
Jeremi tertegun mendengar nama-nama tersebut. Jeremi langsung mengajak Irwan untuk pergi ke kamarnya. Dua tidak ingin mata-mata di rumah mendengarkan semua percakapan mereka.
Akhirnya mereka sampai di kamar Jeremi dan Irwan langsung duduk. Dia nampak mengeluarkan handphonenya dan memberikan bukti terhadap suntikan yang di berikan kepada Riana. "Apa ini?" Tanya Jeremi sambil mengambil handphone tersebut.
Irwan tersenyum dan duduk manis. "Lihat saja sendiri!" Jawabnya singkat.
Jeremi menonton video tersebut. Di dalam video terlihat Riana sedang berbaring dan 2 orang memaksa dan memasukkan suntikan terhadapnya. Riana nampak meronta-ronta tapi sayang tenaganya terlalu lemas.
Kedua orang itu nampak tersenyum dan membuka penutup wajahnya. Ternyata 2 orang itu adalah Sarah dan Benny. Tak terasa air mata Jeremi jatuh melihat istrinya sekarat. "Aku memang lelaki yang tak berguna!" Gumam Jeremi.
Didalam Vidio terlihat Riana sudah tak sadarkan diri dan Sarah tersenyum sambil memegang pipi Riana. "Maafkan aku kakak ipar! Ini semua bukanlah salahmu, tapi takdir yang salah menempatkan kita." Ucap Sarah.
Benny langsung menghampiri Riana dan memeluknya. "Sebenarnya aku sayang sama kamu, tapi sifat papah yang pilih kasih membuat aku jadi seperti ini." Ujarnya.
Benny dan Sarah langsung berciuman di depan raga Riana yang sudah tak berdaya. Tak lupa mereka melakukan aksi mesumnya di hadapan Riana. Mereka melakukan hubungan suami istri sambil tersenyum melihat wajah Riana yang sudah pucat. Setelah mereka puas, akhirnya mereka merapikan pakaian dan kembali ke Riana.
__ADS_1
"Riana kamu tenang saja, kamu hanya tidak bernyawa untuk beberapa saat. Tapi setelah kamu di kubur nanti, kamu akan menjadi mayat untuk selamanya." Ucap Sarah sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kejam, mereka benar-benar kejam. Dan kelakuannya benar-brnar menjijikkan." Teriak Jeremi dengan geram.
Irwan mendekati Jeremi dan menepuk bahunya. "Kamu lihat sendiri, bagaimana Riana menderita karena ulah adikmu." Ujarnya.
Jeremi menganggukkan kepala. "Iya, aku tidak bisa membayangkan betapa Riana ketakutan sat terbangun dia sudah berada di dalam tanah." Jawab Jeremi.
"Makannya dari pada itu, aku tidak ingin Riana menderita lagi. Jadi aku menginginkan Riana untuk menjadi milikku." Ucap Irwan.
"Dulu, sebelum Riana di kubur hidup-hidup. Tapi sekarang dia bukanlah Riana lagi." Jawab Irwan.
"Aku tahu, regina adalah Riana. Dari awal aku sudah menyadarinya." Ucap Jeremi.
Irwan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya itu memang benar! Tapi kamu tahu, sekarang kami sudah menikah untuk menutupi status Riana."
__ADS_1
"Dan aku juga sadar, Riana benar-benar sangat mencintaimu. Tapi aku yakin, jika kamu tidak menginginkannya dia pasti akan menjadi milikku untuk selamanya." Ujar Irwan kembali.
Jeremi kesal dan langsung menarik kerah bajunya. "Kamu tahu aku sangat mencintainya, cintaku begitu besar terhadapnya. Selama ini aku telah menahan birahiku hanya untuk setia kepadanya. Tapi setelah dia kembali, dengan mudahnya kamu ingin kalau aku menjauhinya." Gerutu Jeremi dengan geram.
Irwan masih tersenyum dan tenang. "Apakah kamu juga tahu? Selama ini aku mencintai Riana, tapi sayang dia lebih memilihmu. Tapi sekarang aku telah mendapatkannya dan jangan harap aku akan memberikannya kembali kepada mu." Jawab Irawan.
Jeremi tak bisa menahan emosinya lagi dan langsung memukul wajah Irwan dengan keras. Irwan tak melawan meskipun Jeremi menghujaninya dengan puluhan pukulan. Irwan berteriak memanggil nama Regina.
Regina datang dan langsung memisahkan mereka. Tatapan regina terhadap Jeremi, penuh dengan rasa kecewa dan matanya mulai meneteskan air mata.
"Mas, kenapa kamu melakukan ini?" Teriak Regina.
"Dia sengaja memancing amarahku, dia dengan mudahnya meminta kamu dariku." Teriak Jeremi.
Regina terdiam dan menatap Irwan yang sudah tak berdaya di lantai. "Apakah itu benar?" Tanya Regina dengan lembut.
__ADS_1
Irwan menggelengkan kepalanya. "Jeremi berbohong, dia dengan jelas berkata ingin memilikimu dan aku harus meninggalkanmu. Dan dia juga mengatakan, kalau aku tidak melepaskan mu maka dia akan membunuhku." Jawab Irwan dengan tatapan sendu.