CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Meluluhkan hati Sindy


__ADS_3

Akhirnya Sindy dengan terpaksa keluar dengan tatapan mata sendu. "Ada apa lagi sih?" Tanya Sindy sambil memalingkan pandangannya.


Rama tersenyum melihat Sindy, dia langsung memeluk Sindy dengan erat. Sindy mencoba memberontak tapi dia tak bisa. "Kamu apa-apa sih?" Tanya Sindy.


Rama tak menjawab, dia nampak meneteskan air matanya. Sindy yang menyadari semua itu, langsung membalas pelukannya. Dia teringat akan masa lalu bersama dengan penuh canda dan tawa. Tak terasa air mata pun lolos dari kelopak matanya. "Ram, sebenarnya aku juga sangat merindukanmu!" Batin Sindy.


Sindy melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rama, lelaki yang selama ini ia rindukan. Wajahnya yang tampan dan berkarisma. Tubuhnya yang tinggi, putih dengan dada bidang yang atletis.


Sedangkan Rama tak bisa memalingkan pandangannya, meskipun Sindy terlihat berbeda tapi Ia tetap mencintainya. "Sin, kenapa kamu menghindari ku?" Tanya Rama dengan tatapan sendu.


"Kita sudah putus, semenjak kepergian mu ke Jerman!" Jawab Sindy dengan nada ketus.

__ADS_1


Rama tersenyum, Ia menekan pipi Sindy dengan kedua tangannya. Mereka saling bertatapan muka. "Sayang, aku tahu kamu juga merindukanku sama dengan diriku!" Ucap Rama sambil menatap matanya.


Mata Sindy nampak berkaca-kaca, dia tak bisa menyembunyikan kerinduannya terhadap Rama. Tak terasa air matanya jatuh dan sontak Sindy langsung memeluk Rama. "Kamu jahat ram, kamu jahat! Kenapa kamu harus ninggalin aku? Hidupku terasa hampa tanpa dirimu." Ucap Sindy sambil memukul Rama dengan pelan.


"Sayang, aku pergi juga untukmu. Aku ingin kita bahagia dan tidak ada yang memisahkan kita." Ucap Rama sambil memeluk Sindy.


Sindy nampak terdiam dan mendorong tubuh Rama. "Maaf Ram, sekarang kita sudah berbeda. Aku tidak seperti dulu lagi, aku wanita kotor. Aku tidak pantas untukmu lagi, aku tidak pantas!" Teriak Sindy sambil menjauh.


Rama akhirnya mengejar Sindy dan menenangkannya. Dan Sindy pun akhirnya tenang dan mereka duduk bersama. "Ram, sebenarnya aku malu bertemu dengan mu. Aku menyesal, tidak bisa mempertahankan keperawanan ku untukmu!" Ucap Sindy sambil menundukkan kepalanya.


Rama mencoba tenang, meskipun hatinya saat ini tengah hancur. Karena walau bagaimanapun Sindy sudah tidak suci lagi, dia merasa kesal dengan lelaki yang telah mengambil keperawanannya. "Aku tidak akan mengampuni mamahnya!" Batin Rama sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Sin, aku tahu disini juga kamu adalah korban. Dan itu semua pasti karena mamahmu!" Tanya Rama sambil mengelus pundaknya.


Sindy menganggukkan kepalanya. "Iya, setelah kepergian mu mamah semakin menjadi. Dia terus memukulku dan menjual keperawanan ku kepada lelaki paruh baya. Dan itu semua dilakukan semata-mata karena uang." Ucap Sindy sambil berderai air mata.


Rama hanya terdiam dan merasa iba mendengar cerita Sindy. Sindy melanjutkan ceritanya dan Rama semakin tak kuasa mendengarnya. "Cukup, hentikan semua ini! Aku tidak sanggup lagi untuk mendengarkannya. Sekarang aku bertanya sana kamu apakah kamu masih mencintaiku?" Tanya Rama dengan tatapan mata serius.


Sindy nampak terdiam, dia tak kuasa untuk menganggukan kepalanya. "Aku mohon, tolong jawab pertanyaan ku!" Ucap Rama penuh dengan keyakinan.


"Iya!" Jawab Sindy sambil menatap wajah Rama.


Rama nampak tersenyum dan bahagia. Dia langsung memeluk Sindy dengan erat. "Baguslah kalau begitu! Sayang aku akan menerima mu apa adanya. Dan aku akan membahagiakan mu, mulai dari sekarang." Ucap Rama.

__ADS_1


Sindy akhirnya merasa lega dan tersenyum bisa tersenyum kembali. Hidupnya yang tadinya hampa, serasa bangkit kembali. "Terima kasih ram, kamu telah kembali!" Ucap Sindy.


__ADS_2