CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Nyekar


__ADS_3

Setelah Jeremi merasa lebih baik dengan birahinya, dia langsung keluar dari kamar mandi dan segera menggunakan pakaiannya. Dua menatap foto Riana yang terpajang di meja kecil. "Sayang, andai saja kamu masih hidup! Mungkin kita akan menjadi keluarga yang bahagia dan sempurna." Ujarnya sambil memeluk pigura tersebut.


Akhirnya Jeremi terlelap dalam kerinduan, hari-harinya benar-benar terasa hampa setelah Riana meninggal. "Mas...mas...! Aku masih hidup." Terdengar suara wanita yang membuat Jeremi terbangun dari tidurnya.


"Riana..." Ucapnya sambil melihat sekeliling.


Jeremy duduk dan memandangi wajah Riana. "Ternyata ini semua hanya mimpi! Aku rindu sama kamu sayang, besok aku akan berjiarah ke makam mu." Ujarnya sambil tersenyum.


Keesokan harinya...


Jeremi tengah bersiap untuk pergi ke pemakaman, terlihat pakaian serba hitam melekat di tubuhnya. Sebelum pergi Jeremi pergi ke meja makan dan terlihat makanan ke sukaannya bertengger di atas meja. Jeremi nampak terdiam, dia melihat kearah Ririn. "Apakah semua makanan ini kamu yang masak?" Tanya Jeremi.


Ririn menggelengkan kepalanya dan mendelikan matanya. "Untuk apa aku capek-capek masak untuk lelaki seperti dirimu!" Jawab Ririn ketus.


Jeremi terdiam, terlihat Nadia menghampiri dengan membawa semangkuk nasi. "Ini semua aku yang masak mas!" Ucapnya sambil tersenyum.


Deg..Deg...

__ADS_1


Detak jantung Jeremi berdebar kencang melihat senyuman Nadia yang begitu mirip dengan Riana. Untuk mengalihkan perhatian, Jeremi langsung mengambil makanan yang sudah di siapkan di meja. Jeremi mencoba makanan yang di buat oleh Nadia. "Rasanya berbeda dengan pasakkan Riana." Batinnya.


Setelah cukup kenyang, Jeremi langsung bangkit dari tempat duduknya. "Terima kasih, masakan kamu enak! Oh iya, aku sekarang mau pergi. Tolong bilang sama mas Benny untuk pergi ke kantor." Ucap Jeremi meninggalkan pesan.


Nadia tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Iya mas, nanti saya sampaikan!" Jawabnya.


Ririn nampak tak suka melihat mereka berdua, tanpa sadar Ririn bangkit dan menggebrak meja dan melenggang pergi. Jeremi hanya menggelengkan kepalanya melihat Ririn pergi.


"Mas, kenapa dengan mbak Ririn?" Tanya Nadia sambil mengelus dadanya.


Nadia tersenyum kembali dan pergi. Jeremi juga pergi meninggalkan kediaman Pak Candra. Dia melajukan mobilnya dan tak lupa membawa bunga untuk nyekar ke makam Riana.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Jeremi tiba dan memarkirkan mobilnya. Jeremi keluarga dari mobil dengan nembawa bunga dan mengenakan kaca mata hitam. Dia nampak berjalan perlahan dan akhirnya sampai.


Jeremi membungkukkan tubuhnya dan mengelus nisan tersebut. Matanya nampak membulat, saat melihat nama di atas nisan tersebut. "Rika...!" Ucap Jeremi sambil berdiri kembali.


"Mungkinkah aku salah tempat, tapi aku yakin di sini adalah makam Riana! Tapi kenapa namanya menjadi Rika, memang benar aku sudah lama tidak nyekar ke sini tapi aku yakin di sini makam Riana." Ucapnya sambil melihat sekeliling.

__ADS_1


Jeremy benar-benar merasa heran dengan apa yang di dapati, Jeremi melihat sekeliling dan mencari makam Riana tapi hasilnya nihil. Untuk mengurangi rasa penasarannya, dia berjalan menuju tempat pengurus makam.


"Permisi pak!" Ucap Jeremi sambil berjalan masuk.


"Iya mas, silahkan masuk!" Ucap pengurus makam.


Jeremi duduk dan dia nampak bingung harus mulai dari mana. Pengurus makam mengawali pembicaraan. "Ada apa mas? Adakah yang bisa saya bantu?" Tanyanya.


"Begini pak, saya bermaksud untuk nyekar ke makam istri saya! Tapi pas saya lihat, kenapa tulisan di nisannya berbeda?" Ucapnya dengan penuh keheranan.


"Loh, kok bisa begitu! Coba beritahu saya, siapa nama almarhum istri anda?" Ucapnya sambil tersenyum.


"Namanya Riana dan mungkin sudah sekitar 20 tahun-an!" Ucap Jeremi.


Pengurus makam termenung, dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju rak buku. "Anda tidak perlu cemas, semuanya ada di buku ini!" Ucapnya sambil mengambil buku berukuran besar.


Pengurus tersebut, menanyakan kapan tanggal pasti dari kematian Riana dan Jeremi menyebutkannya. Setelah mencari cukup lama dan di tanggal yang sama, Pak pengurus nampak menggelengkan kepalanya. "Tidak ada mas! Tidak ada makam atas nama Riana." Jawab penjaga tersebut.

__ADS_1


__ADS_2