
Keduanya nampak saling menatap dan tersenyum. "Boleh kutahu siapa nama istriku ini?" Tanyanya.
Ririn tersipu malu, pipinya mulai memerah. Dia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Lelaki yang ada di hadapannya, benar-benar romantis. "Nama saya Ririn, Mas!" Jawabnya.
"Namanya indah, seindah wajahmu yang menyejukkan hati." Jawab lelaki tersebut mencium rambut Ririn.
Hati Ririn semakin meleleh. "Ah..mas, bisa saja! Lalu siapa nama mas?" Tanya Ririn dengan berseri-seri.
"Namaku Rendra wilantara. Dan kamu bisa memanggilku Rendra." Jawabnya sambil tersenyum.
"Tidak usah, saya panggil mas saja! Bolehkan...?" Tanya Ririn dengan nada manja.
Rendra menganggukkan kepalanya. "Tentu saja sayang, apapun hanya untukmu."
Akhirnya Rendra membawa Ririn ke atas ranjang. Ririn berbaring dengan hati bahagia. Ia sengaja tidak menggunakan bra, agar bisa terlihat menggoda di hadapan suaminya. Piyama dewasa yang tipis, nampak memperlihatkan puncak buah **** yang bulat dan hitam.
Rendra tersenyum dan mencium bibir Ririn dengan lembut. Ririn begitu terbuai dengan sentuhan lidah yang saling beradu. Keduanya nampak memejamkan mata dan saling menikmati.
Tangan Rendra mulai turun, menuju 2 gundukan kembar dan sesekali meremasnya. Terdengar suara lenguhan dari bibir Ririn yang terdengar menggoda.
Setelah keduanya merasa panas, Rendra melucuti semua pakaian yang ada di tubuh Ririn. Hingga tak tersisa sehelai benang pun. Rendra juga melepaskan pakaiannya dan menarik sabuk dari celananya.
"Tengkurep sayang!" Bisiknya.
Ririn menurut dan melakukan sesuai dengan ucapan Rendra. Tanpa ada rasa curiga, Ia pasrah dengan hasratnya yang telah bergelora.
Cetrakkk...
Suara sabuk menyambar punggungnya. Ririn nampak terkejut sekaligus kesakitan. Iya, berbalik dan bangkit. "Apa yang kamu lakukan sayang?" Tanyanya dengan air mata.
__ADS_1
"Berbaring dan nikmati saja!" Ucapnya Ketus.
Rendra mendorong tubuh Ririn dan mencambuknya kembali. Ririn menahan sakit yang Ia rasa. Semakin kencang cambukan dan semakin kencang pula Ririn berteriak.
Teriakan Ririn terdengar seksi di telinga Rendra. Ia semakin bersemangat dan tersenyum. Setelah cukup lelah, Rendra langsung melakukan aksinya kepada Ririn yang sudah tak berdaya.
Rendra memasukkan burung ke dalam sangkar yang sudah menunggunya dari tadi. Perasaan Ririn bercampur aduk, antara sakit, nikmat dan aneh.
Tak pernah Ia rasakan sebelumnya, pukulan demi pukulan Ia rasakan dari sang suami. Tapi semua itu, justru membuatnya semakin bergairah dan bergelora.
Rendra yang melihat Ririn seperti itu hanya tersenyum. "Akhirnya aku mendapatkan wanita yang sepadan!" Batinnya.
Keduanya nampak menikmati dan Ririn tak mau kalah. Ia memukul pantat suaminya dengan tangan dan itu membuat Rendra meraung. "Lagi sayang, lebih keras lagi!" Teriaknya.
Ririn menuruti kemauan suaminya. Suaminya tidak marah, justru Ia terlihat bahagia. Mereka melakukan hubungan dengan saling memukul satu sana lain. Keduanya nampak menikmati, hingga sampailah mereka di puncak kejayaan.
