
Tak lama, akhirnya Billy sang asisten pribadinya datang dan langsung memberikan suntikan kepada Laras di bagian pahanya atas perintah dari Jerry.
Laras nampak memeluk Jerry dengan erat dan akhirnya tertidur. Jerry langsung bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Laras dengan selimut. "Good night sayang, semoga besok akan menjadi awal yang baru untuk kita!" Ucap Jerry sambil mencium kening Laras.
Jerry dan asistennya keluar dari kamar Laras dan mengunci pintunya dari luar. Dia pergi ke kamar sebelah untuk istirahat.
Keesokan harinya...
Laras nampak mengedipkan matanya saat cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Dia nampak merenggangkan otot-ototnya dan mengingat kejadian semalam. "Astaghfirullah!" Ucap Laras terkejut sambil melihat tubuhnya di balik selimut.
Laras merasa lega, tubuhnya masih berpakaian dengan lengkap dan dia bangkit dari ranjang. Dia mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Laras nampak dilema, antara mimpi atau nyata yang ada di pikirannya. Pengaruh obat perangsang membuatnya tidak bisa mengingat dengan jelas. "Aku bermimpi bertemu dengan mas Jerry, wajahnya begitu tampan dan mempesona." Ucap Laras sambil tersenyum.
"Itu semua bukanlah mimpi!" Ucap seorang lelaki dari belakang.
Lelaki itu masuk ke kamar Laras dan dia hanya bisa menganga. "Kamu..." Ucap Laras sambil menunjukkan jarinya.
__ADS_1
"Iya ini aku, Jerry!" Ucap Jerry sambil tersenyum.
Laras nampak bahagia, air matanya jatuh tak tertahankan. Dia langsung berlari dan memeluk Jerry dengan sangat erat. "Jadi semalam bukan mimpi!" Ucap Laras masih tak percaya.
Jerry mencubit pipi Laras yang nampak cabi. "Aw sakit!" Rintih Laras sambil menggosok bekas cubitan Jerry.
"Bagaimana, apakah kamu sekarang percaya?" Tanya Jerry.
Laras menganggukan kepalanya dan tersenyum. Dia meletakkan tangannya di wajah Jerry dan merabanya. "Iya, aku percaya! Ternyata wajahmu memang tampan, aku jadi minder Deket sama kamu." Ucap Laras sambil terus menatap wajah Jerry.
Pipi Laras nampak memerah mendengar ucapan Jerry. Dia hanya menundukkan kepalanya karena tersipu malu. Jerry Hani tersenyum melihat kekasihnya. "Sekarang kamu mandi gih, aku sudah siapkan pakaian untukmu. Jangan sampai si bandot tua itu datang lagi kemari!" Bisik Jerry.
Laras nampak membulatkan matanya mendengar bisikan Jerry. Dia merinding mengingat kembali dengan wajah Pak Broto. "Iiih!"Ucap Laras sambil menggetarkan tubuhnya.
Jerry nampak tersenyum melihat ekspresi wajah Laras. "Kamu kenapa?" Tanya Jerry.
__ADS_1
"Aku masih ngeri membayangkan wajah Pak Broto yang terlihat ingin menerkam!" Jawab Laras Sambil melihat kearah Jerry.
Jerry mendekati telinga Laras. "Bagaimana jika aku yang menerkammu?" Bisiknya.
Pipi Laras nampak memerah kembali mendengar ucapan Jerry. "Y..ya tetap saja aku tidak mau!" Jawab Laras dengan gelagapan.
"Yakin! Bukannya semalam kamu yang memaksaku untuk melakukannya. Coba kalau aku vidio, wajahmu benar-benar menggoda dan seperti wanita yang haus sex!" Ucap Jerry sambil menggoda Laras.
Laras nampak mengingat kembali kejadian semalam yang nampak samar. Pipinya pun memerah, dan dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku mau mandi dulu, ingat kamu jangan ngintip dan jangan tinggalkan aku!" Ucap Laras sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Apakah kamu mau aku bantu, aku ahli dalam urusan menggosok?" Teriak Jerry sambil menggoda Laras.
"Gosok saja otakmu, agar tidak berpikiran ngeres Mulu!" Jawab Laras dengan nada ketus.
Laras langsung masuk ke kamar mandi dan membuka pakaiannya, dua nampak berdiri di bawah shower yang menyala. "Bagaimana ini, aku malu bertemu dengan dia? Kejadian semalam membuat aku jadi minder dan dia terus memojokkan ku!" Ucap Laras sambil terus berpikir.
__ADS_1