CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Masuk kembali


__ADS_3

Benny nampak kesal, mendengar ucapan Jeremi. Dia tak membalas perkataannya karena melihat Pak Candra, dan dia tidak mau di usir olehnya karena kata-katanya. "Iya, aku memanglah lelaki yang tak berguna. Aku hanya ingin papah menyayangi Berin anakku seperti papah menyayangi Jerry anak dari Riana." Ucap Benny sambil meneteskan air mata.


Ririn menghampiri dan mendekati Benny. "Mas, semua ini salahku! Andai saja aku tidak egois dan melakukan kebodohan waktu itu, mungkin Berin akan tetap bahagia bersama keluarga. Aku benar-benar menyesali semuanya!" Ucap Ririn sambil menangis.


Benny tak tega dan langsung memeluk Ririn dan Berin anaknya. "Ya sudahlah, lebih baik kita pergi saja dari sini! Aku tidak mau, kedatangan Berin malah membuat kesehatan papah memburuk!" Ujar Benny sambil menatap mereka berdua.


Pak Candra yang mendengar semua itu langsung terkejut dan menatap ke arah Benny. "Nak, jangan pergi dari rumah ini! Papah tidak keberatan Berin dan Ririn tinggal di sini lagi asalkan dengan satu syarat!" Ucap Pak Candra.


"Syarat?" Ucap Benny dengan nada terkejut.


"Iya, syaratnya kalian berdua harus menikah kembali. Papah tidak mau di rumah ini ada kumpul kebo." Ujar Pak Candra.


Benny yang mendengar semua itu nampak bahagia, dia mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya pah, aku akan menikah lagi dengan Ririn!" Ucap Benny sambil tersenyum dan bahagia.


Benny saat itu merasa sangat bahagia karena bisa berkumpul bersama keluarganya kembali. Tapi lain dengan Ririn, senyumnya nampak palsu dan raut wajahnya seperti tidak menyukai keputusan tersebut.


Benny yang menyadari semua itu, langsung bertanya kepada Ririn untuk keputusannya. "Bagaimana, apakah kamu bersedia menikah lagi dengan ku?" Tanya Benny sambil menggenggam Ririn.


Ririn terdiam dan menatap kearah berin anaknya. Terlihat berin menganggukkan kepalanya dengan wajah yang melas. "Baiklah!" Jawab Ririn.


Benny yang mendengar semua itu nampak bahagia dan langsung memeluknya dengan erat. "Terima kasih sayang, aku janji akan membahagiakan kalian dan tidak akan pernah membuat kalian bersedih lagi!" Ujar Benny.


"Iya mas, aku percaya!" Jawab Ririn sambil membalas pelukannya.

__ADS_1


Akhirnya Ririn bangkit dan menghampiri Pak Candra. "Pah, aku minta maaf atas semua perbuatan ku!" Ucap Ririn sambil tertunduk di depan kakinya.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Papah ingin kita menjadi keluarga yang seperti dulu." Ucap Pak Candra sambil mengelus rambut Ririn.


"Terima kasih pah, aku janji akan menjadi menantu yang baik untuk keluar ini!" Ucap Ririn kembali.


Ririn bangkit dan tersenyum, dia pun menyapa Jeremi. Tatapannya penuh cinta dan terlihat kerinduan melanda hatinya. Ririn langsung memeluk Jeremi dengan sangat erat, Jeremi terdiam dan menatap kearah Benny. "Jeremi aku minta maaf, karena aku anakmu jadi menderita." Ujar Ririn sambil menangis di pelukannya.


"Iya, tidak apa-apa!" Ujar Jeremi sambil mendorong tubuh Ririn.


Ririn nampak kecewa, pelukannya tidak di balas oleh Jeremi. Tapi hatinya bahagia, setelah sekian lama akhirnya dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Jeremi. Dia menatap Jeremi dengan penuh cinta dan harapan. "Semoga saja, hubungan kita bisa membaik lagu seperti dulu." Ujar Ririn sambil tersenyum.


Jeremi menganggukkan kepalanya dan tak mau ambil pusing lagi. Jeremi langsung membawa Pak Candra ke kamar untuk beristirahat. Tak lupa dia memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya. "Pah, minum dulu obatnya." Ujar Jeremi sambil menyodorkan obat di tangannya dan segelas air putih.


"Papah tenang saja, aku sudah mengenal Ririn. Jadi aku tidak akan mungkin berurusan dengan wanita seperti itu." Ucap Jeremi sambil tersenyum.


Pak Candra meminum obat dan menatap Jeremi. "Nak, bagaimana dengan Jerry? Hatinya pasti hancur mendengar keputusan papah!" Ucap Pak Candra dengan raut wajah cemas.


"Papah tidak usah pikirkan itu semua, biar aku yang bicara sama Jerry!" Jawab Jeremi.


Pak Candra menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia merebahkan tubuhnya dan Jeremi menyelimutinya. Jeremi langsung pergi meninggalkan kamar Pak Candra setelah pamit. Dia berjalan menuju kamar Jerry dan mengetuk pintu.


Tok...tok...

__ADS_1


Terdengar ketukan dari pintu kamar Jerry. Laras langsung membuka pintunya. "Oh, ternyata papah! Masuk pah." Ajak Laras.


Jeremi langsung masuk ke dalam dan melihat anaknya tengah duduk di sofa. Jeremi langsung menghampiri dan duduk di sampingnya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Jeremi sambil menatap wajah anaknya yang muram.


"Aku baik-baik saja pah!" Jawab Jerry sambil tersenyum.


"Baguslah, sayang boleh papah minta sesuatu sama kamu?" Tanya Jeremi sambil menatap wajah Jerry.


"Apa itu pah?" Tanya Jerry.


"Keikhlasan!" Ujar Jeremi sambil tersenyum.


Jerry dan Laras nampak mengerutkan keningnya karena tak mengerti dengan ucapan Jeremi. "Apa maksud papah?" Tanya Jerry.


"Papah tahu, kalian mengalami hidup yang sulit. Berin dan Ririn telah banyak membuat kalian menderita." Ucap Jeremi.


"Aku ngerti, kemana arah papah bicara! Tapi kami tidak mungkin bisa memaafkan Berin begitu saja, kejahatannya sudah benar-benar fatal." Ucap Jerry dengan nada kesal.


"Papah tahu, pasti sulit untuk kalian memaafkan nya. Tapi papah berharap kalian bisa lapang dada, dan mau menerima mereka kembali. Papah merasa kasian sama opa kalian, dia sudah tua dan sakit-sakitan. Papah tidak mau, kedatangan Berin dan Ririn menjadi beban pikiran untuknya. Apalagi mereka telah membuat kalian menderita selama ini." Ujar Jeremi dengan penuh kelembutan.


Jerry dan Laras nampak terdiam dan saling menatap. Terlihat Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah pah, aku akan berusaha dan mencoba. Ini semua ku lakukan untuk papah dan opa." Ucap Jerry.


"Terima kasih nak!" Ucap Jeremi sambil memeluk Jerry anaknya.

__ADS_1


__ADS_2