heran melihat raut wajah anaknya. "Sayang kamu kenapa?" Tanyanya.


"Mah, aku diambang kebangkrutan. Tadi sindy telpon, katanya Jerry sudah menyerahkan bukti kepada pihak kepolisian atas usaha-usahaku. Dan kemungkinan besar, perusahaan kita akan disita dan kita juga akan membayar denda yang cukup besar." Jawab berin.


Ririn nampak terkejut mendengar ucapan anaknya, dia terduduk dan pikirannya terus berputar. "Sayang, bukannya kamu punya rekan bisnis sekaligus dia juga dekat dengan aparat kepolisian." Ucap Ririn memberi solusi.


"Siapa mah?" Tanya Berin sambil terus berpikir.

__ADS_1


"Masa kamu lupa sih, itu loh yang nama Pak Broto. Dia kan mudah di bujuk, asalkan dengan wanita." Ucap Ririn sambil tersenyum.


"Oh iya mah, tapi dia tropikal orang yang pemilih. Dia tidak mungkin mau dengan PSK yang ku punya." Ucap Berin sambil menggelengkan kepalanya.


"Coba saja dulu, kalau berhasil kita mudah untuk mencari gadis yang masih perawan." Ucap Ririn memberi usulan.


"Baiklah mah, aku akan undang dia nanti malam ke rumah. Tolong mamah siapkan semuanya!" Ucap Berin sambil beranjak pergi.


"Pasti!" Batin Ririn tersenyum.


Laras yang sedang tertidur nampak terkejut, dia langsung bangkit dari ranjang dan menghampiri Ririn. "Iya mah, ada apa?" Tanya Laras dengan raut cemas.


"Cobalah beberapa pakaian ini, cepat aku tidak suka menunggu!" Perintah Ririn sambil duduk di sofa.

__ADS_1


Laras menganggukan kepalanya dan pergi ke ruangan ganti. Satu persatu pakaian Laras coba, tapi tidak ada yang cocok di mata Ririn. Sampai pada pakaian terakhir, yang sedikit terbuka yang memperlihat belahan dadanya. Baju itu nampak cocok di pakai oleh Laras, lekuk tubuh yang ideal nampak terlihat.


Ririn yang melihatnya langsung tersenyum dan mengangkat alisnya. "Ternyata kamu cantik juga!" Ucap Ririn sambil memutar tubuh Laras.


"Tapi mah, untuk pakaian ini? Aku tidak suka mah, pakaiannya sangat terbuka." Ucap Laras sambil menutupi belahan dadanya.


"Sudahlah kamu jangan protes, lebih baik kamu nurut saja. Nanti malam akan ada tamu istimewa, dan tugas kami membawa teh dan ikut duduk bersama kami." Perintah Ririn sambil membulatkan matanya.


"Tap..." Ucap Laras terhenti.


"Ssssstttt, sudahlah aku bosan mendengar kata tapi dari mulutmu. Ayo duduk, mamah akan menambah riasan di wajahmu!" Ucap Ririn sambil memaksa Laras duduk di depan meja rias.


Ririn memoles wajah Laras, dia menambahkan sedikit bedak dan liptik. Di nampak tersenyum saat melihat hasil karyanya benar-benar sempurna. "Kamu lihat sendiri, kamu cantik banget pantas saja anakku sampai tergila-gila kepadamu." Ucap Ririn sambil tersenyum.

__ADS_1


Laras memandang wajahnya di pantulan cermin. Iya memang benar, dia tidak memungkirinya. Ririn memang pandai merias wajahnya, tapi hatinya merasa tidak tenang dengan apa yang di perintahkan Ririn.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19:00. Ririn memanggil Laras untuk datang menghampirinya. Laras dengan segera, langsung berlari menghampiri Ririn yang sedang membawa nampan. "Ingat, apapun yang terjadi kamu jangan memberontak. Kalau tidak, kamu tanggung sendiri akibatnya." Ucap Ririn sambil menarik rambut Laras.


__ADS_2