CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kegundahan hati


__ADS_3

Disaat Pak Candra danJeremy pergi bersama Sindy dan Rama untuk melakukan tes DNA. Tanpa di sadari, sepasang bola mata tengah memperhatikan mereka dengan senyum jahat terpancar dari bibirnya. Orang itu adalah Benny, ia tersenyum dan mengambil handphonenya di dalam saku celananya.


Telpon pun tersambung dan langsung terdengar suara dari balik telpon.


"Hallo!"


"Hay, sayang! Aku punya kabar buruk atau kabar baik untukmu!"


"Apa maksud kamu mas?" Tanya Sarah dengan nada tinggi.


"Aku melihat anakmu datang kemari, dia menceritakan semuanya dan mereka sekarang pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA." Ujar Benny.


"Maksud kamu Sindy!" Ucap Sarah dengan nada terkejut.


"Iya!" Jawab Benny sambil menganggukkan kepalanya.


"Biarkan saja dia, aku sudah punya rencana untuk menjauhkan sindy dari Jeremi." Ujar Sarah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tutup dulu telponnya!" Ucap Benny.


"Iya, kalau ada apa-apa tolong bilang aja sama aku!" Ujar Sarah.


"Oke, bay!" Ucap Benny sambil menutup telponnya.


Tempat Sarah...


Sarah nampak tersenyum sambil memainkan handphonenya, dia nampak menggigit bibirnya dan merebahkan tubuhnya. "Tidak sia-sia, ku korbankan tubuhku untuk mengendalikan Benny!" Ucap Sarah sambil menyunggingkan bibirnya.


Sarah membuka galeri handphonenya dan melihat foto sindy di layar handphone. "Sayang, maafin mamah karena kamu tidak akan pernah bisa bersatu dengan keluarga mu." Ujar Sarah sambil tersenyum.


Di rumah sakit...


Mereka akhirnya sampai, tempat dan rumah sakit keluarga Candra. Pak Candra langsung masuk ke ruangan dan menemui temannya. Dia mengatakan maksud ke datangannya. Setelah selesai mengobrol, dokter langsung mengajak Jeremi dan sindy untuk masuk ke ruangan.


Dokter langsung mengambil darah mereka satu persatu, dan setelah selesai Jeremi dan sindy keluar dari ruangan tersebut. Dokter menyusulnya keluar dan mengatakan kalau hasilnya akan keluar dalam waktu 3 hari.

__ADS_1


Pak Candra langsung tersenyum dan mereka pamit. Terlihat Sindy nampak ragu, dan keraguan itu terlihat dari wajahnya. "Kamu tenang saja! Semuanya pasti akan membaik." Ujar Rama memberikan support.


Sindy pun akhirnya tersenyum dan pamit kepada Pak Candra dan Jeremi. Jeremi nampak menatap wajah sindy dan mengecup keningnya. "Apapun hasilnya, aku akan menganggap mu sebagai anakku!" Ucap Jeremi sambil tersenyum.


Sindy nampak terharu dan matanya mulai berkaca-kaca. "Terima kasih om!" Ucap Sindy sambil memeluk Jeremi.


Tak terasa, air mata keduanya jatuh dan kehangatan ini terasa benar-benar berbeda. "Ya Allah, semoga saja anak ini benar-benar anakku!" Batin Jeremi sambil berdoa.


Pak Candra nampak tersenyum dan sama-sama berharap. Setelah cukup lama, akhirnya mereka berpisah dan pergi ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan, Jeremi mengendarai mobil sambil melamun. Pak Candra terus memperhatikan wajahnya. "Nak, kamu kenapa?" Tanya Pak Candra.


"Aku sangat berharap, sindy adalah anakku dan Riana. Aku tidak tahu, jika hasilnya malah sebaliknya. Aku tidak bisa membayangkan, harapan ku akan pupus dalam sekejap." Ujar Jeremi sambil meneteskan air mata.


"Iya, papah juga berharap sindy adalah anakmu. Dan cucu papah, tapi kita hanya bisa berharap dan Allah lah yang mengetahui semuanya." Ucap Pak Candra sambil mengelus bahu Jeremi.


Mata Jeremi mulai tertuju ke jalan yang ada di depannya. Dia menghentikan mobilnya dan menatap lekat-lekat wanita yang ada di depan jalan mobilnya. "Ririn!" Ucap Jeremi sambil mengerutkan keningnya.


Pak Candra terkejut dan menoleh ke arah yang sama. "Ngapain wanita itu berdiri di depan mobil kita, apa wanita itu sudah bosan hidup?" Ucap Pak Candra dengan nada kesal.

__ADS_1


Hay semua, dukung terus karya author. Dengan cara like, komen dan juga love. Semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan jejaknya.


__ADS_2