
Laras yang mendengar suara pintu terbuka sontak langsung bangun. "Mas!" Ucap Laras.
Berin langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya, dua langsung memegang tangan Laras dan mencium tangannya. "Iya sayang!" Ucap Berin sambil menatap wajah Laras yang masih tertutup perban di bagian matanya.
Laras nampak tertegun saat mendengar suara Berin yang tak dia kenali. "Kamu siapa?" Tanya Laras sambil mengepiskan tangannya.
"Sayang aku Jerry, pasti kamu merasa aneh dengan suaraku. Aku sedikit kurang enak badan karena terus mengkhawatirkanmu dan suaraku menjadi serak karena batuk." Ucap Berin mencari alasan.
"Benarkah itu kamu mas?" Tanya Laras kembali.
"Tentu saja Sayang, siapa lagi kalau bukan aku. Lagi pula dokter tidak akan mengizinkan siapa pun untuk masuk kalau bukan aku sendiri yang menemuimu!" Ucap Berin sambil tersenyum.
Laras merasa lega karena kecurigaannya ternyata salah. "Maafkan aku mas!" Ucap Laras.
"Iya sayang, tidak apa-apa." Ucap Berin.
Berin mengupas buah apel untuk Laras dan menyuapinya. Laras begitu bahagia dan memakan apel tersebut sampai habis. "Bagaimana rasanya, enak tidak. Apa kamu mau lagi?" Tanya Berin sambil mengelap bekas apel di bibirnya dengan tangan.
__ADS_1
Dia menjilat jarinya dan merasakan hal lain. "Aku ingin merasakan bibir tipis yang manis itu!" Gumam Berin sambil terus menatap bibirnya.
Berin langsung mendekati wajah Laras dan mendaratkan bibirnya di bibir Laras. Laras nampak terkejut dia langsung mendorong tubuh Berin. "Maaf mas, aku tidak bisa!" Ucap Laras.
Berin nampak kesal dan mengepalkan tangannya. Hatinya serasa penuh api dengan hasrat yang besar, dia mencoba menahannya dan mengambil nafas panjang. "Tidak apa-apa sayang, aku juga minta maaf!" Ucap Berin.
Laras nampak tertegun, dia merasakan keanehan dengan kecupan di bibirnya. "Kenapa rasanya berbeda dengan kecupan saat aku mau operasi!" Batin Laras sambil terus memikirkannya.
Dokter pun datang menghampiri mereka, dia memberikan kabar baik. Perbannya bisa di buka pada hari ini, dan Berin pun merasa bahagia.
"Akhirnya aku bisa melihat lagi!" Ucap Laras dengan nada bahagia.
"Selamat yah mbak, semoga mas Jerry bisa bahagia!" Ucap dokter sambil pergi meninggalkan mereka.
Laras nampak heran dengan ucapan dokter, dan melihat kearah berin yang ada disisinya. "Mas!" Ucap Laras.
Berin bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum. "Iya sayang, ini aku!" Ucap Berin.
__ADS_1
Laras nampak heran melihat wajah Berin karena wajahnya tidak seperti yang dia bayangkan. Berin menjentikkan jarinya di depan wajah Laras. "Loh kok bengong, kenapa kamu kecewa dengan wajahku?" Tanya Berin sambil melihat kearah Laras.
"Ti.. tidak mas, aku hanya terkejut melihat wajah kamu." Ucap Laras.
Berin memegang kedua pipi Laras dengan tangannya. "Sayang, kamu lihat aku. Aku selalu setia mendampingimu, tapi sepertinya kamu tidak menyukai wajahku." Ucap Berin sambil menatap wajah Laras.
"Bukan begitu mas, tolong kamu jangan bicara seperti itu lagi." Ucap Laras sambil memeluk Berin.
Berin nampak bahagia dan dia membalas pelukannya, hasratnya tidak bisa dia bendung. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya serasa sesak. Dia langsung mencium kening Laras dengan penuh nafsu, dia terus menciumi wajah Laras dan mendaratkan bibirnya di bibir Laras.
"Tolong jangan menolaknya kali ini!" Ucap Berin.
Meskipun hatinya merasa ragu, tapi apalah daya yang dia ketahui lelaki yang ada di hadapannya adalah kekasih yang sangat ia cintai. Laras membalas kecupan bibirnya, dia mencoba menahan meskipun permainan bibir Berin begitu kasar dan sering kali menggigitnya.
Laras merasakan kesakitan dan mendorong tubuh Berin. "Sakit mas, kenapa kamu tidak seperti dulu? Kenapa kamu begitu kasar dan memaksaku!" Tanya Laras dengan raut wajah yang heran.
Berin mengepalkan tangannya, dia nampak tertegun dan menatap Laras dengan tatapan tajam. "Ternyata Jerry benar-benar memperlakukannya dengan baik. Aku harus bersabar dan bermain cantik untuk membuat wanita ini percaya!" Batin Berin sambil menahan amarahnya.
__ADS_1