Keduanya nampak terkulai lemas, setelah sadar Ririn batu merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Rendra turun dari tubuh Ririn dan berbaring dengan menghela nafas panjang. "Terima kasih sayang!" Ucapnya sambil menatap langit-langit.
Iya, penuh luka lebam di sekujur tubuhnya. Termasuk di wajah dan matanya. Rendra memang lelaki yang harus akan **** dan Ia suka dengan kekerasan di permainannya.
Setiap pukulan menjadi daya tarik tersendiri dan setiap ruangan menjadi semakin bernafsu. Ririn membersihkan goa miliknya yang terasa perih. Setelah selesai, Ia keluar dari kamar mandi.
Dan betapa terkejutnya, Ia melihat Rendra yang sudah ada di hadapannya. "Bagaimana sayang, apa kamu puas?" Tanyanya dengan mesra.
Ririn tersenyum. "Iya, tapi kenapa harus dipukuli seperti itu?" Tanyanya.
"Sayang, nanti juga kamu akan terbiasa. Coba kamu rasakan setiap pukulan sambil memainkan dengan berirama. Rasa itu benar-benar berbeda." Bisik Rendra sambil menjilat telinganya.
"Iya mas, aku juga merasakannya. Tapi kamu terlalu keras dan tubuhku terasa sakit." Ucap Ririn.
__ADS_1
Rendra mencium kening Ririn. "Maaf sayang, lain kali aku akan lebih lembut lagi." Ucapnya dengan penuh pesona.
Rutin tersenyum dan memeluk Rendra. Rendra membawa Ririn masuk ke dalam kamar mandi. Dan mereka melakukannya lagi, di bawah shower yang mengalir. Setiap pukulan jelas terdengar dari luar. Ririn hanya bisa meraung kesakitan dan keenakan.
Semalam mereka hampir tak bisa tidur. Keduanya benar-benar saling melengkapi, apalagi Ririn yang sudah sejak lama menginginkan sentuhan lelaki.
Tak terasa hari sudah menjelang pagi, kicau burung kenari saling bersahutan. Terlihat Ririn masih tertidur lelap, sedangkan Rendra sudah siap dengan setelan baju dinasnya.
Mulai timbul rasa kesal melihat Ririn yang masih memeluk guling. Rendra pergi ke kamar mandi dengan membawa seember air.
Byuurrr...
Rendra membanjiri seluruh tubuh Ririn dengan air. Ririn begitu terkejut dan langsung terbangun. "Ada apa mas?" Tanyanya kaget.
"Ini sudah 06:00 pagi. Jatah tidur kamu sudah cukup. Sekarang pergi mandi dan bersihkan pekarangan rumah." Titahnya.
"Loh kok gitu sih mas, aku ini istrimu bukan pembantu." Ucap Ririn bergelayut manja.
Plakk...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ririn. "Aku tidak suka punya istri yang jorok dan pemalas. Dan ingat besok tiap jam segini kamu harus sudah mandi. Dan kamu harus bekerja seperti yang lainnya." Ucap Rendra dengan dingin.
Ririn memegangi pipinya. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. "Maksud yang lainnya?" Tanya Ririn heran.
"Kamu lihat, semua wanita yang ada disini!" Ucapnya sambil menunjuk.
Ririn menganggukkan kepalanya. "Semua wanita itu adalah istriku dan mereka bekerja dengan suka rela. Wajah mereka cantik dan jam segini sudah mulai melakukan pekerjaan rumah." Tutur Rendra.
"Istri..!" Ucapnya terkejut.
__ADS_1
"Iya, mereka sekarang adalah saudaramu. Dan ingat jangan berharap untuk pergi dari rumah ini. Jika itu terjadi, kamu akan menyesalinya seumur hidup." Ucap Rendra sambil melenggang pergi.
Tubuh Ririn terasa lemas, Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. "Kenapa hidupku jadi seperti ini? Dan kenapa aku tidak curiga sama Nadia! Jika memang tampan dan kaya, pasti Ia akan lebih dulu menginginkannya." Ucapnya dengan penuh penyesalan.