
Ririn pergi dengan membawa hasil tes kehamilan dengan hati yang penuh dengan kebencian dan kebimbangan. Tak terasa air matanya jatuh tak tertahankan karena meratapi nasibnya yang sial. "Kenapa ini semua harus terjadi?" Tanyanya dalam hati.
Ririn berjalan dengan langkah yang sempoyongan, dia berada dalam dilema karena tidak tahu, apa yang Berin katakan jika mengetahui dirinya sedang berbadan dua. Ririn nampak melintasi apotek, pikirannya mulai berputar. "Ini adalah cara satu-satunya, aku harus membunuh bayi sialan ini." Ucap Ririn sambil tersenyum.
Ririn langsung masuk ke dalam apotek, dia membisikkan pesanannya kepada pegawainya. "Saya ingin obat untuk aborsi!" Bisik Ririn.
Pegawai tersebut nampak terkejut dan membulatkan matanya. "Maaf Bu, disini tidak menjual obat seperti itu! Dan seharusnya anda bersyukur diberikan keturunan, banyak wanita yang menginginkan bayi tapi mereka belum bisa." Ucap pegawai apotek dengan nada tinggi.
Terlihat semua mata tertuju pada Ririn, wajahnya mulai memerah karena menahan rasa malu. "Kalau tidak ada, ya sudah!" Ucap Ririn sambil melenggang pergi.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sifat Ririn. Ririn berjalan kembali dengan langkahnya yang serasa sulit. "Bagaimana aku menggugurkan kandungan ini?" Ucap Ririn sambil meremas perutnya.
__ADS_1
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan mencari cara untuk menggugurkan kandungannya. "Oh iya, aku masih ingat ragi dan sprite!" Ucap Ririn sambil tersenyum.
Dia langsung pergi ke warung terdekat dan membeli kebutuhan untuk aksinya. Setelah beberapa menit, akhirnya dia kembali ke rumah dengan membawa barang yang dia butuhkan. "Oke, aku yakin dengan ini bayi sialan ini pasti akan mati!" Ucap Ririn sambil tersenyum.
Ririn langsung membuat racikan jahatnya, dia memasukan sprite dan ragi yang cukup banyak. "Selamat tinggal, bayi brengsek!" Ucap Ririn sambil meminum racikan jahatnya.
20 menit telah berlalu, rasa sakit di perutnya mulai terasa. Ririn nampak meringis kesakitan dan mencoba menahannya. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi dan merasakan rasa sakitnya. "Aaaaaah..." Teriak Ririn sambil memegangi bagian perutnya.
.....
Ririn yang mendengar suara Berin langsung mengambil nafas panjang. "Tidak apa-apa sayang, mamah hanya mual saja!" Teriak Ririn dari dalam toilet.
__ADS_1
"Iya mah, tapi tolong bila pintunya! Aku khawatir sama mamah." Ucap Berin sambil terus menggedor pintu.
Ririn nampak kebingungan, dia tak bisa berkata-kata lagi. Terlihat darah mulai keluar dan terlihat kakinya mulai memerah dengan darah. "Akhirnya penderitaan ku berakhir!" Ucap Ririn sambil tersenyum.
Berin tetap memaksa untuk masuk dan akhirnya mendobrak pintu toilet. Matanya nampak membulat melihat mamahnya berlumuran darah. "Mamah kenapa, apa yang terjadi?" Tanya Berin sambil menghampiri.
"Em, ini mamah sedang datang bulan. Dan kebetulan mamah tidak menggunakan pembalut dan terjatuh." Ucap Ririn dengan raut wajah meyakinkan.
"Apa mamah serius, masa datang bulan darahnya sebanyak ini!" Ucap Berin sambil mengerutkan keningnya.
"Iya sayang, coba bantu mamah! Mamah ingin membersihkan darahnya." Ucap Ririn sambil tersenyum.
__ADS_1
Berin menganggukkan kepalanya dan membantu Ririn untuk bangkit. Ririn membersihkan darah yang ads dikakinya dengan air. Sementara Berin langsung keluar dari kamar mandi karena merasa jijik melihat darah sebanyak itu.
Setelah selesai membersihkan darah dari kakinya, Ririn berjalan sambil membungkukkan badannya karena menahan rasa sakitnya. "Aku yakin, bayi ini sudah mati!" Ucap Ririn sambil tersenyum puas.